Tidak Takut Berbuat Kesalahan


Pembelajaran yang saya dapatkan dari psikodrama yang telah dilakukan yaitu saya menjadi dapat mengenal diri saya sendiri lebih dalam seperti menyadari keberadaan saya dengan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari saya, tanggung jawab saya, dan melihat pada diri sendiri apa yang salah dengan saya terlebih dahulu bukan menyalahkan orang lain. Kegiatan tersebut juga membuat saya menjadi lebih percaya diri dan lebih berani untuk mengemukakan pendapat saya karena secara tidak langsung dipaksa untuk berbicara dan melakukan hal-hal yang diluar dari zona nyaman saya. Lanjutkan membaca “Tidak Takut Berbuat Kesalahan”

Saya Flashback pada Masa Kecil, Psikodrama di Surabaya


Tanggal 25 Oktober 2016 pukul 08.00 WIB, saya mengikuti kelas Psikoterapi dan Rehabilitasi. Hari itu kuliah sedikit lebih spesial karena kelas diadakan sampai sore dan mengundang dosen tamu. Materi perkuliahan pada hari itu adalah Psikodrama, waktu saya mendengar psikodrama saya langsung teringat ketika saya bertemu dengan Ki Heru Cokro untuk penentuan pemain panggung boneka milik fakultas. Saya dan teman-teman diminta untuk membuat serangkaian cerita menggunakan benda-benda yang digunakan sehari-hari dan tidak boleh menjadi benda itu sendiri. Namun ternyata, psikodrama sedikit berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Lanjutkan membaca “Saya Flashback pada Masa Kecil, Psikodrama di Surabaya”

Senang dan Lega setelah Kelas Psikodrama


Pada hari Selasa, tanggal 25 Oktober 2016 saya mengikuti kelas psikodrama mulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Sebelum saya berangkat saya berpikir bahwa kelas psikodrama akan membosankan dan menuntut untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak biasa saya lakukan. Oleh karena itu, awalnya saya merasa khawatir dan kurang semangat mengikuti kelas ini. Namun, ternyata setelah saya datang pada pagi itu, saya mengikuti kelas dan ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Kelas psikodrama yang dibawakan oleh Pak Adi terasa menyenangkan dan saya cukup senang mengikutinya. Di awal sesi, saya melakukan sosiometri dan hal – hal lainnya yang melatih saya untuk lebih berani mengekspresikan diri, yang mana tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya merasa menjadi diri yang berbeda ketika mengikuti kelas ini, dimana saya merasa lebih berani, percaya diri dan bisa lebih dekat dengan teman-teman. Lanjutkan membaca “Senang dan Lega setelah Kelas Psikodrama”

Pembelajaran Selama Mengikuti Kelas Psikodrama


Saya akan menceritakan kisah ketika saya mengikuti kelas psikodrama seminggu yang lalu. Awalnya saya berfikir kalau kelas psikodrama adalah kelas akting, dimana kami semua akan diberikan sebuah naskah dan mempraktekkan isi dari naskah tersebut. Namun ternyata apa yang saya pikirkan itu berbeda dengan yang terjadi saat kelas psikodrama, disana kami diminta untuk membuat sebuah gaya pohon yang berbeda dan tidak boleh sama satu sama lain. Awalnya saya merasa canggung dan malu untuk berpose seperti pohon, namun ketika saya melihat teman-teman melakukannya saya pun mencoba menyingkirkan perasaan malu dan mencoba masuk dalam psikodrama tersebut. Lanjutkan membaca “Pembelajaran Selama Mengikuti Kelas Psikodrama”

Tugas Refleksi Kelas Psikoterapi dan Rehabilitasi – Kelas Psikodrama


Pada kelas psikoterapi dan rehabilitasi kali ini, saya memulai hari cukup pagi karena pada jam 8 pagi akan ada kuliah tamu psikodrama dari bapak Retmono Adi yang berasal dari luar kota. Pada awalnya saya pikir saya datang cukup telat dibandingkan dengan teman-teman lain, tapi ternyata saya datang pertama sebelum mereka. Pemikiran tersebut muncul karena biasanya pada jam pagi selalu terjadi kemacetan di jalan yang saya lalui. Sesampainya di kelas, saya langsung membantu ibu Erlyn mempersiapkan segala keperluan untuk kelas nanti. Lanjutkan membaca “Tugas Refleksi Kelas Psikoterapi dan Rehabilitasi – Kelas Psikodrama”

Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama


Selasa, 25 oktober 2016, aku melangkahkan kaki menuju lantai 10.. Awalnya aku merasa ogah untuk melangkahkan kaki di ruang relaksasi, 8 jam harus berkutat materi, sepintas itu yang terbayang dibenakku. Meski terpaksa, aku meyakinkan diri, semua akan berjalan menyenangkan (nggarepnya sih gitu). Pak Didik, begitulah aku memanggilnya, lengkap dengan ekspresi datarnya. Lewat beliau, aku menemukan istilah baru yang tidak pernah kudengar. Lewat beliau, aku meraih ilmu yang tak pernah kutau (agak alay kayaknya hehe). Menit demi menit berlalu, aku terlarut dalam tawa bersama mereka. Kami berbagi tentang apapun yang telah berlalu dan berlangsung. Menit demi menit berlalu, aku bahagia menghabiskan waktu bersama mereka. Lanjutkan membaca “Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama”

3 Hal yang Perlu Ada Dalam Latihan Teater dan Saran Menulis yang Lebih Baik


Beberapa hari yang lalu, temen KRST (Keluarga Rapat Sebuah Teater) sebuah kelompok teater Kampus di Fakutas Psikologi UGM, Yogyakarta, mengadakan latihan rutin. Ada pernyataan bahwa latihan rutin kurang diminati, kebanyakan berharap latihan untuk pentas alasannya sudah jelas naskah dan perannya.

Memang beda antara latihan rutin dengan latihan untuk persiapan Pentas, (mengenai bedanya, nanti akan dituliskan pada kesempatan lain). Tulisan kali ini mengungkapkan beberapa kesamaannya.

Ada 3 hal yang perlu dipastikan dalam berlatih teater baik waktu latihan rutin maupun latihan untuk persiapan Pentas, yaitu : Lanjutkan membaca “3 Hal yang Perlu Ada Dalam Latihan Teater dan Saran Menulis yang Lebih Baik”

Aku Bicara Mengenai Berkarya


Aku bukanlah dewa, yang selalu benar dalam berkata-kata.
Banyak hal aku juga belum tahu, terutama tentang jaman dan generasimu,
selain itu ….
banyak fakta kudapat di waktu dan tempat yang berbeda denganmu
Maka…
Aku bicara mengenai berkarya
Bila kata kataku menjadikan sulit ,..lupakan saja,…
Bila menjadikan lebih mudah dan kalian makin percaya diri…
sesuai dengan gaya dan cara mu,…
Itu harapku,…
Karena aku juga belum tentu mampu berkarya seperti mu,…

 

Yogyakarta, Juni 2016

Adrenalin #11 Life Career Employee Faith


Monday, 14 March 2016

Pagi ini aku menggunakan rok mini terusan yang jarang kupakai. Aku harus cukup yakin kalau badanku belum melar dan masih bisa mengenakannya. Tak hanya yakin dengan badan sendiri, tapi juga tahu ada momen apa yang segitu pentingnya sampai harus mengenakannya. Aku berjalan dengan santai dan tanpa beban menuju kantor. Percaya diri.

Aku menghadiri meeting pagi. Pikiranku terus berkecamuk tentang wawancara siang nanti di perusahaan multinasional asal Eropa. Apa alasan yang harus kusampaikan ke bos untuk ijin dari jam 11.30 – 3 sore.. Aku sakit perut, rasanya mules dan ingin sekali pergi ke WC. Degup jantungku berbunyi kencang sekali. Kalau kudekatkan ke sisi meja, aku bisa merasakan meja bergetar karenanya. Aku bisa mendengar bos atas bos ku berbicara memberi masukan, apa yang menjadi harapannya atas report yang diberikan. Nadanya menyakinkan. Bahasa inggrisnya lancar. Dia seorang Belanda berambut pendek, pirang dan keriting.

Akhirnya  meeting selesai juga. Jantungku bukannya berhenti tapi semakin berdegup keras. Semua kerjaan harus selesai dalam minggu ini. Aku merasa gagal tidak dapat memenuhi semua tenggat waktu yang telah ditetapkan.  Pikiranku terus berkecamuk antara menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, dan wawancara yang akan kuhadiri dari jam 11.30 siang ini.

Aku putuskan untuk tinggalkan dulu semua pekerjaan, ku ambil tas dan cepat-cepat keluar dari kantor lalu pergi. Aku berjalan penuh kepercayaan diri, namun wajah berkerut 27 kerutan. Jantung tak henti-hentinya berdegup kencang sekali. Kepala sakit. Adrenalin naik. Sesampainya di tempat yang telah dijanjikan oleh Head Hunter, aku tak langsung menemui mereka. Aku menuju kamar mandi untuk merapikan diri, melihat diri ke kaca dan berkata, “aku bisa melewati semua ini”.

Ngobrol setengah jam lebih dengan 3 orang dari Head hunter di salah satu coffée  shop. Aku berbicara, seolah-olah lupa dengan beban yang sebelumnya kubawa.

Setelah dari Head Hunter, aku menuju kantor perusahaan tempat aku diberi pekerjaan untuk menemui user nya. User nya menemuiku tepat jam 1. Dia bertanya dalam bahasa inggris dan aku mampu menjawabnya penuh kepercayaan diri. Aku tak menyangka aku bisa mengeluarkan semua kemampuanku. Ibarat  dalam keadaan bahaya, manusia mampu melampui segala batas kemampuannya untuk bertahan hidup.

Sepulang dari interview, perasaan mulai bergejolak lagi. Aku mencari makan apa saja, agar menjaga aku  kembali dengan kekuatan tubuhku sendiri. Setidaknya tidak sampai pingsan. Lemas sekali rasanya. Aku duduk dengan tenang di taxi, tanganku beradu berulang kali kutekan-tekan. Berkali-kali aku mengambil nafas panjang. Aku telat balik ke kantor. Ada meeting lagi jam 3. Kerjaan belum selesai. Di ruang meeting, bos menegur, “Kok lama banget sih?”

Aku baca email dari bos untuk revisi kerjaan. Kerjaan yang baru kuselesaikan sabtu kemarin dengan menghabiskan waktu seharian. Sakit kepala lagi. Pekerjaan yang lain belum selesai, pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh bosku ditambahkan lagi. Semua soal deadline. Hari ini harus dikumpulkan. Adrenalinku naik lagi. Badanku lemas sekali. Aku ingin teriak, mengeluarkan semua yang ada di kepalaku. Emosiku memuncak.  Tak mampu kutulis semua yang harus kukerjakan.

Aku belum pernah merasakan hal ini. Jiwa terasa terangkat dari tubuh. Kaki inginnya bergoyang terus. Kepala penuh. Ini rasanya seperti bertahan hidup disaat semua tubuh sudah tak mampu bertahan dan hanya ada beberapa menit untuk menyampaikan pesan terakhir sebelum tumbang. Apakah ini yang aku inginkan? Apakah ini yang harus aku lewatkan sebelum hal besar terjadi? Atau ini hanyalah rekaan pikiranku saja? Berulang kali aku mengambil nafas panjang. Berusaha menenangkan diri. Ini hanya sementara. Ini hanya sementara.

 

SJU

PENGAKUAN DIRI #Goresanku 127


Kupu-kupu adalah makhluk yang terkenal dengan sayap cantiknya,
Dikagumi oleh banyak orang di seluruh penjuru dunia.
Kupu-kupu mati kerap diawetkan,
dipamerkan untuk dinikmati keindahannya.
Tetapi kupu-kupu itu tidak pernah menyadarinya,
Karena dia tidak pernah bisa melihat keindahan sayapnya sendiri.
Demikian pula dengan sebagian besar manusia,
Merasa tidak percaya diri dengan kecantikan dan daya tariknya,
Mencarinya ke luar sana,
Sibuk membandingkan diri dengan yang lain,
Berusaha menambahkan berbagai aksesori agar lebih menarik,
Padahal kecantikan sejati,
Justru ada di dalam dirinya sendiri,
Rahasia besarnya:
Apa yang dia percayai tentang dirinya sendiri,
Membuat orang lain mempercayai hal yang sama.
Caranya memperlakukan dan menghargai diri sendiri,
Mengajarkan kepada orang lain untuk memperlakukannya demikian juga.
Ketika yakin,
bahwa dia unik, istimewa dan tiada duanya.
Diciptakan Tuhan satu-satunya di dunia ini,
Dicintai-Nya secara sempurna –apa adanya-
Dia berharga,
Bahkan dia bisa menjadi apa pun yang dia percayai….
Maka rasa percaya diri, kecantikan sejati dan daya tarik tertinggi terpancar secara natural.
Sadarkah kita akan hal ini?

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty