Terapi Menulis #02 Ia Semakin Mengerti Tanda-tanda Orang…..


oleh Ayati Rini

“Jangan tuliskan apa-apa. Aku tidak ingin ketahuan. Jangan katakan apa-apa. Jangan temukan aku. Jangan ceritakan. Ujarkan pada dirimu sendiri. Kalian menyedihkan. Tidak mau. Aku takut dengan kalian.”
Ia meracau sendiri sembari menangis dengan lebih keras dari biasanya siang itu. Sebelumnya, ia memainkan melodi keyboar di kunci minor. Lantunan musik dan puisi sedih membawanya pada air mata, hingga ia mencoba membuka pintu itu. Pintu itu diganjal dari dalam; gelap dan tak terlihat apapun. Ada sesuatu–atau bahkan seseorang–di dalam sana. Ialah Sang Penjemput yang telah Warni ketahui juga bahwa keadaannya pun tidak baik-baik saja.

Warni tidak berani melakukan apa-apa, ia melangkah ke lantai dua untuk melanjutkan tangisannya dan meracau lebih hebat. Ia tahu bahwa dirinya harus menulis atau menghubungi orang yang lebih mengetahui bagaimana ia harus bertindak, namun dirinya menolak untuk itu. Kegelisahan yang ada di dalamnya menolak untuk diidentifikasi dan ditenangkan. Ia masih ingin memuaskan dirinya dengan merusak tubuh yang ditinggalinya semakin dalam.

Maka ia menghubungi kekasihnya yang selanjutnya mendengarkan, mencoba membantunya menarik napas panjang, dan membantu menguatkannya untuk kembali beraktivitas sebagaimana seharusnya. Warni mengikutinya, meski ia masih resah karena Sang Penjemput dan seorang lainnya telah ia ketahui sedang tidak baik-baik saja. Warni mencemaskan mereka berdua. Sejak Warni memasuki masa-masa ini, tampaknya kepekaannya semakin meningkat. Ia semakin mengerti seperti apa tanda-tanda orang yang sedang baik-baik saja dan seperti apa tanda-tanda orang yang sedang tidak baik-baik saja.

 

&&&&&&&

 

*Tulisan diatas merupakan proses konseling lanjutan. Ada teman ingin bertemu dengan saya minta konseling, dan saya menawarkan terapi menulis ini. Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga disamarkan. Dasar Teorinya  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Cerita Mawar #part 10 Perjamuan Kudus Pertama


Aku melakukan pengakuan iman percaya pada tanggal 2 desember 2018, dan aku mendapatkan perjamuan kudus pertama pada 20 Januari 2019. Aku tidak mengambil formulir jemaat perjamuan kudus yang mestinya aku isi. Aku tidak mengisi formulir dan berniat tidak mengambil perjamuan karena aku memang tidak mau. Aku merasa belum pantas, siap dan layak secara iman. Asher atau penerima tamu di gereja berkata kepadaku bahwa ada perjamuan kudus… aku menjawab ya aku tahu dan aku tidak mengambil. Asher akhirnya mempersilahkan aku masuk ruang ibadah kebaktian.

Aku sangat sedih sekali secara tiba-tiba karena lagunya yang menyadarkan aku bahwa percaya pada kuasa Tuhan dan berserah padanya. Entah kenapa air mataku sempat keluar 3 tetes saat menyanyi karena efek lagu. Aku merasa sedih sekali dan menyesal bahwa tidak mengisi formulir dan merasa tidak siap untuk periode tersebut.

Setelah menyanyi kami pun lanjut ke pembacaan Alkitab. Hal yang ditegaskan sangat adalah percaya kepada Tuhan sepenuhnya, berserah kepadanya, percaya bahwa Tidak ada yang kebetulan. Semua adalah rencana Tuhan yang selalu ada hubungan di setiap peristiwa, dan juga pecaya Tuhan bekerja.

Perasaan sedihku tiba-tiba hilang dan merasa bahagia, puas, dan juga tenang saat pendeta saat khotbah berkata “kecemasan orangtua masa kini terutama bagi anaknya yang remaja adalah berteman dengan Atheis”, memang tidak dapat dipungkiri bahwa nanti akan ada efeknya pada anak tersebut, NAMUN yang paling berbahaya adalah ATHEIS LATEN yaitu dari dalam diri anak tersebut. Atheis laten adalah kondisi anak percaya ada Tuhan, kuasa ilahi yang lebih besar namun tidak percaya akan cara kerjanya. Ya intinya merasa lebih baik masih percaya Tuhan ada namun tidak percaya bagaimana cara kerjanya.

Bukan perkara ada kemungkinan bahwa aku terasuk kategori atheis laten namun, jika dihubungkan dengan kesiapanku mengikuti perjamuan kudus, terlebih aku saja pengakuan iman karena terpaksa dan sudah bertekad tidak akan ambil perjamuan hingga aku siap, cukup membuat aku agak tenang karena keputusanku tepat dalam artian tidak mendaftar dan mengambil perjamuan karena aku terbesit adakalanya aku menjadi atheis laten. Ya intinya aku masih belum siap perjamuan kudus, perjamuan kudus itu suci bukan AJANG kedewasaan usia maka IMANMU juga dewasa, sedangkan dalam keluargaku aku merasa perjamuan itu ajang lomba dewasa iman.

Aku sempat tertawa dalam hati mengingat interview gerejawi sebelum pengakuan iman, aku membayangkan jika diriku adalah seorang tidak percaya sepenuhnya alias laten tadi namun meminta pengakuan iman percaya, bahkan kitab suci pun aku anggap seperti buku sejarah yang ada benarnya dengan masa kini. Bagiku yang terpenting saat ini adalah cita-citaku, mengikuti norma di dunia dan terus berkarya- bermanfaat bagi sekitar. Perkara apakah akan tetap menjadi pribadi atheis laten atau tidak bisa diubah asalkan aku berkomitmen sungguh untuk terus mencari tahu dan memahami akan apakah itu Tuhan dan juga iman.

Aku ada alasan besar yang membuat aku bertekad tidak akan ambil perjamuan kudus dan cukup critical buatku. Hal ini adalah perkara perang melalui tradisi budaya yang ilogical, misalnya di rumahmu ada pasir banyak sekali tidak ada habisnya bahkan parahnya, masih tetap kotor walaupun tiap 1 jam disapu dan dipel sehari 3x, dan saat tanya ke spiritualis yang bisa melihat mistis begitu ternyata itu adalah pasir kuburan (untuk mematikan bisnis dan perekonomian).

Hal terbaru adalah di bak mandi rumah kakakku Boyo ada pasirnya banyak sekali dan juga tiba tiba ada seperti kayu ranting pohon kecil namun, kata ibuku itu adalah ular kecil dan akhirnya akupun lempar garam dapur ke bak air tersebut dan anehnya tiba-tiba seluruh pasir dan ular kecil itupun hilang. Saat coba dicari ke browser ternyata itu tujuannya membuat buta dsb, namun saat tanya ke spiritualis itu ternyata adalah gaib dengan tujuan jika kakak iparku (hamil lagi 3 bulan, anak pertama usia 8 bulan) melihat dapat membuat keguguran dan hal buruk lainnya.

Hal yang paling menyakitkan lagi adalah risiko kematian gak jelas kepada keponakanku yang masih bayi sangat ilogical. Bagiku keponakanku adalah segalanya bagiku, karena dialah motivasiku ambil bidang minat perkembangan psikologi terutama anak-anak dan dunia keluarga NAPZA. Keuntungan dari perang budaya adalah keluarga bisa bersatu akur tidak ribut dan saling teriak dan membentak pada seluruh anggota keluarga (kecuali kakak iparku). Kerugiannya adalah fisik dimana capek bersihkan rumah, belum lagi rumah disiram air beras dengan berjalan mundur (padahal rumah tingkat), iman juga terusik.

Bagiku aku siap saja perjamuan kudus walaupun dulu terpaksa pengakuan iman, aku mau dan bersedia, namun dengan kondisi demikianlah yang membuat aku ragu dan memilih untuk berkelana mencari ilmu mengenai Tuhan. Bahkan aku sempat terbesit untuk ambil psikologi transpersonal yaitu psikologi dan dunia rohani. Ya hidup adalah proses… tiap orang bisa berubah…

Trima kasih telah membaca…

bersambung……..

Januari, 2019

Sebut saja Namaku Mawar

 

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Cerita Mawar #part 07 Terpaksa 01 Minggu yang Ekstrim


Pernahkah Anda berada dalam satu minggu yang penuh dengan distress, kejutan (bukan ulang tahun), pengambilan keputusan segera, prediksi masa depan kacau (putus kuliah, menjadi tulang punggung, knowledge-skill terbatas, masuk berita nasional). Izinkan aku untuk memberi penjelasan apa yang dimaksud sebelumnya.

Aku berada pada keluarga kristen protestan, aku di baptis anak saat bayi dan melakukan pengakuan iman tanggal 2 desember 2018. Baptis bayi ini menandakan orang tua menyerahkan anak kepada Tuhan, sedangkan pengakuan iman menandakan anak yang mengaku percaya sendiri di hadapan Allah bukan lagi karena orang tua. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 07 Terpaksa 01 Minggu yang Ekstrim”

Cerita Mawar #part 06 Pantaskah Aku Menyerah ?


Setiap orang di dunia ini pasti memiliki masalah yang beragam tentunya. Setiap orang juga memiliki keterampilan yang berbeda untuk mengatasi masalah tersebut. Pernahkah Anda mengalami stres dan seluruh dunia terasa tidak membantu?

Mari aku coba perjelas dengan topik psikologi dan adat atau aliran kepercayaan. Aku coba berikan contoh hal yang pernah terjadi dalam dunia kerja profesional.

Suatu ketika di suatu perusahaan perkapalan dan kontainer yang cukup ternama di Surabaya, ada seorang staf di perusahaan tersebut, beliau adalah kakak sepupu, sebut saja namanya Coco. Coco saat dunia perkuliah masuk dalam daftar mahasiswa paling TOP saat wisuda bahkan mendapatkan beasiswa S2 sepengetahuanku untuk fakultas bisnis, namun beasiswa di tolak dan pilih bekerja. Pekerjaan sederhana yaitu Bank dan berpindah tempat kerja menjadi di perusahaan kapal dan kontainer.

Coco sangat rajin, gigih, siap sedia. Hal yang paling menyakitkan adalah tidak bisa kumpul keluarga terutama keluar kota karena pekerjaan. Coco, karena profesionalpun naik pangkat terus bahkan memiliki asisten dan dipercaya oleh pimpinan perusahaan.

Coco mengalami pengalaman buruk saat bekerja yaitu rekan kerja yang iri, bahkan ada rekan kerja yang berusaha PDKT hanya karena kaya raya (gajinya cukup selangit saat itu), bahkan asistennya sendiri bersama rekan kerja lain menjegal Coco.

Mohon maaf jika aku menjelaskan kelanjutan dengan psikologi non ilmiah karena inilah realita. Awalnya kak Coco dikirimi penyakit GBS dan berada di RS selama 1 bulan penuh di kamar perawatan VIP, seingatku peristiwa tersebut terjadi tahun 2016 saat bulan puasa. Hingga akhirnya dibawa ke RS lain dan akhirnya riwa-riwi alias bolak balik ke RS.

Banyak kenalan dari keluarga besar yang berusaha membantu secara spiritual (upaya pembersihan semacam rukyah) namun selalu di isi (guna-guna) kembali bahkan lebih banyak.

Keluarga besarpun memutuskan untuk doa bersama ( doa islami) dan upaya itu sedikit berhasil, yang membuat keberhasilannya sedikit adalah saat doa, kak Coco mengalami rintihan kesakitan hebat dan keluarga tidak tega serta berakhir pada berhenti doa.

Hal yang membuat kelelahan fisik dan psikologis adalah orang jahat tersebut/ rival malah menguna-guna siapapun yang membantu kak Coco. Tujuan utama Rival adalah agar Coco berhenti bekerja dan Rival dapat perhatian dari pimpinan dan juga tentunya naik gaji.

Aku lupa kejadiannya seperti apa misal (dikirim pasir kuburan) jadi rumah kotor berpasir terus, namun yang aku ingat sempat menggunakan keris juga. Jadi keris disiram air panas, lalu setiap pintu diberi tanda silang menggunakan keris, siram air beras, bahkan menggunakan porcelin dengan cara di tuangkan di seluruh area luar seperti teras dan garasi.

Hal ini terjadi dirumahku karena keluargaku terus mencari spiritualis untuk menyelesaikan ini tanpa mengirim kembali (guna-guna tersebut.) Bahkan ada yang memberikan info bahwa rival membayar dukun berapapun asalkan Coco meninggal (mungkin santet).

Hal ini terjadi karena walaupun kak Coco sakit tetap dibayar perusahaan meskipun sedikit, bahkan kak Coco sempat diminta masuk ke kantor (yang tugasnya lebih ringan dari sebelumnya) untuk (semacam formalitas).

Jalan Tuhan sungguh luar biasa meskipun sudah 1 tahun Coco sakit perusahaan tetap menghargai Coco.

Cocopun akhirnya memilih resign, tidak mendapatkan gaji dan juga teror rival untuk siapapun yang membantu berhenti, (sepertinya santet sudah berhenti) untuk kak Coco secara imun juga sudah buruk dalam artian sel darah merah sering drop dan tambah kantung darah.

Cocopun dengan kondisi demikian diberikan petunjuk dari Tuhan berupa salah satu keluarga dari keluarga besar mau merawat Coco. Pada saat itu juga seingatku ibu kak Coco juga terkena kanker serviks sekitar 2017 dan baru saja meninggal dunia tepat saat natal 2018 ini.

Pada saat kondisi kritispun hanya Coco dan keluarga besar bergantian jaga di rumah sakit (Coco memiliki 1 kakak namun entahlah tidak ada kabar). Ibu Coco meninggal dunia sekitar jam 5 atau 6 pagi, dimakamkan sekitar jam 1 siang di kolom makam kakek.

Kakek sudah meninggal sekitar tahun 1998 atau 1999 dan saat ibu kak Coco akan dimasukan ke kolom, ditemukan kondisi jenazah kakek masih utuh. Menurut juru kunci hal ini disebabkan kakek baik di dunia.

Dan setelah pemakaman rival tersebut datang dan bercerita setelah Coco resign seluruh pekerjaan Coco diberikan ke rival tersebut, tidak diberi gaji tambahan dan juga asisten. Cocopun tersenyum kecil dan teringat kalimat GUSTI ORA SARE.

Dari kisah ini aku mendapatkan pelajaran bahwa kita musti terus berusaha, berdoa pada Tuhan YME, dan juga berbuat baik untuk mengumpulkan amal dan ibadah. Terima kasih telah membaca…

 

bersambung…..

 

Sebut saja Namaku Mawar

 

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu