Indikator Emosi ( tulisan ke 1 seri mengenal Rahasia Bahasa Emosi )


Ketika pertama kali anda membeli mobil, seorang sales mobil akan menjelaskan pada anda arti setiap tanda pada dashboard mobil anda. Apa artinya lampu yang menyala, di mana letak tombol untuk tujuan tertentu dan apa yang harus dilakukan bila muncul tanda-tanda seperti indikator lampu merah, kedipan atau suara-suara yang berbeda dari biasanya. Lanjutkan membaca “Indikator Emosi ( tulisan ke 1 seri mengenal Rahasia Bahasa Emosi )”

Wajah Psikososial dari Tele #Tulisan 05 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Wajah Psiko-Sosial dari Tele

Tele adalah ekspresi dari bagian pikiran yang lebih berkaitan dengan keinginan, hasrat, dan niat daripada dengan pemikiran rasional. (Istilah teknis untuk kategori ini adalah “konasi,” berbeda dengan “kognisi,” yang melibatkan berpikir, mengingat, memahami, dan mengoordinasi.). Tetapi kedewasaan melibatkan membawa kognisi ke proses perasaan ini, sehingga gagasan dan keyakinan menjadi melekat pada apa yang semula hanya kesan dan intuisi. Lanjutkan membaca “Wajah Psikososial dari Tele #Tulisan 05 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Aku Kesulitan untuk Membuat Keputusan


Aku mengalami distorsi kognitif. Aku kesulitan untuk membuat keputusan. Aku memiliki tugas psikologi bermain dan pengolahan PAUD.

Satu kelompok 4 orang. 1 dari 4 tidak kontribusi. Tugasnya dia dari 3x print file mulai dari tugas perdana sampai revisi ke 2, dia hanya print tugas perdana. Sebenarnya semua berperan dalam membuat paper beserta revisi, namun 1 anak ini tidak kontribusi apapun dalam membuat paper, hanya print saja.

Hal yang mengecewakan adalah dia selalu saja alasan untuk tidak membantu. Bahkan dia sudah absen beberapa kali di kelas. Aku kecewa sekali dengan permintaan bantuan untuk tugas yang harus sudah dikumpulkan besok pagi, dia hanya menambahkan 1 paragraf.

Dari hasil analisis sudah dijelaskan masalahnya apa, eh dia malah membuat 1 paragraf baru. Tulisannya seperti ini: Gap: menurut permendikbud nomor… tahun… dituliskan perlu media dari guru untuk pembelajaran. Padahal sudah jelas di paragraf sebelumnya isinya mulai dari gap hingga solusi. Aku juga minta dia untuk bantu lanjutkan membuat rancangan pembelajaran harian malah alasannya dia membuat proposal, padahal ada juga teman di kelompokku yang mengerjakan proposal malah di minta oleh dosbing proposal untuk menunda pengerjaan proposal karena ada tugas lain yang batas pengumpulannya lebih dekat. Bagiku sudah luar biasa jika sampai dosbing proposal skripsi meminta mahasiswanya untuk menunda mengerjakan proposal demi tugas lain, yang mestinya bisa selesai jika semua turut kontribusi.

Dimataku jika semua kontribusi, kecil sekali kemungkinan terjadinya hal ini.
Aku dan 2 anggota lain sudah konsul ke dosen mengenai kejadian ini, dosen membuat keputusan bahwa terserah keputusan kita. Dalam hati kecil kita sebenarnya kita masih mau beri kesempatan, namun sampai pembuatan projek hari ini dia tetap tidak muncul, padahal di grup sudah ramai dibahas, dan aku juga melihat bahwa dia membaca isi chat di grup.

Aku memiliki ide untuk memberi kabar di grup bahwa rancangan kegiatan harian di paud sudah jadi, aku kirim di grup, kemudian aku tag anak yang tidak kontribusi tersebut untuk mengeprint dan membawanya pada hari senin 22 april karena kita juga masih perlu melengkapi atribut di paud. Pemikiranku jika dia sampai tidak print dan tidak hadir maka dia di keluarkan karena ini sudah titik peringatan terakhir bahwa dia sudah di keluarkan dari grup karena dia tidak kontribusi.

Menurut Anda masih perlukah memberi peringatan kepada orang yang sudah keterlaluan kontribusi minim seperti ini, dia datangnya terlambat 1 jam lebih, pulang juga duluan dengan alasan mengurus gereja, kemudian alasan lagi mengurus pemilu, dan fatalnya lagi adalah dia berdalih mengerjakan proposal, padahal ada anggota lain yang juga proposal skripsi.

Perlu seperti apa lagi diriku, aku sudah mendapatkan data mengenai perilaku anak yang kurang kontribusi ini, dia memang sudah keterlaluan hampir pada seluruh mata kuliah (ia kini semester 8).
Perlukah mengasihi dia, perlukah mengIYAkan semua kemauan dia sedangkan ada anggota kelompok yang mengalami DEMOTIVASI karena sang anak yang kurang kontribusi ini? Tegas, Jujur, Musyawarah, chat pribadi, sudah dilakukan namun….

Perlukah aku mengIYAkan perkataan dosen waliku untuk analogi: Orang masuk psikologi untuk dapat uang banyak dengan mudah, Cuma dengerin orang saja dapat duit (konteks memeras jika menurut pemahamanku). Mungkin saja Tuhan mengabulkan permintaannya masuk psikologi kemudian konseling dan mudah dapatkan uang, hanya saja Tuhan memberikan cobaan kepada orang tersebut entah apa bentuknya. Aku bisa saja membuat pemikiran bahwa mungkin saja ia aktif di gereja, kemudian masuk psikologi untuk membantu jemaat di gereja, hanya saja perilakunya ini menunjukkan sikap tidak bertanggung jawab.

Menurut anak-anak yang pernah berkelompok dengan si kontribusi minimal ini, sang kontribusi minimal ini selalu selamat, selalu dapat nilai bagus, ada juga yang beranggapan dia super pandai mencontek.

Kasus ini mengingatkanku kepada pepatah sepandai-pandainya tupai melompat toh akan jatuh juga. Mungkin saja tampak dari luar di mata anak-anak dia selalu mujur dengan perilakunya yang lari dari tanggung jawab, kontribusi sangat ngawur minimalnya, ada hal laten yang tidak di ketahui.

Hal ini mengingatkan moto keluargaku jika terkena masalah yaitu GUSTI ORA SARE. Ya terlepas dendam kesumat karena si minim kontribusi ini, projek tetap harus jalan. Tetap cari solusi dan cara terbaik melalui masalah itu, gusti ora sare, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya. Untuk sementara ini hanya ini yang bisa aku lakukan untuk meredam tidak seimbangan pikiran dan emosi negatif, ini.

Diskusi:
Menurut anda apa yang bisa aku lakukan jika menghadapi orang demikian (si minim kontribusi), sudah aku chat pribadi, chat grup tetap tidak ada resspon, apa iya aku keluarkan saja dari grup karena aku merasa bersalah telah memasukan dia yang ternyata hama buat kelompok? Kelompok sudah memutuskan akan mencabut namanya dan tidak praktik, jika sampai hari senin besok kumpul dia tidak datang tanpa penjelasan. So… mungkin ada feedback dari anda ?

Surabaya, 18 April 2019

Setiti

Psikodrama Merupakan Salah Satu Cara untuk Merubah Perilaku


Perubahan Perilaku akan terjadi apabila ada niat yang kuat dari diri sendiri. Psikodrama mengajak tiap orang untuk berani mengenali diri sendiri. Berbagai teknik yang dikembangkan dalam Psikodrama kesemuanya mengenai melatih diri untuk membangun Hubungan dengan diri sendiri, dengan orang lain dan alam sekitar serta membangun hubungan dengan Yang Maha Kuasa Lanjutkan membaca “Psikodrama Merupakan Salah Satu Cara untuk Merubah Perilaku”

Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?


Beberapa hari yang lalu Selasa, 19 Maret 2019, saya membantu kawan Psikolog dan mahasiswa S2 Psikologi, dalam mempraktekkan Psikodrama di Salah satu Panti asuhan di Medan.  Beberapa Teknik yang dipakai adalah Lokogram, Spektogram, Sculpture, dan Imagery. Saya tidak ingin menceritakan proses praktek teknik-teknik Psikodrama ini, melainkan membagikan pengalaman dalam mengevaluasi, merefleksikan proses yang dilakukan oleh  Mahasiswa S2 Psikologi dalam praktek tersebut. Lanjutkan membaca “Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?”

Cerita Mawar #part 14 Aku Mulai Lebih Berani Mengenal Diriku


Imlek tahun ini melakukan apa?

Aku sama seperti tahun-tahun sebelumnya melakukan aktifitas favorit yaitu melihat Barongsai, jika dulu masih SD melihatnya di klenteng, saat ini aku melihatnya di mall daerah surabaya pusat. Pada saat imlek ini terjadi hal menarik yaitu aku mendapatkan pemikiran baru yang mengejutkan dan masuk akal. Apa itu?

Ya seperti biasa analisis mimpi. Aku sudah bosan dengan topik mimpi saat tidur, namun kali ini kak Boyo yang mimpi aku cabut gigi tapi batal. Masuk akal mimpinya karena aku saat desember meminta untuk pergi ke dokter gigi untuk scalling namun tidak dituruti, dan lagi pula gigiku juga ada masalah namun belum sempat ke dokter gigi karena jadwal kuliah padat (dokter hanya buka jam 9 pagi hingga 2 siang). Analisis mimpi menurut psikologi sepemahamanku adalah mimpi hanyalah bunga tidur, mimpi tidak masalah jika tidak terjadi repetitif atau berulang pada satu hal tertentu. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 14 Aku Mulai Lebih Berani Mengenal Diriku”

Terapi Menulis #03 Dorongan itu Muncul lagi


oleh Ayati Rini

Selama beberapa hari terakhir, aku bukan tidak mengalami apa yang kualami pada hari-hari sebelumnya. Masih seperti sebelumnya, karena ada pemicu atau tidak ada pemicu, tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diri untuk meracau. Kepalaku terasa berkedut-kedut dan berat, lalu sekujur tubuhku mulai ingin melakukan hal yang repetitif. Kelenjar air mataku terasa meradang, sementara tenggorokanku tercekat. Aku mencoba menjalani seperti apa yang dikatakannya: menyalakan alarm untuk satu jam ke depan kemudian menuliskannya. Namun, dorongan di dalam diriku menolakku untuk menulis. Ia menolak untuk dilihat, ditonton, diketahui, diidentifikasi, kemudian pada akhirnya dihilangkan. Yang aku ketahui saat ini, ada dua dorongan di dalam diriku: dorongan untuk bisa terus sadar seperti saat aku menulis ini, dan dorongan untuk gelisah. Keduanya ingin menguasai diri ini secara penuh dan tidak ingin disingkirkan secara penuh. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis #03 Dorongan itu Muncul lagi”