Cerita Mawar #part 14 Aku Mulai Lebih Berani Mengenal Diriku


Imlek tahun ini melakukan apa?

Aku sama seperti tahun-tahun sebelumnya melakukan aktifitas favorit yaitu melihat Barongsai, jika dulu masih SD melihatnya di klenteng, saat ini aku melihatnya di mall daerah surabaya pusat. Pada saat imlek ini terjadi hal menarik yaitu aku mendapatkan pemikiran baru yang mengejutkan dan masuk akal. Apa itu?

Ya seperti biasa analisis mimpi. Aku sudah bosan dengan topik mimpi saat tidur, namun kali ini kak Boyo yang mimpi aku cabut gigi tapi batal. Masuk akal mimpinya karena aku saat desember meminta untuk pergi ke dokter gigi untuk scalling namun tidak dituruti, dan lagi pula gigiku juga ada masalah namun belum sempat ke dokter gigi karena jadwal kuliah padat (dokter hanya buka jam 9 pagi hingga 2 siang). Analisis mimpi menurut psikologi sepemahamanku adalah mimpi hanyalah bunga tidur, mimpi tidak masalah jika tidak terjadi repetitif atau berulang pada satu hal tertentu. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 14 Aku Mulai Lebih Berani Mengenal Diriku”

Terapi Menulis #03 Dorongan itu Muncul lagi


oleh Ayati Rini

Selama beberapa hari terakhir, aku bukan tidak mengalami apa yang kualami pada hari-hari sebelumnya. Masih seperti sebelumnya, karena ada pemicu atau tidak ada pemicu, tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diri untuk meracau. Kepalaku terasa berkedut-kedut dan berat, lalu sekujur tubuhku mulai ingin melakukan hal yang repetitif. Kelenjar air mataku terasa meradang, sementara tenggorokanku tercekat. Aku mencoba menjalani seperti apa yang dikatakannya: menyalakan alarm untuk satu jam ke depan kemudian menuliskannya. Namun, dorongan di dalam diriku menolakku untuk menulis. Ia menolak untuk dilihat, ditonton, diketahui, diidentifikasi, kemudian pada akhirnya dihilangkan. Yang aku ketahui saat ini, ada dua dorongan di dalam diriku: dorongan untuk bisa terus sadar seperti saat aku menulis ini, dan dorongan untuk gelisah. Keduanya ingin menguasai diri ini secara penuh dan tidak ingin disingkirkan secara penuh. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis #03 Dorongan itu Muncul lagi”

Obrolan di Warung Kopi tentang Rencana Psikodrama di Jakarta


Usai acara Pengenalan Psikodrama di Hotel Cakra Kembang Yogyakarta, Temenku mengajak minum kopi sambil ngobrol rencana tindak lanjut dari kerjasama ini. Ia sudah cukup pengalaman mengadakan EO, terutama tentang Pelatihan untuk Pengembangan Diri, baik Pengembangan Personal maupun Profesi.

Salah satu peserta mengungkapkan dalam Lingkaran Penutup, bahwa Acara seperti ini sangat menarik. Sebuah Pelatihan hampir sepenuhnya aktif, tidak menulis tanpa Slide Proyektor, Emosinya dapat, pemahamannya dapat dan menjadi Yakin mampu melakukannya. Belum pernah ia mendapatkan pengalaman seperti itu. Dia yakin bahwa Metode ini (Psikodrama/Action Metode) akan laku jika ditawarkan di Jakarta. Aku senang mendengarnya dan kami di Warung Kopi (Caffee) ingin menindaklanjutinya.

Di Jakarta pernah aku adakan Acara Psikodrama ini, memang cukup antusias pesertanya, namun itu masih kalangan terbatas. Waktu itu aku masih belum tahu “selera” orang Jakarta dengan Psikodrama. Sekarang sudah cukup banyak yang mengetahui Psikodrama, dan aku sendiri juga sudah cukup Percaya Diri (jam terbangku sudah cukup banyak) maka kami putuskan akan melakukan di Jakarta.

Bulan Maret, ini aku sudah akan ber Psikodrama di Jakarta, kerjasama dengan temen yang akan mempromosikan Cafe Baru nya. Ditawarkan ke publik dengan harga Promo, cukup membayar kopi nya saja. Sebuah konsep yang menarik Psikodrama dilakukan di Cafe, sasarannya karyawan muda yang masih beradaptasi di tepat kerjanya, atau mahasiswa tingkat akhir yang mungkin membutuhkan gambaran tentang dunia kerja.

Ternyata Bulan April Kawan Yogya ku sudah banyak mengadakan acara, maka kami akan mengadakan setelah Lebaran saja, sekalian mencari waktu yang tepat. Dari pengalamannya dalam mengadakan acara penentuan waktu sangat berpengaruh terhadap banyaknya peminat. Apalagi di Jakarta, jika dilakukan akhir minggu, banyak yang tidak suka, karena itu waktu untuk keluarga. Jika dilakukan hari kerja, inginnya dibayari kantor dalam rangka dinas. Apabila kelompok sasarannya Mahasiswa/Pelajar perlu kerjasama dengan institusi Pendidikan nya, jika tidak harganya perlu disesuaikan juga. Aku setuju saja, selain aku tidak pengalaman dalam membuat acara, masih ada cukup waktu untuk pembicaraan lebih detailnya.

Intinya kami akan mengadakan Psikodrama di Jakarta, waktu dan tempatnya akan dibicarakan kemudian. Kopi sudah datang dan makanan juga menyertainya. Maka kami makan dengan melanjutkan obrolan lain.

 

Yogyakarta Maret 2018

 

Retmono Adi

Kami Belajar Bersama Pada Hari Itu ; Tulisan Psikodrama di Surabaya 2019


Ada pepatah yang mengatakan belajarlah sesuatu yang baru setiap hari. Bahkan Albert Einstein pun mengeluarkan pendapat yang lebih keras lagi, “Once you stop learning, you start dying.” Kesempatan untuk belajar selalu hadir mengetuk pintu hati dan pikiran kita. Tinggal bagaimana kita menyadari dan bersyukur atas kesempatan itu dengan menggunakannya sebaik mungkin.

Tapi mudah mengatakan semua itu daripada melakukannya. Musuh terbesarku mungkin adalah rasa kekwatiran apakah bisa melakukannya atau tidak. Pada awal tahun baru 2019 ini saya diberi kesempatan untuk mencicipi belajar sesuatu yang baru itu. Kesempatan itu berupa memberikan materi pelatihan kepada para guru muda di suatu sekolah swasta yang bisa dikatakan nomor satu di kota Surabaya. Saya sangat menghargai para guru muda itu. Saya menganggap mereka istimewa karena merekalah penerus bangsa kita.

Posisi dan peran mereka juga sangat penting karena mereka berada di era waktu awal suatu perubahan besar. Apa yang mereka dapatkan dari pendidikan ilmu keguruan mereka belum tentu sepenuhnya akan membantu mereka menghadapi generasi millennial dan berikutnya yang sangat berbeda. Tantangan mereka besar ke depan sehingga respek saya juga besar kepada mereka. Butuh banyak keberanian bagi guru-guru muda untuk bisa langgeng di profesi mereka.

Tema yang sekolah minta saya berikan adalah etos kerja, tapi dikaitkan dengan menghadapi ketidakpastian di jaman sekarang dan pengaruh teknologi gadget yang sangat besar pada anak-anak didik jaman sekarang. Gurupun perlu adaptasi, tapi adaptasi tanpa pemahaman yang mendalam mengenai etika, moralitas, nilai-nilai, dan keutamaan yang penting mungkin dapat mengganggu proses adaptasi mereka, bahkan bisa saja sampai berujung pada keputusasaan.

Saya berfokus pada kemampuan diri sendiri untuk secara bijak membuat keputusan yang tepat, yang mana keputusan tersebut kadang membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kepekaan dalam memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekeliling mereka, terutama para anak didik, serta ketulusan, kejujuran, dan keutamaan lainnya.

Saya mengawali pemberian materi dengan sesi perkenalan. Kami duduk dalam bentuk lingkaran dan saya meminta satu-persatu untuk memperkenalkan nama dan bidang studi yang diampu, dan kemudian memperagakan suatu pose yang menunjukkan siapa mereka atau bisa juga keadaan hati mereka saat itu.

Proses perkenalan berjalan lancar dan penuh suka cita dengan diselingi berbagai guyon dari peserta karena beberapa dari mereka menambahkan informasi selain nama dan bidang studi (misalnya status kejombloan, dll). Kebanyakan pose yang dipilih, seperti dugaanku, masih pose yang sangat aman dan nyaman. Pose yang belum menunjukkan keinginan untuk keluar dari zona nyaman. Opini ini saya berikan di bagian akhir sesi perkenalan tapi dengan hanya sekilas saja dan memakai bahasa yang ringan.

Saya kemudian menantang mereka dengan bertanya apakah mau keluar dari zona nyaman. Jawaban mereka secara antusias adalah “Mau!” Maka kemudian saya bawa mereka ke bagian berikutnya.

Pada bagian kedua ini, saya awali dengan pemanasan singkat, yaitu meminta mereka sendiri-sendiri membuat suatu pose sesuai instruksi saya, yaitu membuat pohon. Serentak mereka bergerak, dan hampir semuanya mengangkat tangan ke atas. Hanya ada mungkin sekitar 3 dari 26 orang yang tangannya tetap di samping badan, malah berdiri lurus seperti dalam keadaan siaga, tidak bergerak sama sekali, yang menurut mereka itu juga adalah pohon. Dari yang tangannya ke atas, semuanya membuat pose yang simetris. Dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, saya memancing dan mendorong mereka untuk mengamati semua pose dan memberikan opini mereka. Mereka akhirnya memahami bahwa masih banyak kemiripan dan serba simetris, padahal dalam dunia nyata pohon bisa beragam rupanya. Saya akhirnya memperagakan beberapa pose yang aneh dengan bertanya apakah pohon bisa berbentuk seperti itu untuk mulai membuka pemikiran mereka.

Kemudian kami lanjut dengan membuat pose pohon dengan berkelompok 3 orang dan 5 orang. Pesan-pesan yang saya berikan selama mereka berpose adalah untuk terus melakukan posenya secara hening, tidak perlu mengatur orang lain tapi berfokus kepada pemikiran sendiri. Ini berarti mereka perlu mengamati, mengobservasi, bahkan menunggu sampai teman kelompoknya menjadi sesuatu dulu baru kemudian menambahi. Saya mencoba berjalan dari satu kelompok ke kelompok berikutnya untuk bertanya kepada anggota kelompok mengenai posenya, perasaan yang dirasakan, apa yang mendorongnya untuk mengambil posisi itu, dan seterusnya.

Karena waktu yang terbatas (bagian bermain ini sekitar 1 jam saja), setelah itu saya memutuskan untuk mengajak seluruh peserta menjadi satu kelompok dan memperagakan suatu adegan yang mereka pahami karena terkait lingkungan sekitar sekolah mereka. Sebenarnya keinginanku adalah untuk mencoba dua adegan, satu mengenai lingkungan warung-warung usai jam sekolah di belakang sekolah di mana banyak siswa dan staf berkumpul, dan satunya lagi mengenai adegan di dalam kelas tapi apa daya waktu mengijinkan hanya adegan pertama.

Adegan berjalan dengan baik, walaupun ada hal-hal yang kurang sesuai. Misalnya ada beberapa peserta yang berkumpul di bagian belakang untuk membuat pintu gerbang keluar dan objek di sekitarnya, dan ada beberapa peserta yang mengadegankan warung, siswa-siswa yang ingin menyeberang jalan dan yang naik motor. Hanya saja, kedua kelompok itu sepertinya secara visual tidak menempatkan posisinya sesuai dengan keadaan realitas karena arah motor-motor bukan ke arah yang tepat. Beberapa peserta akhirnya saat refleksi mengatakan kebingungan mau menjadi apa.

Sambil berjalan dari satu orang ke orang berikutnya untuk bertanya mereka menjadi apa, saya mendengarkan perasaan dan proses berpikir mereka mengapa memilih pose itu. Hampir semuanya mengatakan bahwa sebelum menjadi sesuatu, mereka melihat dulu yang lain jadi apa sebelum melengkapi adegan.

Ada segelintir orang yang menginisiasi gerakan pertama yang memilih langsung untuk menjadi apa dan ini kemudian mereka refleksikan juga bahwa kadang dalam suatu keadaan, harus ada yang menginisiasi untuk bergerak. Bagi yang awalnya kebingungan, ada beberapa pembelajaran juga yang kami dapatkan, yaitu saat mengalami kebingungan, ada yang menyikapinya dengan langsung saja menjadi sesuatu walaupun berisiko tidak pas, tapi ada juga yang memilih sedikit berdiri di luar gerombolan dan tetap menjadi sesuatu tapi sesuatu yang lebih netral (misalnya pejalan kaki). Alasannya adalah karena tidak ingin membuat suasana di tengah gerombolan untuk menjadi lebih keruh dan membingungkan, dan ini langsung saya kembalikan kepada peserta dengan mendorong mereka untuk melihat aplikasi pendapat itu ke dunia nyata. Intinya adalah kita masing-masing punya cara yang unik dalam menyikapi suatu keadaan yang tidak jelas, dan ini semua bisa berujung pada keragaman berpikir dan bertindak dalam komunitas.

Satu peserta berefleksi mengenai pentingnya mengawasi terlebih dahulu, tapi bahwa pada akhirnya tetap harus membuat keputusan walaupun masih belum yakin mengenai keputusannya. Salah satu peserta juga memutuskan untuk menjadi tong sampah karena menurutnya tong sampah juga suatu benda yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan. Kesaksiannya itu kemudian ditanggapi oleh peserta lain yang merasa kagum akan kemampuan dan keberanian untuk menjadi sebuah objek yang mungkin sering dianggap jelek tapi sangat dibutuhkan.

Setelah selesai dengan adegan warung di belakang sekolah, peserta saya bawa kembali ke posisi melingkar untuk diskusi lagi. Kali ini, juga karena pertimbangan waktu, saya hanya bisa meminta mereka satu per satu memberikan satu hal yang paling berkesan bagi mereka. Hal-hal yang mereka ungkapkan adalah hal-hal yang sudah saya jelaskan di atas tapi lebih mendalam lagi. Hal-hal tersebut kemudian sesudah break sebentar, kami lanjutkan dalam bentuk refleksi tertulis mengenai nilai keutamaan apa yang paling berarti bagi mereka, keutamaan yang sudah mampu mereka imani dengan baik dan keutamaan yang belum mampu mereka lakukan.

Pada akhirnya, syukurlah semuanya berjalan dengan sangat lancar dan indah. Saya benar-benar tersentuh juga di beberapa bagian dan kagum dengan kemampuan para guru tersebut yang dalam jangka waktu pemanasan sangat singkat mampu masuk ke dalam peran-peran dan berefleksi dengan mendalam.

Saya sendiri juga berefleksi bahwa ternyata semua yang saya persiapkan belum tentu bisa terlaksanakan sesuai dengan keinginanku, sehingga saya juga menerima ketidaksempurnaanku dalam melakukan tugasku. Pasti ada pesan yang terlewatkan, tapi tidak apa karena tidak ada yang sempurna. Akan tetapi, yang pasti, saya belajar banyak pada hari itu. Saya belajar bahwa saya mampu melakukannya, bahwa saya bisa menjiwai apa yang saya katakan. Saya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh beberapa peserta, dan pesan-pesan yang mereka dapatkan menjadi pembelajaran juga bagiku.

Kami belajar bersama pada hari itu, dan itu sungguh indah. Terima kasih juga kepada Mas Didik yang sudah membimbing dan memberikan banyak masukan untuk semuanya bisa berjalan dengan baik. Berkah Dalem.

Surabaya, Januari 2019
Erlyn

Bahagia Menjadi Diriku Sendiri : Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Salam Psikologi
Psikologi untukku
Psikologi untuk kita

 

Pertama kali mendengar kata Psikodrama, rasanya kembali ke masa kecil dimana aku sering memainkan peran serial pendekar …aku suka memainkan peran sebagai kesatria wanita.

Begitu antusias aku mengikuti sesi Psikodrama HARI INI … Begitu semangat …dan bagiku kembali ke masa kecil saat aku harus memainkan sebuah peran adalah kembali ke KEBAHAGIAAN sesungguhnya….

Satu hal yang aku dapat setelah sesi Psikodrama hari ini adalah ” Jadilah dirimu sendiri Mei… karena tidak akan ada yang dapat melakukannya lebih baik dari dirimu sendiri ”

Terimakasih mas Didik atas ilmunya,
Terimakasih sudah mengembalikan kebahagiaan masa kecilku,
Terimakasih juga sudah membuatku sejenak menyadari bagaimana proses PERAN – PERAN yang ada di dalam diriku membuatku bahagia menjadi DIRIKU SENDIRI .

16122018
Mei – DEPOK

Prihatin Bullying di Indonesia


Tanpa disadari, mungkin kita juga sering melakukan perundungan ( bullying ) pada orang lain. Saat mengatakan orang gemuk, jelek, bodoh, banci, serta berbagai stigma negatif lainnya. Mungkin saat mengatakan itu, maksud kita adalah untuk bercanda, tapi efek yang ditimbulkannya sama sekali tidak lucu dan bisa jadi tidak terduga.

Pikiran manusia cenderung mengingat yang buruk dan mengabaikan yang baik. Saat seseorang diberi penguatan positif seperti dipuji pintar, cantik, langsing, baik.. maka efek positif ini hanya bertahan sementara saja, namun apabila mendapat penguatan negative, efek nya berlangsung sangat lama. Lanjutkan membaca “Prihatin Bullying di Indonesia”

Apakah Kita Sudah Berbaik Hati pada Diri Sendiri ?


Perkembangan zaman menuntut saya untuk berkompetisi satu sama lain dan menjadi terbaik untuk menggapai suatu posisi tertentu.

Seringkali saya diajarkan oleh lingkungan untuk berjuang, kuat dan tidak mengasihani diri sendiri dalam rangka menjadi diri sendiri. Melalui pelatihan psikodrama dengan judul Stress Management and self compassion yang diisi oleh mas Didik (aka Retmono Adi). Saya tidak sendirian, ada 7 orang teman saya yang berlatar belakang psikologi, beberapa dari mereka menjadi praktisi di bidangnya.

Aktivitas terapi melalui psikodrama sangat menyenangkan, kami tak banyak bicara, kami hanya bergerak secara spontan. Kami tertawa, saling menganalisis satu sama lain, menguatkan satu sama lain. Hal yang sedikit mengejutkan bagi saya, teman saya yang selama ini memiliki image tegar dan tangguh dapat menintikkan air mata karena teringat suatu kejadian di masa lalunya. Reaksi emosi dari teman-teman yang mengikuti sesi terapi keluar, tanpa ada rasa canggung, emosi negatif terpendam seperti penyesalan, kebencian, marah dan sedih keluar mengalir begitu saja.

Saya belajar dalam pelatihan psikodrama mengenai kebaikan untuk diri sendiri. Saya mendapatkan pelajaran untuk berbuat baik pada diri sendiri. Saya termasuk orang yang keras pada diri sendiri, saya percaya proses tidak akan menghianati untuk mendapatkan hasil. Untuk berjuang terkadang saya merasa iri dengan pencapaian teman-teman saya yang menurut saya lebih baik. Saya seringkali iri melihat teman saya yang kuliah di kampus keren di luar negeri, iri melihat teman yang bekerja di perusahaan bonofit, iri melihat bisnis teman yang sukses. Rasa iri memacu saya untuk berkompetisi menjadi lebih baik.

Namun rasa iri ini membuat saya menjahati diri sendiri. Saya tidak menghargai usaha saya sendiri karena merasa orang lain lebih baik daripada saya. Menyalahkan diri sendiri, membiarkan diri tenggelam dengan kesedihan, membandingkan diri dengan orang lain merupakan bentuk kejahatan pada diri sendiri. Pelatihan ini mengajarkan saya untuk berdamai, menerima keadaan diri. Saya mendapatkan satu pemahaman baru bahwa setiap orang punya cerita mengenai dirinya, mereka juga berjuang menjadi diri terbaik.

Hakikatnya hasil yang kamu ingin capai bertujuan untuk dinikmati bukan untuk mempersulit dirimu.

Yogyakarta 16 September 2018

Diana Putri Arini