Sebenarnya Aku ini Siapa?


Sebenarnya aku ini siapa?

Tiga puluh tahun lebih usia, masih juga aku susah mengenalinya.

Kebanggaan orang tua? 

Ah, orang tuaku sudah tak ada. Jadi kurasa bukan lagi itu.

Kebanggaan guru-guru? 
Ah, itu sungguh dari cerita lampau.

Kebanggan saudara-saudara? Bisa saja.
Tapi apa aku bahagia karena orang bangga padaku? 
Ah, enggak, aku biasa saja.
Jujur saja, aku lebih suka kaya raya.

Sebenarnya aku ini siapa?
Belasan tahun menjauh dari akar lahirku,
Tapi tak juga aku mengenal dirku.

Kadang sering takjub dengan cara semesta bekerja
Aku tak tahu apa-apa, tapi masih bisa hidup juga.
Ah, Tuhan memang serba tak terduga.

Tak kenal diri membuatku seperti sampan di tengah badai
Terombang ambing ke sana kemari
Tak ada jangkar, atau dayung untuk kupegang kendali
Aku, tak tahu harus apa lagi
Haruskah aku diam menunggu mati?

Sementara badai, terus mengamuk tak peduli
Dan aku memohon badai agar mau berhenti.

Cih. Memangnya aku siapa?
Mengharap badai reda demi sebutir manusia
Lagi-lagi, aku tak tahu harus menjawab pertanyaanku sendiri:

Sebenarnya, aku ini siapa?

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Depok 9 Maret 2021Depok 9 Maret 2021

Serat Sembadra

Kisah Petani dan Putrinya yang Cerdas #Goresanku 109


Alkisah, bertahun-tahun silam di sebuah desa kecil tinggallah seorang petani yang memiliki utang sangat banyak kepada seorang lintah darat di desa itu. Si Lintah Darat itu, yang berhati culas, sangat menyukai Putri Sang Petani yang cantik. Jadilah, Si Lintah Darat mengajukan suatu perjanjian. Katanya ia akan menghapus seluruh utang Sang Petani jika Si Lintah Darat itu bisa menikahi putrinya. Sang Petani maupun putrinya sangat terkejut begitu mendengar usulan itu. Lanjutkan membaca “Kisah Petani dan Putrinya yang Cerdas #Goresanku 109”