Manfaat Playback Theater dalam Dunia Pendidikan dan Psikoterapi serta 7 Hari Pelatihannya


Apa Playback Theater itu?

Playback Theater adalah sebuah bentuk improvisasi dari teater yang muncul di Amerika tahun 1975 dan saat ini telah menyebar ke lebih dari 17 negara. Teater ini berawal dari Teater serimonial di Asia di mana tradisi oral dan penceritaan yang diperankan dalam komedi dan drama memainkan peran sangat penting dalam penyebaran budaya kesukuan.

Dalam Playback seorang anggota kelompok didorong untuk menjalin kontak dengan kehidupan nyata dan kemudian hal tersebut akan diperankan oleh orang lain. Bukti ilmiah dari pengalaman di Amerika menunjukkan playback memiliki dampak terapeutik sejalan dengan penyadaran diri, meningkatkan kreativitas dan spontanitas, dan memperkuat sense of identity seseorang. Lanjutkan membaca “Manfaat Playback Theater dalam Dunia Pendidikan dan Psikoterapi serta 7 Hari Pelatihannya”

Playback Theater dan Psikoterapi (Healing)


Playback theater pada awalnya disajikan sebagai improvisasi dari teater. Kekuatan dari bentuk teater ini adalah pada terlibatnya para penonton sebagai penulis cerita, penuh spontanitas dan tidak membutuhkan persiapan yang lama. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri yang signifikan pada para pelajar SMU yang berperan sebagai aktor di bidang ini. Mereka yang terlibat aktif di bidang ini memiliki resiko yang lebih kecil terhadap penyalagunaan obat-obatan. Beberapa rumah sakit melibatkan para perawat sebagai aktor dan para pasien sebagai penonton dalam playback theater, melaporkan naiknya optimisme hidup, kesembuhan dan tingkat kepuasan terhadap layanan.

Penelitian lain menunjukkan, peningkatan kohesifitas karyawan perusahaan, setelah secara reguler diadakan playback theater. Selain hal diatas, Playback theater dapat memiliki fungsi sebagai healing process, karena dalam Playback terdapat penerimaan kisah tanpa syarat. Si Pencerita dapat menceritakan kisahnya tanpa dievaluasi dan dihakimi. Kondisi inilah yang dibutuhkan dalam proses healing. Proses penceritaan ulang yang dilakukan oleh si pencerita memiliki peranan penting dalam proses healing. Saat si pencerita memutuskan untuk menceritakan kisahnya, pada titik inilah Si Pencerita memilih untuk membuka luka lama yang belum tersembuhkan.

Pada proses ini si Pencerita akan kembali mengangkat unfinish bussines-nya. Perasaan-perasaan negatif yang belum terselesaikan di masa lalu akan dikeluarkan, kemarahan, kesedihan, ketakutan akan dikeluarkan. Pada tahap ini, tampaknya kondisi si Pencerita memburuk, tetapi jika konduktor memiliki ketrampilan yang cukup, maka situasi ini adalah awal dari pemulihan.

Konduktor membantu agar energi emosi negatif yang selama ini tersimpan rapi dan ditekan dalam ketidak-sadaran si Pencerita dikeluarkan. Seringkali, Si Pencerita akan menangis dengan keras, menjerit atau berteriak dan tubuhnya bergetar. Disinilah konduktor berperan sebagai therapis, sentuhlah dengan lembut, tunjukkan dukungan dan sikap empatik. Bawalah si pencerita ke luar panggung menuju tempat lain yang lebih sepi. Mintalah si pencerita untuk menceritakan lebih banyak lagi tentang kepedihannya, menamai emosinya dan mengekpresikannya. Dorong dan ijinkan si Pencerita untuk mengekspresikan emosi negatifnya.

Sebagai therapis, konduktor harus memiliki kepekaan, terampil untuk menggali cerita, membantu si pencerita menamai emosinya, dan menunjukkan empati. Pada tahap tersebut, konduktor harus menunjukkan sikap empatinya, jangan menasehati, atau mencoba menghentikan tangis si Pencerita. Si Pencerita akan mengalami katarsis atau pelepasan enargi emosi yang negatif. Setelah menyelesaikan tahap ini, Si Pencerita akan merasakan kelegaan. Jika si pencerita merasa sudah siap, ajaklah kembali ke ruangan.

Tawari lagi agar kisahnya dimainkan ulang. Hargai pilihan si Pencerita, jika dia tidak menginginkan dimainkan ulang. Proses memainkan ulang pasca katarsis memiliki peranan penting, pada tahap ini, terjadi reframing. Subjek akan melihat lagi pengalamannya tetapi dengan jarak.

Hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penggunaan Playback Theater adalah penggunaan metode ini pada daerah endemi konflik. Proses penceritaan yang dilakukan oleh seorang pencerita mungkin dapat menimbulkan histeria massa, khususnya jika kisah yang diceritakan merupakan trauma kolektif para penonton. Oleh karena itu, penggunaan playback theater di daerah endemi konflik, memerlukan persiapan khusus. Diperlukan tim yang berperan sebagai pembantu konduktor jika terjadi histeria massa.

Peran mereka adalah mendampingi para penonton yang menjadi histeris dan menjadi pemimpin terapi kelompok. Jika banyak penonton yang mengalami histeria, yang perlu dilakukan adalah memeluk dan memegang mereka. Mintalah mereka untuk saling berpelukan dan mendukung satu dengan yang lain. Pada tahapan ini, playback theater perlu dihentikan. Para penonton diajak masuk dalam kelompok , dan memulai proses terapi kelompok.

 

* dicuplik dengan sedikit penyesuaian dari

Playback Theater adalah Sebuah Bentuk Teater Spontanitas ( Improvisasi )

oleh BOEDI POERNOMO
Direktur Artistik Teater Putih

Panduan Latihan Playback Theater VI Game dan Exercise


“GAME AND EXERCISE”

Tujuan : Untuk menggali potensi aktor dalam menjadi objek suatu kisah dan untuk memainkan cerita secara lengkap.

POLA LATIHAN

Pemanasan

1. Magnet
Semua orang berjalan berkeliling ruangan dengan mata tertutup dan tangan dilipat. Ketika pemimpin berteriak “negatif”, maka semua orang harus saling menjauhi. Jika ada peserta yang saling bertabrakan maka mereka harus segera menjauh secepatnya. Jika pemimpin mengatakan “positif” maka mereka harus saling menjalin kontak dan berusaha untuk tetap bersama dalam beberapa saat. Meskipun demikian semua orang harus tetap dalam kondisi terus berjalan baik saat positip maupun negatif.

2. Pemerataan Berat
Peserta berpasangan dan saling berhadapan, mereka saling memegang pundak pasangannya dan agak memberi dorongan, posisi tubuh mereka agak condong sekitar 30 derajat, upayakan agar terjadi keseimbangan. Variasi : punggung dengan punggung, pantat dengan pantat.

3. Percakapan Tubuh
Pemimpin meneriakkan bagian dari anggota tubuh, misalnya lutut, tangan, dll. Maka peserta harus merespon dengan berkomunikasi dengan sebanyak mungkin peserta lain dengan menggunakan anggota tubuh yang disebut tadi.

4. Saya jatuh
Setiap orang berjalan ke segala arah di sekeliling ruangan untuk beberapa saat, tetapi mereka harus berupaya untuk beberapa kali berhenti bersama. Secara berkala, peserta yang sedang di posisi tengah akan meneriakkan namanya dan menjatuhkan dirinya ke belakang, semua peserta yang lain secara bersama-sama akan menuju ke arahnya dan menahan dia agar tidak jatuh ke lantai. Peserta yang lain dapat menyentuh dan mengangkatnya secara langsung tapi dapat juga menolong peserta yang mengangkat tadi. Peserta yang menjatuhkan diri tadi, kemudian mereka berjalan lagi, dan diikuti oleh semua peserta lain. Mereka kembali berjalan ke segala arah. Latihan ini dilakukan beberapa kali.

Aktor dan Objek

5. Membangun objek dalam sebuah rumah
Peserta dibagi dalam empat kelompok, setiap kelompok harus menciptakan suatu karakter. Kisahnya harus mengambil setting dalam sebuah rumah. Misalnya: Seorang wanita memasak dalam ruangan yang sangat modern. Kelompok itu harus memerankan wanita tadi dan juga berbagai peralatan yang ada di dapur tersebut. Sangat menarik jika mereka dapat menciptakan suara yang khas sesuai fungsi mereka sehingga para penonton dapat mengidentifikasi apa yang sedang mereka perankan. Misalnya kulkas, microwave. Setiap benda dapat berbicara. Setiap kelompok diberi waktu 15 menit untuk mempersiapkan diri.

Memainkan Ulang

6. Memainkan ulang dengan lengkap
Panggung untuk playback diatur sedemikian rupa dengan kursi atau kotak membentuk agak melingkar. Tempat untuk musisi ada di sebelah kiri dan kursi untuk konduktor dan pencerita ada di sebelah kanan. Enam sukarelawan mengambil posisi di depan sebagai aktor. Dua sebagai musisi, Dan sisanya menjadi penoton yang duduk menghadap panggung. Konduktor kemudian meminta salah seorang penonton untuk menjadi sukarelawan yang akan menceritakan kisahnya dan menjadi pencerita.

Misalnya :

Konduktor : Adakah yang bersedia menjadi pencerita pertama di siang ini? (Susi mengangkat tangan) Baiklah, Susi mari maju dan duduk di kursi pencerita. (Susi berdiri, maju ke depan dan duduk di kursi pencerita yakni di sebelah kanan konduktor) “Susi, yang pertama, beri judul dulu, pengalaman yang akan kau ceritakan.

Susi : Pergi ke dokter gigi.

Konduktor : Baik, mari sebelumnya kita akan memilih para aktornya, siapa yang akan memerankan kamu? (Susi menunjuk Dina, yang kemudian akan berdiri, diam dan mendengarkan cerita Susi) Katakan satu kata yang dapat menggambarkan perasaanmu di awal dari kisah ini

Susi : Cukup menggembirakan

Konduktor : Jelaskan darimana perasaan itu muncul ?

Susi : Karena saya akan menggunakan kawat gigi’ dan itu tampak keren.

Konduktor : Jadi, ini kejadian yang khusus bagimu. Siapakah orang lain yang memainkan peran penting dalam ceritamu ini?

Susi : Ibuku.

Konduktor : Mari memilih siapa yang menjadi ibumu?

Susi : Yuli

Konduktor : Dapatkah kita memberi sedikit gambaran mengenai ibumu dalam kisah ini.

Sus : Dia meyakinkan aku, bahwa proses yang akan kualami akan menyenangkan.

Konduktor : Jadi, mulai dari mana kamu ingin cerita kita ini dimulai?

Susi : Aku pikir, mulai saja dari saat aku dan ibuku pergi ke meja resepsionis dokter gigi.

Konduktor : Apa yang terjadi?

Susi : Kami disapa oleh suster yang sangat ramah dan dengan cekatan membawa kami ke ruang dokter gigi. Ibuku diijinkan untuk tetap tinggal dalam ruangan itu.

Konduktor : Sebelum ceritanya dilanjutkan, mari kita memilih orang yang akan memainkan peran sebagai suster.

Susi : Ina dan Bagong dapat memerankan sebagai suster. (semua peserta tertawa karena bagong dipilih sebagai suster)

Konduktor : Apa yang terjadi kemudian?

Susi : Kami berjalan menuju ruangan praktek dengan antusias. Dan melihat dokternya mirip Ina.

Konduktor : Mari kita pilih dokternya.

Susi : Ratna, maukah menjadi dokternya?

Konduktor : Baik, tadi kamu mengatakan dokternya seperti Ina?

Susi : Ya, tetapi setelah dia memintaku duduk, segala sesuatunya menjadi berubah. Lampu dihadapkan ke wajah saya secara langsung, dan saat itu rasanya hanya penuh dengan upaya untuk memasangkan kawat ke gigi saya. Itu sangat tidak menyenangkan dan dia terus berkata: “Ini tidak akan lama, dan kamu gadis pemberani”. Ibuku memegang tanganku, dan aku tetap merasa panik. Dan aku berkata dalam diriku bahwa kawatnya ini terlalu kecil dan tidak pas dengan gigiku”.

Konduktor : Kelihatannya itu pengalaman yang tidak menyenangkan, adakah peserta lain yang memiliki pengalaman buruk dengan dokter gigi? Silahkan angkat tangan? (Ada empat peserta yang angkat tangan.) Susi tampaknya ada juga orang yang pasti dapat merasakan apa yang kau rasakan. Apa yang terjadi kemudian?

Susi : Setelah perjuangan menyakitkan selama 20 menit akhirnya terpasang juga. Aku merasa lega. Dokter gigi menarik lampu dari depan wajahku dan ibuku memegangku dan mengatakan jika aku adalah seorang yang pemberani. Aku sangat senang bisa meninggalkan kursi besar itu. Saya sangat kecewa dengan dokter gigi itu, dan dia berkata pemasangan kawat yang pertama adalah peristiwa yang tidak menyenangkan bagi semua yang mengalaminya. Dan dia mengatakan juga bahwa saya adalah wanita pemberani. Hal itu membuat saya merasa lebih baikan sedikit.

Konduktor : Susi, bagaimana akhir cerita ini?

Susi : Dokter gigi membawakan cermin sehingga aku dapat melihat kawat itu. Aku melihat kawat yang telah terpasang dan aku tampak keren dan aku pikir temanku yang lain akan mengatakan hal itu juga. Jadi pada akhirnya aku merasa senang.

Konduktor : Terimakasih telah bersedia bercerita. Para aktor perlukah kita mengulang kisah ini lagi sehingga anda yakin dengan cerita ini? (Konduktor memberikan ringkasan tentang cerita tadi dan musisi mulai memainkan musiknya. Selama musik dimainkan, para aktor memilih dan mengambil bahan atau kain yang dibutuhkan. Ketika mereka sudah siap maka mereka akan dalam posisi “membeku”. Musisi berhenti bermain dan ceritanya dimulai)

* * *

bersambung

Panduan Latihan Playback Theater VII Sebuah Pentas Playback

* dicuplik dengan sedikit penyesuaian dari

Playback Theater adalah Sebuah Bentuk Teater Spontanitas ( Improvisasi )

oleh BOEDI POERNOMO
Direktur Artistik Teater Putih

Panduan Latihan Playback Theater V Musik


Latihan Playback Theater Kelima

“MUSIK”

Tujuan: Untuk memperkenalkan penggunaan musik dan suara untuk mengiringi Playback Theater.

POLA LATIHAN

Pemanasan

1. Mengalirkan tepuk tangan
Dalam sebuah lingkaran setiap peserta bertepuk tangan sekali secara berurutan searah jarum jam, sampai kembali lagi ke peserta yang memulainya pertama kali. Permainan ini dapat dimodifikasi dengan terus menerus mempercepat gerakan perputarannya.

2. Hutan tropis Lanjutkan membaca “Panduan Latihan Playback Theater V Musik”

Panduan Latihan Playback Theater IV, Bahan Baku Fluid Sculpture


Latihan Playback Theater Keempat

“BAHAN-BAHAN”

Tujuan: Mendukung terciptanya tim kerja yang lebih baik dan memperbaiki presentasi fluid sculpture

POLA LATIHAN

Pemanasan

1. Berhenti dan mulai dengan benar dan salah

2. Hutan tropis

3. Zip-zap biong

Kerjasama tim Lanjutkan membaca “Panduan Latihan Playback Theater IV, Bahan Baku Fluid Sculpture”

Panduan Latihan Playback Theater III, Ritme dan Suara


Latihan Playback Theater Ketiga

“RITME DAN SUARA”

Tujuan : Memperkenalkan kepada para peserta ide untuk menghasilkan bunyi-bunyian melalui suara, tubuh dan peralatan-peralatan untuk memperindah fluid sculptures dan pemeragaan ulang dari kisah yang diceritakan.

POLA LATIHAN

Pemanasan

1. Penciptaan Hujan tropis
Dalam lingkaran, para peserta menyampaikan suara hutan ke peserta disampingnya. Yang pertama adalah suara klik jari, yang kedua suara tepukan tangan, yang ketiga adalah suara ketukan kaki, yang keempat suara klok dari mulut, kemudian urutan suaranya dibalik, setelah ketukan kaki, ketukan tangan, dan klik jari. Lanjutkan membaca “Panduan Latihan Playback Theater III, Ritme dan Suara”

Panduan Latihan Playback Theater II. Menciptakan Fluid Sculptures


Latihan Playback Teater Kedua

“MENCIPTAKAN FLUID SCULPTERS”

Tujuan : Mengeksplorasi kondisi fisik aktor dengan pandangan untuk menciptakan Fluid Sculptures

POLA LATIHAN

Pemanasan

1. Mulai dan Berhenti
Seperti pada sesi sebelumnya para peserta harus bergerak dan berhenti bersama sebagai kelompok.

2. Mulai dan Berhenti dengan pernyataan Benar dan Salah
Setelah beberapa menit saat peserta tampaknya telah menangkap tugas yang diintruksikan kepada mereka untuk membuat pernyataan pribadi selama masa berhenti. Misalnya setelah semua berhenti, Susi mengatakan “Saya punya 4 saudara cowok”. Jika peserta yang lain berpikir bahwa yang dikatakan Susi benar, mereka harus berdiri di dekat Susi, kebalikannya jika mereka menduga Susi berbohong maka mereka harus bergerak menjauh dari Susi sejauh mungkin. Setelah itu Susi menyatakan apakah dia tadi jujur atau tidak, kemudian semua orang bergerak lagi. Perlu diperhatikan bahwa dalam tiap berhenti hanya ada satu pernyataan saja (atau satu orang saja yang menyatakan). Lanjutkan membaca “Panduan Latihan Playback Theater II. Menciptakan Fluid Sculptures”

Panduan Latihan Playback Theater I Penciptaan Kesan


Latihan Playback Theater Pertama

“PENCIPTAAN KESAN”

Tujuan :
Untuk mendukung interaksi dan komunikasi yang lebih baik di antara peserta
Untuk memperkenalkan ide akan penciptaan dan pengartian ulang suatu kesan

POLA LATIHAN

Permainan Interaktif

1. Skala
Peserta diminta membayangkan ada garis memanjang di ruangan di mulai nomor satu hingga sepuluh. Mintalah mereka menempatkan diri dan membentuk barisan berdasarkan tinggi, ukuran sepatu, warna rambut, seberapa menyukai drama, dll. (Mintalah usulan peserta mengenai hal/kriteria untuk membuat urutan. Dalam satu posisi boleh lebih dari satu orang) Lanjutkan membaca “Panduan Latihan Playback Theater I Penciptaan Kesan”

Apa yang Menjadikan Psikodrama Menarik Bagiku?


Psikodrama mengajak aku menyadari drama hidupku, sebelum aku mengolah drama hidup orang lain. Aku melihat drama hidupku dari berbagai sudut pandang dari pelaku yang terlibat. Aku berdiri di sepatu mereka. Ini adalah empati. Aku langsung diajak ke inti dari menjadi terapis psikologi. Ya,…modal utama dari seorang praktisi psikologi adalah empati.

Sementara waktu itu, awal-awal aku belajar mempraktekkan ilmu psikologi. Aku ditekankan untuk tidak terlibat emosi dalam proses konseling profesional. Sedikit kesalahpahamanku tentang pengertian transferens ini. Pemahamanku tentang hal itu merupakan sebuah sikap yang kurang cocok dengan diriku yang sensitip. Aku pribadi yang mudah mengunakan rasa. Padahal maksud dari para senior itu mengajak untuk mewaspadai impact dari tranferens itu. Psikolog perlu hati hati bukannya dilarang. Lanjutkan membaca “Apa yang Menjadikan Psikodrama Menarik Bagiku?”

Psikodrama untuk Anak PAUD #Goresanku 155


Bahasa Tubuh

Di masa usia toddler / bayi, sebelum bisa berbicara mereka berkomunikasi dengan cara menggunakan BAHASA TUBUHNYA untuk mengekspresikan kebutuhan / emosinya.
Mereka berkomunikasi secara non-verbal dengan menggunakan gerakan tubuh dan suara mereka. Setiap gerakan anak mempunyai makna dan perlu respon.
Ketika kita bisa merespon dan menafsirkan bahasa tubuh mereka, anak akan merasa dipahami perasaannya dan perubahan suasana hatinya.

Kebetulan sudah beberapa kali saya ikut pelatihan PSIKODRAMA. Sebagai pendidik PAUD saya merasa terbantu sekali karena di dalamnya terdapat beberapa unsur, antara lain adalah bahasa tubuh yang dapat saya terapkan dalam mendampingi anak belajar dan bermain di sekolah.

 

Ditulis oleh: C. Tyas Kusumastuty