Sharing Pengalaman Psikodrama, Playback Theatre Kelahiran Adikku di Yogyakarta


Sebenarnya malam itu Aku belum benar-benar terlelap, Jack. Aku masih saja merasakan emosi-emosi yang tertinggal setelah aku memainkan peran tadi. Biar aku ceritakan lebih detailnya.

Malam itu, aku bertemu mas Didi. Itu loh, seorang praktisi psikodrama yang pernah kamu ceritakan padaku. Siang itu kamu menceritakan bahwa ada istilah “Psikodrama” yang sepertinya perlu aku ikuti kapan-kapan ketika dia melakukannya di Bandung. Lantas aku bertanya disela-sela ceritamu. Lanjutkan membaca “Sharing Pengalaman Psikodrama, Playback Theatre Kelahiran Adikku di Yogyakarta”

Satu Kata yaitu Menyenangkan, Kesan Saat Praktek Psikodrama di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar


Pada hari Selasa tersebut, saya dan kawan-kawan melaksanakan kegiatan bermain Psikodrama bersama 15 adik yang telah kami pilih sesuai dengan kriteria yang telah kami tentukan dari 160-an andik yang ada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar.

Kegiatan kami laksanakan dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.30 WIB. Rancangan kegiatan dari warming up terlebih dahulu dengan di mulai dari pengenalan diri dengan berpose, setelah itu dilanjutkan dengan sosiometri, lokogram, dan sculpture. Setelah warming up, dilanjutkan dengan action.

Action berupa “memaafkan” dan teknik membayangkan masa lalu/masa depan. Dalam pelaksanaannya, karena waktunya tidak cukup jadi yang teknik “membayangkan” tidak jadi dilakukan. Setelah semua kegiatan dilakukan, kami menutupnya dengan reflection dari keseluruhan kegiatan.

Kesan saya mengenai kegiatan yang kami lakukan ini jika misal diungkapkan dalam satu kata yaitu menyenangkan. Tidak ada lagi yang bisa saya ungkapkan selain itu. Walaupun memang kegiatannya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan, tapi saya benar-benar menikmati kegiatan ini.

Surakarta, 6 Agustus 2019

Hajjy

15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno


Moreno Academy, Beacon, N.Y.

Pertumbuhan permintaan akan pekerja berketrampilan psikodrama telah membuat kita memperhatikan kebutuhan untuk menstruktur suatu pernyataan komprehensif dari aturan-aturan fundamental[1] dalam praktik metode ini, dan survei dan penjelasan singkat mengenai berbagai versi intervensi psikodramatis. Survei-survei lain metode ini telah menjelaskan beberapa darinya,[2] tapi penting untuk memiliki sejumlah aturan dasar untuk menjadi panduan bagi praktisi. Lanjutkan membaca “15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno”

Refreshing Bersama Psikodrama di Bontang Kalimantan Timur


Ujian nasional menjadi salah satu hal yang memusingkan anakku dan teman temannya. 4 kali try out dan dorongan orangtua yang melulu menyuruh mereka belajar bikin mereka mulai ‘muyek’. Ada inisiatif agar mereka menjadi lebih refresh, dan saya ditunjuk oleh para bunda membantu anak anak. Lanjutkan membaca “Refreshing Bersama Psikodrama di Bontang Kalimantan Timur”

Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?


Beberapa hari yang lalu Selasa, 19 Maret 2019, saya membantu kawan Psikolog dan mahasiswa S2 Psikologi, dalam mempraktekkan Psikodrama di Salah satu Panti asuhan di Medan.  Beberapa Teknik yang dipakai adalah Lokogram, Spektogram, Sculpture, dan Imagery. Saya tidak ingin menceritakan proses praktek teknik-teknik Psikodrama ini, melainkan membagikan pengalaman dalam mengevaluasi, merefleksikan proses yang dilakukan oleh  Mahasiswa S2 Psikologi dalam praktek tersebut. Lanjutkan membaca “Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?”

Terapi Menulis #03 Dorongan itu Muncul lagi


Selama beberapa hari terakhir, aku bukan tidak mengalami apa yang kualami pada hari-hari sebelumnya. Masih seperti sebelumnya, karena ada pemicu atau tidak ada pemicu, tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diri untuk meracau. Kepalaku terasa berkedut-kedut dan berat, lalu sekujur tubuhku mulai ingin melakukan hal yang repetitif. Kelenjar air mataku terasa meradang, sementara tenggorokanku tercekat.

Aku mencoba menjalani seperti apa yang dikatakannya: menyalakan alarm untuk satu jam ke depan kemudian menuliskannya. Namun, dorongan di dalam diriku menolakku untuk menulis. Ia menolak untuk dilihat, ditonton, diketahui, diidentifikasi, kemudian pada akhirnya dihilangkan. Yang aku ketahui saat ini, ada dua dorongan di dalam diriku: dorongan untuk bisa terus sadar seperti saat aku menulis ini, dan dorongan untuk gelisah. Keduanya ingin menguasai diri ini secara penuh dan tidak ingin disingkirkan secara penuh. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis #03 Dorongan itu Muncul lagi”

Obrolan di Warung Kopi tentang Rencana Psikodrama di Jakarta


Usai acara Pengenalan Psikodrama di Hotel Cakra Kembang Yogyakarta, Temenku mengajak minum kopi sambil ngobrol rencana tindak lanjut dari kerjasama ini. Ia sudah cukup pengalaman mengadakan EO, terutama tentang Pelatihan untuk Pengembangan Diri, baik Pengembangan Personal maupun Profesi.

Salah satu peserta mengungkapkan dalam Lingkaran Penutup, bahwa Acara seperti ini sangat menarik. Sebuah Pelatihan hampir sepenuhnya aktif, tidak menulis tanpa Slide Proyektor, Emosinya dapat, pemahamannya dapat dan menjadi Yakin mampu melakukannya. Belum pernah ia mendapatkan pengalaman seperti itu. Dia yakin bahwa Metode ini (Psikodrama/Action Metode) akan laku jika ditawarkan di Jakarta. Aku senang mendengarnya dan kami di Warung Kopi (Caffee) ingin menindaklanjutinya. Lanjutkan membaca “Obrolan di Warung Kopi tentang Rencana Psikodrama di Jakarta”

Cerita Mawar #part 04 Menjadi Mahasiswa Psikologi


Saat pendaftaran kuliah aku sempat bingung mau kuliah dimana, aku sempat berfikiran untuk melarikan diri dengan cara kuliah di luar kota, namun biaya terbatas sangat saat itu. Sempat terbesit masuk Teologia namun tidak disetujui keluarga. Akhirnya akupun pergi mencari informasi kampus yang super terjangkau saat itu, daftarlah di kampus tersebut.

Akupun mengikuti tes berupa matematika, bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Setelah Tes tersebut aku diberi kabar bahwa ada psikotes tambahan bernama Tes kerohanian dan saat dicari di Internet ternyata tes itu satu paket dengan MMPI dan NAPZA. Karena takut kondisi psikisku yang kacau akan diketahui keluarga, akupun menolak lanjut tes meskipun keluarga sudah mengatakan tidak apa tes saja, hal ini karena adanya ketidak-percayaan akan kondisi keluarga. Akhirnya akupun ganti cari kampus lain. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 04 Menjadi Mahasiswa Psikologi”

Bagaimana Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) Bekerja


diposting pertama pada 14 Maret 2012

Saya melihat Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) sebagai sintesis dari semua hal berikut:

1. Prinsip umumnya adalah “Kreativitas” sebagai tujuan umum — yang berbeda dengan tujuan umum abad ke-20 yang berharap “menyelesaikannya dengan benar” (seolah-olah ada pihak berwenang yang tahu apa jawaban yang benar). Adanya pergeseran seluruh pandangan dunia di sini, dari dunia sebagai tempat yang relatif stabil di mana kita harus beradaptasi, ke perubahan pascamodern, aktif dan akseleratif, co-evolusi pikiran, budaya, dan teknologi. Ini juga merupakan tujuan yang lebih positif, tidak begitu memberi kesan memalukan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan atau tidak cukup mengerjakan pekerjaan rumahnya. Lanjutkan membaca “Bagaimana Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) Bekerja”

Beberapa Metode dalam Psikodrama


Dalam psikodrama, para peserta mengeksplorasi konflik internal dengan menampilkan emosi dan interaksi interpersonal mereka di atas panggung. Sesi psikodrama (biasanya 90 menit hingga 2 jam) berfokus terutama pada peserta tunggal, yang dikenal sebagai protagonis. Tokoh protagonis memeriksa hubungan mereka dengan berinteraksi dengan aktor lain dan pemimpin, yang dikenal sebagai sutradara (Director). Ini dilakukan dengan menggunakan teknik khusus, termasuk mirroringdoublingsoliloquy, dan role reversal. Pembahasan ini sering dipecah menjadi tiga fase – the warm-up, the action, and the post-discussion.*(baca TahapanPsikodrama ) Lanjutkan membaca “Beberapa Metode dalam Psikodrama”