Psikodrama Dapat Sangat Berbeda Pada Setiap Kali Praktek, Sebuah Testimoni dari Bandung


Sebuah tanggapan dari teman Psikodrama di Bandung, Iip Fariha, dari tulisan hari ini tentang Sosiometri untuk Membangun Sinergi. Awalnya aku share tulisan ini ke WA nya, dan kami berdialog sebagai berikut:

I : Kamu baik sekali menjelaskan proses dan definisinya. Bagi pemula menjadi lebih terbayang apa yang harus dilakukan.

A: Syukurlah…dapat jelas dimengerti🙏🙏🙏
Lanjutkan membaca “Psikodrama Dapat Sangat Berbeda Pada Setiap Kali Praktek, Sebuah Testimoni dari Bandung”

Aku dan Keterlambatanku, Indah pada Waktunya.


Dulu waktu SMA aku paling sering terlambat. Dan bukti akan hal itu adalah dipanggilnya Orang tuaku ke sekolah untuk membahas masalah keterlambatanku ini. Di SMA kalau terlambat di wajibkan senam di Teras di dekat ruang Kepala Sekolah. Setelah senam baru diijinkan masuk untuk mengikuti pelajaran jam berikutnya, setelah diberikan surat keterangan dari Wakil Kepala Sekolah. Lanjutkan membaca “Aku dan Keterlambatanku, Indah pada Waktunya.”

Aku dan Pilihan Jalan Hidupku,…


Lebih dari 5 tahun yang lalu, aku bertemu dengan Seorang Romo di Girisonta, beliau mengatakan, Manusia itu makhluk menyejarah. Karena aku berlatar belakang Psikologi,maka aku tangkap maknanya bahwa, Pribadi yang sehat mental adalah yang mampu menuliskan sejarah hidupnya.

Waktu itu aku sedang proses pengolahan hidup (retret), mengolah sejarah hidupku untuk menentukan langkah selanjutnya. Aku barusan mengundurkan diri dari tempat kerjaku, perusahaan yang bergerak di pertambangan batu bara. Sebuah pilihan yang ditimbang-timbang lebih dari 2 tahun, dan sekarang adalah usaha untuk memantapkan pilihan tersebut. Lanjutkan membaca “Aku dan Pilihan Jalan Hidupku,…”

Penari Lumba-lumba yang (bukan) Bernama Bambang, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Bismillahirrohmanirrohim

Mendengar kata psikodrama pertama kali dua tahun yang lalu. Penasaran dan banyak pertanyaan dalam benak namun baru sempat browsing lebih dalam di medio Juni 2019. Tulisan-tulisan psikodrama yang saya dapat kebanyakan berbahasa asing. Seseorang teman yang aktif di sosial media Instagram menyarankan saya untuk stalking dulu ke @psikodrama_id, lalu lanjut menelusuri event-event terkait psikodrama yang selalu saja hanya satu nama yang terhubung di sana. Retmono Adi yang nampaknya memang dedengkotnya ahli psikodrama. Lanjutkan membaca “Penari Lumba-lumba yang (bukan) Bernama Bambang, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta”

Apakah Kita Sudah Berbaik Hati pada Diri Sendiri ?


Perkembangan zaman menuntut saya untuk berkompetisi satu sama lain dan menjadi terbaik untuk menggapai suatu posisi tertentu.

Seringkali saya diajarkan oleh lingkungan untuk berjuang, kuat dan tidak mengasihani diri sendiri dalam rangka menjadi diri sendiri. Melalui pelatihan psikodrama dengan judul Stress Management and self compassion yang diisi oleh mas Didik (aka Retmono Adi). Saya tidak sendirian, ada 7 orang teman saya yang berlatar belakang psikologi, beberapa dari mereka menjadi praktisi di bidangnya.

Aktivitas terapi melalui psikodrama sangat menyenangkan, kami tak banyak bicara, kami hanya bergerak secara spontan. Kami tertawa, saling menganalisis satu sama lain, menguatkan satu sama lain. Hal yang sedikit mengejutkan bagi saya, teman saya yang selama ini memiliki image tegar dan tangguh dapat menintikkan air mata karena teringat suatu kejadian di masa lalunya. Reaksi emosi dari teman-teman yang mengikuti sesi terapi keluar, tanpa ada rasa canggung, emosi negatif terpendam seperti penyesalan, kebencian, marah dan sedih keluar mengalir begitu saja.

Saya belajar dalam pelatihan psikodrama mengenai kebaikan untuk diri sendiri. Saya mendapatkan pelajaran untuk berbuat baik pada diri sendiri. Saya termasuk orang yang keras pada diri sendiri, saya percaya proses tidak akan menghianati untuk mendapatkan hasil. Untuk berjuang terkadang saya merasa iri dengan pencapaian teman-teman saya yang menurut saya lebih baik. Saya seringkali iri melihat teman saya yang kuliah di kampus keren di luar negeri, iri melihat teman yang bekerja di perusahaan bonofit, iri melihat bisnis teman yang sukses. Rasa iri memacu saya untuk berkompetisi menjadi lebih baik.

Namun rasa iri ini membuat saya menjahati diri sendiri. Saya tidak menghargai usaha saya sendiri karena merasa orang lain lebih baik daripada saya. Menyalahkan diri sendiri, membiarkan diri tenggelam dengan kesedihan, membandingkan diri dengan orang lain merupakan bentuk kejahatan pada diri sendiri. Pelatihan ini mengajarkan saya untuk berdamai, menerima keadaan diri. Saya mendapatkan satu pemahaman baru bahwa setiap orang punya cerita mengenai dirinya, mereka juga berjuang menjadi diri terbaik.

Hakikatnya hasil yang kamu ingin capai bertujuan untuk dinikmati bukan untuk mempersulit dirimu.

Yogyakarta 16 September 2018

Diana Putri Arini

Cerita Sejarah Psikodrama Ku


Sejak Kapan mulai ber-Psikodrama? Pertanyaan yang sering diajukan peserta pada sesi perkenalan.

Aku sejak kuliah sudah suka teater, merintis teater di Psikologi UGM pada tahun 1994 (Keluarga Rapat Sebuah Teater). Pada waktu itu aku berpikir bahwa Ilmu Psikologi mempelajari perilaku dan bermain drama adalah melatih berperilaku yang nantinya akan dipentaskan. Drama dan Psikologi harusnya melengkapi.

Belum ada internet, jadi masih sulit aku menemukan buku atau tulisan yang membahas tentang Psikologi dan Teater, namun aku sudah mencoba-coba praktek teori Psikologi dalam latihan teater. Lanjutkan membaca “Cerita Sejarah Psikodrama Ku”