Cinta Dalam Diam, Drama Perjuangan Hidup Prita #12 Cerita Pendek


Sesi Konseling Kesembilan

“Aku merasa sangat bersalah. Aku tidak bisa tidur malam itu. Beberapa jam kemudian ayahnya pulang, nada suara ayahnya masih dipenuhi dengan kemarahan. Aku tidak lagi bisa mendengar perbincangan mereka dengan jelas karena di luar hujan semakin deras. Setelah kepulangan ayahnya, Rio masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mengetuk pintu kamarku lagi. Giliranku mengetuk pintu kamarnya. Dia buka pintunya. Lalu aku berkata, ‘maafkan aku, Rio. Aku sudah berbuat lancang. Tidak seharusnya aku melakukan itu. Maafkan aku.’ Lanjutkan membaca “Cinta Dalam Diam, Drama Perjuangan Hidup Prita #12 Cerita Pendek”

Teringat Satu Nama, Drama Perjuangan Hidup Prita #06 Cerita Pendek


Kutemukan rumah yang selalu mengingatkanku tentang satu nama yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku

(Sesi Konseling Ketiga)

“Saat aku mengaku kalau aku hamil anak Yudha, ibu asuhku marah. Lalu bilang, ‘Jangan gampang percaya dengan laki-laki! Sekarang kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Aku akan sibuk mengurusi warung. Jadi aku tidak akan bisa membantumu mengurusi bayimu. Itu risiko yang mau tak mau harus kau tanggung.’ Ucapnya dingin tanpa empati sama sekali. Lanjutkan membaca “Teringat Satu Nama, Drama Perjuangan Hidup Prita #06 Cerita Pendek”

Sekolah Kehidupan, Drama Perjuangan Hidup Prita #04 Cerita Pendek


Sekolah Kehidupan (Sesi Konseling Kedua)

“Jadi Anda tidak diadopsi?” tanya Tunjung kepada Prita di sesi konseling kedua.

Prita menggelengkan kepala. Kemudian ia kembali  bercerita.

“Hari pertamaku di panti, tidurku tidak nyenyak. Aku benar-benar merasa sebatang kara. Ada kekosongan yang begitu dingin masuk ke dalam diriku. Ada luka tak kasat mata yang terasa begitu sakit. Aku menangis tersengal-sengal sampai agak sesak nafas. Kenapa aku sengaja ditinggal? Apakah aku ini tidak berarti untuk mereka? Kenapa aku harus lahir? Aku lahir untuk siapa? Lanjutkan membaca “Sekolah Kehidupan, Drama Perjuangan Hidup Prita #04 Cerita Pendek”

Kepergian Ibu, Drama Perjuangan Hidup Prita #02 Cerita Pendek


Kepergian Ibu

“Mungkin ada pengalaman yang ingin diceritakan saat Anda tinggal di panti?”

Prita terdiam. Matanya sekilas memandangi perempuan yang sedang duduk di hadapannya. Tatapannya beralih ke name-tag yang dikenakan perempuan itu. Namanya Tunjung Mekar Sari, tertulis lengkap dengan gelar psikolog di belakang tulisannya. Prita menarik napas dalam-dalam, ia menyandarkan bahunya pada kursi empuk berwarna hitam. Pikirannya terlempar jauh, ketika ia berusia sepuluh tahun. Perlahan, dengan tatapan melamun, ia memulai ceritanya. Lanjutkan membaca “Kepergian Ibu, Drama Perjuangan Hidup Prita #02 Cerita Pendek”