Psikodrama sebagai Metode Terapi Kelompok Memiliki Tingkat Kesulitan yang Tinggi


Lumayan juga dari obrolan santai lewat WA, muncul ide untuk membagikan tulisan ini. Kami sharing mengenai pengalaman belajar dan praktek Psikodrama. Akhirnya kami sepakat bahwa Psikodrama memiliki tingkat kesulitan yang tinggi hal ini diawali dengan pernyataan Iip Fariha, rekan Psikolog yang di Bandung, mengatakan bahwa Kang Asep mempersyaratkan agar belajar teknik-teknik lain sebelum belajar Psikodrama. Psikodrama masuk kategori teknik tertinggi dari psikoterapi. Lanjutkan membaca “Psikodrama sebagai Metode Terapi Kelompok Memiliki Tingkat Kesulitan yang Tinggi”

Kesan-kesan Mengikuti Psikodrama, Berani untuk Jujur pada Diri Sendiri


Pertama kali saya mendengar tentang psikodrama Indonesia adalah dari teman seperjuangan, guru, dan inspirator saya, yaitu Ms. Christine. Kesan pertama yang muncul di benak saya dari cerita-ceritanya adalah “penasaran”. Ms. Christine menggambarkan psikodrama sebagai peluapan emosi kita yang terpendam selama ini, baik positif maupun negatif. Bisa membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri juga.

Apakah bentuknya seperti hipnosis?

Terapi? Lanjutkan membaca “Kesan-kesan Mengikuti Psikodrama, Berani untuk Jujur pada Diri Sendiri”

Alternatif Pendidikan Dasar dalam Membangun Karakter


Saya mau berbagi apa yang saya dapatkan di Group Linkedin (Psikodrama Indonesia) yang dituliskan oleh Pak Andrew Jansen, yang dapat menjadi alternatif Pendidikan Dasar dalam Membangun Karakter :

Helen O’Grady adalah lembaga pendidikan non formal yang bertujuan mengembangkan potensi diri dan menggali kreativitas anak dengan memanfaatkan cara drama yang relaks dan penuh imajinasi. Helen O’Grady berbeda dari sanggar drama umumnya. Wadah ini tak bertujuan menciptakan atau melatih anak untuk menjadi seorang bintang panggung drama, sinetron, maupun film. “Meski begitu, tak tertutup kemungkinan bila di kemudian hari mereka juga bisa menjadi bintang drama dan semacamnya. Lanjutkan membaca “Alternatif Pendidikan Dasar dalam Membangun Karakter”