Di Akhir Hidupnya Dr. Jung Sudah Tidak Mengalami Mimpi Lagi


Suzanne Percheron: Saya mengira bahwa Anda memiliki/mengalami mimpi (dalam tidur) ?

Dr. Jung: Tidak, saya hampir sudah tidak pernah bermimpi lagi (!!!)

Saya dulu biasanya bermimpi ketika saya mulai untuk mengungkap/menemukan alam bawah sadar/unconscious saya

Bermimpi ketika alam bawah sadar memiliki pesan atau suatu hal yang ingin disampaikan kepada saya (semacam existential message), tapi alam sadarku/my consciousness selalu menerima/reseptif sekarang sejak pintu itu terbuka (pintu penghubung alam bawah sadar)
Saya sekarang siap menerima apapun.

Melalui diriku alam bawah sadar dapat mengalir ke dalam alam sadarku/my consciousness.

Saya sudah tidak lagi memiliki prasangka, rasa takut, atau resisten (menolak pada hal-hal yang datang/terjadi dalam hidup).

Mimpi adalah suatu cara dimana alam bawah sadar/unconscious membuat dirinya dikenal/diketahui di dalam alam kesadaran/consciousness.

Banyak orang yang tidak mengingat mengenai mimpi mereka karena alam bawah sadar/the unconscious tahu bahwa dia tetap tidak akan didengarkan oleh si orang tersebut, jadi apa gunanya; sehingga mereka tidak mengingat mimpi mereka.

[apa gunanya Anda ingat mimpi itu, toh Anda tidak akan mau mendengarkan saya (unconsciousness) juga.

~~C. G. Jung, Emma Jung and Toni Wolff – A Collection of Remembrances; Pages 51-70

 

Penerjemah

Muslimah A. Salam.
Explorer dari Kota Palu, Sulawesi Tengah.

*diterjemahkan bebas dari :  Late in his life Dr. Jung stopped dreaming

 

Cerita Mawar #part 04 Menjadi Mahasiswa Psikologi


Saat pendaftaran kuliah aku sempat bingung mau kuliah dimana, aku sempat berfikiran untuk melarikan diri dengan cara kuliah di luar kota, namun biaya terbatas sangat saat itu. Sempat terbesit masuk Teologia namun tidak disetujui keluarga. Akhirnya akupun pergi mencari informasi kampus yang super terjangkau saat itu, daftarlah dikampus tersebut. Akupun mengikuti tes berupa matematika, bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Setelah Tes tersebut aku diberi kabar bahwa ada psikotes tambahan bernama Tes kerohanian dan saat dicari di Internet ternyata tes itu satu paket dengan MMPI dan NAPZA. Karena takut kondisi psikisku yang kacau akan diketahui keluarga, akupun menolak lanjut tes meskipun keluarga sudah mengatakan tidak apa tes saja, hal ini karena adanya ketidak-percayaan akan kondisi keluarga. Akhirnya akupun ganti cari kampus lain. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 04 Menjadi Mahasiswa Psikologi”

Realisme, Keaktoran, dan Stanislavski


September 1st, 2008 by M. Fadli, aktif di teater Rumah Teduh

Stanislavsky adalah seniman sejati. Dia meleburkan sekaligus menggeneralisir diri dengan utuh, hingga akhirnya dia menjelajahi sendiri kisi-kisi kehidupannya sampai ke tingkat paling mendetail. Penonton tak lagi membutuhkan penjelasan lanjutan atas apa yang dia tampilkan. Menurut pendapat saya, begitulah teater seharusnya. (Lenin,1918)

Lanjutkan membaca “Realisme, Keaktoran, dan Stanislavski”

Mimpi Itu Ajaib


Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminar Analisa Mimpi yang diselenggarakan PT Maximo dengan fasilitator Pak Retmono Adhi (alias Didik). Seminarnya seru, mudah dimengerti, dan bermanfaat. Awalnya sebenarnya cukup bingung, karena diselenggarakan di salah satu tempat karaoke di bilangan Tebet. Namun ternyata setelah hadir di sana, seminarnya menarik dengan latar belakang lagu “I Have A Dream”)….pantas saja dipilih tempat karaoke 
Awal seminar, kami diminta untuk mencari 1 tema yang paling sering muncul dalam mimpi, lalu tema tersebut pun dikelompokkan. Selanjutnya masuk pembahasan mimpi dalam tim. Kami berusaha untuk menerjemahkan mimpi masing-masing dibantu oleh teman-teman sekelompok yang mendengarkan mimpi tersebut. Yang unik, pembahasan mimpi ini bersifat individual, artinya meskipun temanya sama, bisa saja mimpi yang terlihat mirip penafsirannya untuk 2 orang, ternyata dapat diterjemahkan sebagai sesuatu yang berbeda, benar-benar tergantung pada individunya sendiri.
Pulang dari seminar ini, saya belajar hal baru, bahwa ternyata mimpi bukan hanya sekedar bunga tidur. Mimpi dapat menjadi petunjuk untuk memperbaiki diri, mengembangkan kemampuan, bahkan menyelesaikan masalah yang tidak terpecahkan di alam sadar. Yang perlu dilakukan hanya menyadari mimpi kita, dicatat, lalu dianalisa dengan jujur…niscaya akan dapat bermanfaat.

FT

Apa Psikodrama itu, dan untuk Siapa ?


Kamis, 8 Mei, 2008

Apa Psikodrama itu dan untuk Siapa ?

Psikodrama adalah praktek profesional metode aksi yang diciptakan oleh almarhum Dr Jacob L. Moreno. Psikodrama adalah suatu uji-waktu, metode klinis yang telah terbukti untuk membantu orang, mencapai tujuan pribadi, melalui proses terstruktur, improvisasi dramatis. Secara umum Psikodrama menggunakan, sociometry, dinamika kelompok, teori peran, dan analisa sistem sosial untuk memfasilitasi perubahan konstruktif dalam individu dan kelompok melalui pengembangan persepsi baru atau reorganisasi kognitif pola lama. Psikodrama bukanlah proses yang eksklusif – tidak ada pelatihan khusus, pendidikan, atau pengalaman yang diperlukan dalam rangka untuk mendapatkan manfaat dari berpartisipasi dalam psikodrama.

Lanjutkan membaca “Apa Psikodrama itu, dan untuk Siapa ?”

Belajar Psikodrama di Yogyakarta : Kenali Diri Optimalkan Potensi


Adalah Angkatan 91 Psikologi Gadjah Mada, berniat untuk berbagi, atas nama Kenangan yang Mesra. Diawali dengan adanya Rumah yang dapat digunakan untuk ngobrol, bercanda, dan tempat tujuan siapa saja Angkatan 91 Psikologi UGM, yang “pulang” ke jogya.

Agar rumah tersebut berfungsi maka perlu aktivitas yang berkelanjutan.

Maka diputuskan mengadakan pelatihan berdasar Psikodrama di rumah jl Sulawesi, Sinduadi, Sleman, Yogyakarta, milik bapak Endro Pranowo. Dengan melibatkan karyawan Gendhis Bag, mulailah belajar Psikodrama mengangkat tema “Kenali Diri Optimalkan Potensi”

Psikodrama di Jogya

Pelaksanaan pada tanggal 15 Agustus 2013, dengan peserta 10 orang.

Bagaimanapun ide yang baik, secepatnya diwujudkan dalam tindakan.

Tujuan sudah dicanangkan, langkah sudah diayunkan. Tujuan yang baik, semoga berjalan dengan baik dan memberikan hasil yang baik. Amien

CARI MUKA ADALAH SKILL…???


sebuah diskusi yang diawali pertanyaan oleh Kinki Rovelt Vinsensius Sitorus :

” knp org yg cari muka yg tidak ada isinya lbh banyak dikasih kesempatan drpd orang yg tidak bisa mencari muka yg punya keinginan kuat u/ dpt lebih? pdhal saya sering mendengar cari muka itu adlh skill ?”

…dan mengalirlah kristal-kristal pemikiran para praktisi. kusalin disini agar lebih banyak yang terlibat berdiskusi,….

Syahrezal .Simple sih pak Kinki, karena mereka menunjukkan keinginan dan ketertarikannya dan mampu menjual diri untuk mendapat promosi. Ya memang ini merupakan skill mirip sales menjual produk 🙂 Untuk menjadi anggota DPR saja orang perlu menunjukkan keinginan dan niat baiknya dahulu untuk membantu rakyat baru kemudian dia dipilih oleh rakyat. Kalau anda tidak menunjukkan keinginan dan niat baik anda mana mungkin orang mengetahui keinginan anda tersebut. Lanjutkan membaca “CARI MUKA ADALAH SKILL…???”

Andaikan Pemimpinku…… ( Panduan Memilih Pemimpin untuk Pemilu Nanti )


9 Kualitas dari Orang yang ber-Keyakinan Diri

Pertama-tama: Keyakinan diri bukanlah keberanian, angkuh, sombong, atau berpura-pura berani. Keyakinan diri bukanlah muka tembok atau kurang ajar terhadap orang lain.

Keyakinan diri adalah tenang: Ini adalah ekspresi alami dari Kemampuan, Keahlian, dan Penerimaan diri.
Saya beruntung mengetahui sejumlah orang yang benar-benar memiliki Keyakinan Diri. Kebanyakan bekerja dengan saya di HubSpot, yang lain adalah sesama pendiri Startups sendiri,serta beberapa di antaranya saya temui melalui kegiatan Angel Investment Activity. Namun mayoritas adalah orang-orang yang saya temui sepanjang karir saya dan yang bekerja di berbagai industri dan profesi.

Kehadirannya tidaklah mengejutkan, Mereka semua menunjukkan sejumlah kualitas Lanjutkan membaca “Andaikan Pemimpinku…… ( Panduan Memilih Pemimpin untuk Pemilu Nanti )”

Marah adalah KEBIASAAN


Marah,…adalah KEBIASAAN

Sangat mudah untuk membayangkan kebiasaan seperti minum setelah makan, menggigit kuku atau mengatakan “iya kan?” setelah setiap kalimat. Sesuatu yang memicu kita, dan kita membawa kebiasaan ini kemana pun. Ini lebih mudah daripada membayangkan suatu konsep baru – hal ini hanyalah sebuah pemicu untuk respon tanpa dipikirkan

Nah, disini emosi dapat menjadi sebuah kebiasaan juga. Lanjutkan membaca “Marah adalah KEBIASAAN”

Niat Masuk Psikologi


Selamat Pagi sejawat komunitas psikologi ysh,

Senin pagi adalah lembaran baru di awal pekan. Pagi ini saya tertarik untuk merenungkan semua yang pernah saya dengar tentang psikologi. Saya ingin berbagi tentang renungan itu dengan sejawat sekalian dengan harapan semoga kita dapat meluruskan yang keliru, menggarisbawahi yang benar dan aktif melakukan sosialisasi sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing, juga mengembangkan agar peran dan fungsi psikologi semakin jelas bagi semua pihak, internal dan eksternal. Saya berharap semua anggota milis ini dapat menyampaikan pemikiran dan pemahaman untuk kita renungkan bersama lalu kita benahi bersama pula.
– Setiap kali diundang sebagai dosen tamu di beberapa  fakultas, negeri maupun swasta, saya selalu suka mengajukan pertanyaan, “Apa alasan anda memilih bidang studi ini?” Surprise juga buat saya ketika sekitar 80 % menjawab ‘kecemplung’ (= tercebur) alias tidak diniatkan. Jawaban ini juga saya peroleh dari mahasiswa psikologi. Tidak heran ketika ditanya media, mahasiswa tersebut tidak dengan lantang dan percaya diri menyebutkan alasannya, malah terkesan ragu. Ironisnya, ada di antara mahasiswa yang mempertanyakan beda psikolog dan psikiater (wah ini pe er gede untuk para dosen ya). Lha kalau mahasiwa psikologi masih ada yang seperti itu, apa yang kita harapkan dari awam? Saya tidak tahu apakah yang semula kecemplung itu lalu menjadi paham dan suka dengan bidang studi yang ditempuhnya yaitu menjadi ilmuwan psikologi dan psikolog.