Surat Kepada Jiwa-Jiwa Merdeka


Kepada Yth

Jiwa jiwa merdeka yang terkurung dalam tubuh fana,

 

Apakah hidup seperti ini yang memang kau inginkan untuk dijalani ?

Mengapa ada marah yang masih menggelora dalam dada?

Adakah salah yang masih kau lihat dari luar dirimu?

atau sebenarnya kemarahan pada kelemahan dirimu sendiri yang takut kau akui?

 

Kau cerita tentang perjuangangan yang telah kau lakukan,

namun kau akui juga bahwa itu tidak ada makna dan karya yang nyata,

apakah betul demikian?

dari kacamata apa kau lihat hal itu ?

 

owh iya kau tidak melihat itu semua.

kau sibuk melihat kesalahan orang lain,

yang menjadikan hampir semua rencanamu tidak berhasil

dan hidup yang seperti ini

yang lalu kau jalani.

 

Sekali lagi, aku bertanya,

Apakah hidup seperti ini yang kau inginkan?

tak tahukah bahwa akan ada waktu

ketakutanmu menjadi tindak kejahatan ?

 

Yogyakarta 23 November 2021

Retmono Adi

Coretan “For Got Aen” by Adina Hafidhah Amalia


FOR GOT ӔN

18 OURS

Sometimes nothing
Sometimes reaching

Sometimes broken
Sometimes forgives

Sometimes lose
Sometimes learn

There is always
For got an
But there is always
Forgotten

Thank U,
@psikodrama_id
Solo, 16 Juni 2019

Adina Hafidhah Amalia

Psikodrama di Jakarta, Prosesnya Diungkapkan Lewat Rasa


Prosesnya diungkapkan lewat Rasa

Dalam upaya memastikan keyakinan dan mencari dukungan
Diri menyerahkan seutuhnya,tanpa melupakan sang kuasa
Jika jodoh ada atas kuasa-Nya
Maka diri ini harus memastikan Kekuasaan-Nya itu

Diri bersepakat bahwa tidak ada yang benar atau yang salah
Tapi diri dengan kepalanya tetap saja mencari pembenaran dan menyalahkan.
Diri dengan begitu percaya mengatakan bahwa diri itu unik dan berbeda
Tapi diri masih saja secara yakin bersikap seperti norma kebanyakan diri yang lain

Berterima bukan tanda lemah
Mencoba berserah, bukannya berarti pasrah
Dari leher ke kepala perlu rehat
Biarkan dada yang menerima karena rasa seharusnya tak pernah dusta

Bertatap saat itu menjadi sulit, apalagi diharuskan untuk berucap
Sebuah kata terimakasih anehnya terasa begitu sangat dalam
Kala airmata dianggap sebagai makna kedalaman
Semua diri merelakannya, tak khawatir habis, malah bersyukur bisa lebih lega

Ketika sang Protagonis diminta mengeksplorasi memori
Dibuatnya sang memori keluar dari diri agar setiap orang bisa melihat
Menjadi adalah cara efektif untuk lebih mengerti dan paham
Tapi jangan lupa kembali, lebih untuk menjaga agar tidak tersesat

Kalau tikar dan termos saja berterima atas kelebihannya,
Mengapa harus dibahas lagi kekurangan-kekurangannya??
Manusia adalah makhluk kompleks yang berakal.
Tapi juga berperasaan, camkan itu.

Jika jujur masih disanksikan hadir dari orang lain
Maka, kenapa tidak berbicara pada diri sendiri saja?
Naif jika pada diri sendiri saja masih tidak jujur.
Setidaknya diri akan tau jika diri membohongi dirinya sendiri.

Melingkar sebagai sebuah tanda akan usai
Saling menatap berupaya mendapat rasa yang sama
Saling menggenggam agar berusaha satu frekuensi
Diri-diri akhirnya menyepakati, rasa ini harus disebar

Mereka bukan lagi diri-diri yang datang tadi pagi
Ini bukan hanya belajar, tapi berobat juga tentu saja
Selamat.. Kalian memang benar-benar berjodoh.
Psikologi dan Drama dalam Psikodrama…. Terimakasih

28 April 2019
Di Laboratorium Psikologi AU

Faldhy Dwi Budiansyah