Coretan Lama 37; Dialog Fiksi #4 Apa yang Kau Takutkan Lagi ?


Dialog Fiksi #4

A : Apa yang kau takutkan lagi?

B : Aku takut jika aku tidak lagi mempunyai hasrat untuk menjalani hidup. Takut jika aku tidak mau melakukan apa-apa. Kemudian tidak bisa menjadi apa-apa.

A : Setidaknya kau masih diberi kesempatan untuk memilih. Untuk dapat meraih sesuatu yang berarti, selalu dibutuhkan pengorbanan dalam bentuk apapun. Kau boleh menangis sesukamu. Tapi setelah itu kau harus bangkit dan ingat bahwa kau masih punya harapan terhadap dirimu sendiri.

B : Kau benar, tetapi tetap saja aku…

A : Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Upayakan apa yang bisa kau upayakan. Lepaskan segala hal yang menyiksa batinmu. Jangan lupa beri makan jiwamu dengan hal-hal baik. Atau bila kau tidak sanggup lagi, kau bisa datang kepadaku. Tapi ingat, bukan berarti aku benar-benar ada. Kuatkan doamu. Dan ya, segeralah pergi. Kelak kau akan bisa melihat segalanya dengan lebih jernih, tanpa harus ada aku. Jangan tunggu aku. Jangan, sebab aku sendiri belum tahu kapan kira-kira Tuhan akan mengirimkanku di hidupmu. Aku tidak ingin melihatmu kecewa pada penantian yang melelahkan dan serba tak pasti. Entah, akankah aku ada dalam hidupmu atau tidak ada sama sekali. Kini pada saat-saat tertentu, aku hanya sebatas bayanganmu saja. Belum saatnya aku ada. Aku hanyalah aku yang sebatas semu, untukmu, dalam imajimu.

 

Kartasura, 8 Maret 2019 

Qanifara

Selamat, Hari Teater Sedunia


…SELAMAT “ HARI TEATER SEDUNIA“…
Viva La Teater !!!
Salam Budaya!

Pesan untuk Hari Teater Sedunia 27 Maret
ditulis oleh Carlos Celdran, dari Kuba
(digagas oleh International Theatre Institute – UNESCO) Lanjutkan membaca “Selamat, Hari Teater Sedunia”

Bagaimana Mengelola Pekerjaan Kantor yang Bertumpuk Menggunakan Psikodrama ?


Ada pertanyaan dari peserta saat Live Instagram pada Hari Rabu tanggal 24 Maret 2021 dengan tema Mengelola Stres Karyawan Menggunakan Psikodram., Bagaimana Mengelola Pekerjaan Kantor yang menumpuk. Sebelum menjelaskan pertanyaan tersebut, aku ingin memaparkan beberapa hal mengenai Psikodrama.

Moreno Bapak Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis yaitu Aktor Utama dari Drama kehidupannya. Menurut Stanislavsky Aktor memiliki 3 Instrumen utama untuk berakting yang perlu diolah dan dikembangkan yaitu Tubuh, Pikiran, dan Perasaan. Ketiganya perlu dilatih agar aktor mampu berakting dengan baik. Akting yang baik dalam hal ini aktor mampu mengintegrasikan dalam bentuk tindakan yang nyata dari ketiga instrumen itu dalam proporsi yang tepat agar sesuai dengan tuntutan perannya. Lanjutkan membaca “Bagaimana Mengelola Pekerjaan Kantor yang Bertumpuk Menggunakan Psikodrama ?”

3 Makna Cinta yang Kita Harapkan sebagai Manusia


Cinta bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Seluruh keberadaan manusia tidak lepas dari cinta. Manusia ada (lahir) karena dan buah dari cinta. Ia menjadi besar dan belajar juga tak lepas dari cinta. Banyak atau sedikit cinta yang dialami oleh seseorang adalah persoalan lain. Yang jelas ialah hidup manusia tidak lepas dari cinta.

Pertanyaan ialah apa itu cinta? Lalu, cinta yang bagaimana yang diharapkan/didambakan oleh manusia?

Dalam bahasa Yunani, ada tiga kata yang digunakan untuk mengungkapkan cinta, yakni: erosphilia dan agapeEros adalah cinta seksual, yang didasarkan pada nafsu/birahi. Di sini, orang lain tidak dipandang sebagai person/subyek melainkan hanya sebagai obyek. Penghargaan terhadap orang lain sebagai pribadi tidak ada. Satu-satunya yang ada ialah nafsu “ego”. Eros merupakan cinta yang terarah kepada orang lain tetapi ditujukan demi kepuasan pribadi orang yang mencintai. Dengan kata lain, cinta ini terarah kepada diri sendiri. Orang lain dilihat bukan karena pribadi melainkan didasarkan pada jenis kelamin semata.

Philia adalah cinta persahabatan. Di sini, cinta bersifat relasional. Orang lain telah dipandang sebagai pribadi yang mempunyai kekhasan/keunikan dan kualitas tersendiri: cantik, lembut, pengertian, dan seterusnya. Cinta philia tidak dibatasi oleh jenis kelamin tetapi terbuka kepada semua, baik pria maupun wanita.

Agape merupakan cinta yang tertinggi. Cinta ini tidak lagi tergantung pada bakat, kualitas-kualitas yang ada di dalam pribadi orang lain (cantik,lembut, ramah, pengertian, dsb); tidak memandang orang lain terbatas sebagai “pribadi yang lain” melainkan melihat orang lain sebagai bagian dari diri sendiri. Gabriel Marcel (seorang filsuf Perancis) membahasakannya dengan ungkapan: “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. Dalam konteks ini, “Aku” melihat diriku di dalam “dirimu” dan “Aku” menemukan “Engkau” di dalam “diriku”. Di sini, cinta agape merupakan cinta yang sanggup menderita dan berkorban (sebab “engkau” adalah bagian dari “aku” atau ”diriku” dan demikian juga sebaliknya). Ia keluar dari “ego” dan terarah serta terbuka kepada yang dicintai. Cinta agape melampaui jenis kelamin, cantik-jelek, kaya-miskin, pintar-bodoh; dan mengatasi segala tembok-tembok pemisah seperti perbedaan agama, suku, budaya, dsb.

Ketiga jenis cinta di atas ada di dalam diri setiap manusia, kendatipun kadarnya berbeda dalam diri masing-masing orang. Ada orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta eros daripada philia dan agape. Ada juga orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta philia atau agape daripada cinta eros.

Tentunya kita tidak mau hanya tinggal pada level eros saja. Manusia memiliki keinginan dan kemampuan untuk meraih sesuatu yang lebih. Usaha untuk melatih diri sangat dibutuhkan untuk sampai pada kedalaman jiwa/hidup. Pemikiran-pemikiran positif tentang orang lain (tidak hanya sekedar cantik, ganteng, jelek, lawan jenis, dll) akan membantu dalam usaha memurnikan eros dan philia sehingga menjadi agape.

Refleksi mendalam tentang nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan pasti sangat membantu untuk melihat orang lain (secara khusus orang yang kita cintai) sebagai bagian dari diri kita sendiri; bukan sebagai obyek pelampiasan nafsu (dalam arti luas). Hal itu akan menjadi kenyataan bila di dalam diri mulai dibangun penghargaan terhadap nilai dan kemurnian diri sendiri; tidak menjadikan diri sendiri sebagai obyek eros (baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri).

Salam penuh cinta buat anda semua….!!!!

Tulisan diatas aku copas dari Cinta: Eros, Philia, dan Agape tulisan Oleh: Frans R. Zai agar tersimpan di sini.

Ada dua peristiwa yang menjadikan aku mencarinya di google mengenai makna cinta ini.

Pertama tadi malam ada teman curhat perihal keinginannya untuk menikah dan sudah ada seorang perempuan yang menanyakan kapan ia akan melamarnya. Namun ia masih belum yakin akan dirinya sendiri.

Kedua, Kotbah Romo saat Misa hari ini tadi, menyebut tentang 3 makna Kasih dalam bahasa Yunani.

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.

Sebenarnya Aku ini Siapa?


Sebenarnya aku ini siapa?

Tiga puluh tahun lebih usia, masih juga aku susah mengenalinya.

Kebanggaan orang tua? 

Ah, orang tuaku sudah tak ada. Jadi kurasa bukan lagi itu.

Kebanggaan guru-guru? 
Ah, itu sungguh dari cerita lampau.

Kebanggan saudara-saudara? Bisa saja.
Tapi apa aku bahagia karena orang bangga padaku? 
Ah, enggak, aku biasa saja.
Jujur saja, aku lebih suka kaya raya.

Sebenarnya aku ini siapa?
Belasan tahun menjauh dari akar lahirku,
Tapi tak juga aku mengenal dirku.

Kadang sering takjub dengan cara semesta bekerja
Aku tak tahu apa-apa, tapi masih bisa hidup juga.
Ah, Tuhan memang serba tak terduga.

Tak kenal diri membuatku seperti sampan di tengah badai
Terombang ambing ke sana kemari
Tak ada jangkar, atau dayung untuk kupegang kendali
Aku, tak tahu harus apa lagi
Haruskah aku diam menunggu mati?

Sementara badai, terus mengamuk tak peduli
Dan aku memohon badai agar mau berhenti.

Cih. Memangnya aku siapa?
Mengharap badai reda demi sebutir manusia
Lagi-lagi, aku tak tahu harus menjawab pertanyaanku sendiri:

Sebenarnya, aku ini siapa?

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Depok 9 Maret 2021Depok 9 Maret 2021

Serat Sembadra

Kepribadian Ganda yang Sehat


Multiple Personality Order

Originally posted on July 6, 2018

Bukan gangguan, (disorder) ini sehat kok (order), paling tidak tertib lah tidak kacau. Aku adalah Board-Certified Psychiatrist dan ada “kondisi” yang disebut Gangguan Kepribadian Ganda. Saya ingin menyarankan adanya bentuk sehat yang disebut tatanan kepribadian ganda, juga dikenal sebagai keterlibatan sehat dalam banyak hal. Kepribadian orang memang bisa sangat bervariasi! Lanjutkan membaca “Kepribadian Ganda yang Sehat”

Coretan Lama 36; Dialog Fiksi #3 Mengapa Kau Tiba-tiba Menghilang Tanpa Kabar?


Dialog Fiksi #3

“Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar?”

“Karena aku telah menyadari sesuatu.”

“Menyadari apa?”

“Aku tidak akan pernah cukup untukmu.”

“Apa maksudmu?

Aku tidak mengerti.”

“Belum saatnya

kau mengerti dan sangat kumaklumi.

Aku harus pergi sekarang.”

“Apa maksudmu?

Kau akan pergi ke mana?”

“Pergi ke suatu tempat di mana aku bisa merasa diterima sepenuhnya.

Mungkin bagimu aku ini membosankan.

Tidak semua orang bisa menerima kebaikanku, apalagi keburukanku.

Penderitaanku selama ini mungkin akan kau anggap sebagai suatu

hal yang biasa-biasa saja

atau malah kedengarannya bagimu terlalu dramatis

karena kita saat ini berada di fase kehidupan yang berbeda.

Pengalaman emosi kita tak sama.”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksud…”

“Semuanya sudah terlihat jelas dari caramu memandanginya dan memperlakukannya.

Betapa kilaunya cangkang yang ia kenakan.

Tidak seperti cangkangku

yang telah retak

karena terlalu sering terhempas ombak kehidupan

Cangkangku yang kurang memikat

dan membutuhkan banyak perbaikan.”

 

Kartasura, 7 Februari 2019

Qanifara

Coretan Lama 35; Dialog Fiksi #2 Apakah Kau Tahu Hal yang Membuatku Tenang?


Dialog Fiksi #2

“Apakah kau tahu salah satu hal yang membuatku tenang?”

“Apa?”

“Ketika aku sedang tidak jatuh cinta kepada siapa-siapa.”

“Mengapa begitu?”

“Karena bagi orang ringkih sepertiku,

rasanya seperti membawa beban

di pundak dan pikiran.

Sudah terlalu sering aku melebih-lebihkan ekspektasi itu sendiri.

Selebihnya, aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri untuk kesekian kali.”

“Lalu bagaimana jika ada seseorang yang jatuh cinta kepadamu?”

“Aku rasa tidak ada.”

“Kalau ada, bagaimana?”

“Belum.

Belum saatnya.”

 

Kartasura, 6 Februari 2019

Qanifara

Coretan Lama 34; Dialog Fiksi #1 “Aku Tidak Ingin Pulang,”


“Aku tidak ingin pulang,” teriakmu

di kebun binatang

seperti anak kecil

yang sedang kegirangan

berada di toko mainan.

“Kenapa?” tanyaku seolah bingung

padahal aku paham maksudnya.

“Karena saat aku kembali ke tempat tidur,

aku kembali merasa

bahwa ada harapan-harapan

yang tidak bisa terawat dengan baik

khususnya ketika aku memandangi

punggungnya atau menerima pelukannya.

Kami sebetulnya

tak lebih dari sepasang manusia

yang tidak bahagia

tetapi terlalu memaksakan diri

agar terlihat bahagia.

Sering kali

ini membuatku tersiksa.

Katanya dia baik-baik saja.

Aku tidak percaya.

Barangkali dia hanya sibuk

menyangkal perasaannya.

Dia laki-laki

yang cukup baik sebetulnya,

tetapi kini

aku tidak lagi nyaman

bila bersamanya.”

 

Kartasura, 21 Januari 2019

Qanifara

Terapi Spiral Model (TSM) adalah Pengembangan Psikodrama untuk Penanganan Trauma yang Aman


Terapi Spiral Model (TSM)

TSM, yang dikembangkan oleh pelatih Psikodrama Amerika Katherine Hudgins, adalah metode terpadu dari psikoterapi mengolah pengalaman yang menggabungkan Psikodrama klasik dengan kemajuan dalam psikologi klinis dan pengolahan trauma untuk menyediakan benteng yang diperlukan untuk mencegah retraumatisasi (Hudgins et al., 2000).

Karena banyak penderita trauma sering mengalami kebingungan internal dan tekanan interpersonal yang secara metaforis mirip dengan tornado, TSM memilih spiral sebagai model terapeutik untuk memberikan dimensi alternatif terhadap energi tornado yang tak terkendali. Klien belajar untuk bergerak naik turun spiral dari kebutuhan mereka sendiri bukannya terkoyak oleh kekacauan tornado (Deng et al., 2009: 84).

Gambar spiral terapeutik di TSM dibagi menjadi tiga kategori: energi, pengalaman, dan makna (Hudgins, 2003). TSM terdiri dari enam mode aman:

(1) menempatkan dan mewujudkan ego yang diamati (OE);

(2) lingkaran keamanan;

(3) spektrogram;

(4) sosiogram tindakan;

(5) sosiometri lingkaran; dan

(6) Kreativitas Sutradara.

Enam mode aman membantu korban trauma mengekspresikan diri. Selain itu, body double, containing double, karakter yang direkomendasikan, dan teknik lain di TSM membuatnya aman untuk praktik klinis, meningkatkan efek terapeutik dari tindakan perawatan untuk trauma, dan mencegah klien mengalami retraumatisasi (Sang, 2009).

Berikut adalah ciri-ciri TSM:

(1) Drama dimulai dengan mencari kekuatan klien itu sendiri. Jika klien tidak cukup kuat, sutradara berusaha membuat mereka lebih kuat. Beberapa kekuatan berasal dari peran yang disarankan, seperti body double, atau dari interaksi antarpribadi yang dilakukan oleh peran pembantu yang dipilih.

(2) Penyembuhan luka penunjang dilakukan dengan containing double. Containing double memberi klien perasaan aman, stabilitas, dan toleransi yang kuat, dan membantu mereka membangun kerangka kerja untuk memahami konotasi ketika mereka mengalami emosi yang kuat.

(3) Ekspresi emosi dikendalikan secara spiral. Dengan bantuan body double dan containing double, sutradara mengubah mood protagonis secara spiral dan perlahan. TSM membuat klien sadar akan emosi mereka, dan mempertahankan kontrol yang efektif dan wajar atas respons emosional mereka dalam proses katarsis (Deng et al., 2009: 95-97). Tidak seperti Psikodrama klasik, langkah-langkah dan dampak psikologis dari TSM disesuaikan, dan aplikasi praktis yang lebih baru dari teknik Psikodrama yang dikembangkan, yang menghasilkan kontrol yang wajar dan sadar dari proses degradasi psikologis dan perilaku klien (Liu, 2007).

Pada Mei 2004, Hudgins mengunjungi Universitas Nanjing untuk pertama kalinya untuk memberikan pelatihan profesional tentang TSM. Setelah gempa bumi Sichuan 2008, banyak psikolog di China bergegas ke daerah yang terkena bencana dan menggunakan berbagai bentuk psikoterapi kelompok untuk menangani gejala pasca-trauma para korban. Pada titik ini, penggunaan TSM secara luas dan metodenya yang unik untuk mendekati trauma dengan aman mulai menarik perhatian para psikolog Tiongkok.

Dari 2008 hingga 2010, Hudgins mengunjungi Chongqing dan beberapa distrik di Sichuan bersama sekelompok psikodramatis China untuk mengajarkan keterampilan Psikodrama kepada guru kesehatan mental lokal di sekolah dasar dan menengah dan melatih mereka untuk menggunakan teknik Psikodrama secara fleksibel dengan siswa untuk mengobati trauma yang disebabkan oleh bencana.

Sebagai cara penyembuhan yang unik dan aman, TSM telah banyak digunakan dalam praktik klinis perawatan trauma di Cina. Ini telah umum digunakan di area dengan kelompok yang mengalami dampak negatif bencana, di antara pasukan keamanan publik dan pasukan pemadam kebakaran, di acara stres kampus, dan dalam intervensi dukungan staf perusahaan.

 

Terjemahan dari 

The Spread and Development of Psychodrama in Mainland China

Zhi-qin Sang, Hao-ming Huang, Anastasiia Benko and Yin Wu