PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA


Seorang karyawan mengaku kepada manajernya bahwa rekan-rekan kerjanya mengiriminya ofensif e-mail. Seorang sales representative, Afrika-Amerika pertama yang bekerja di tenaga penjualan serba putih (kulit putih), mengatakan kepada manajer bahwa dia ingin mengajukan keluhan EEO. Situasi rumit seperti ini merupakan tantangan sehari-hari di lingkungan perusahaan saat ini.  Misalnya: keterampilan dalam menangani topik hangat seperti keragaman di tempat kerja, pelecehan seksual, dan kekerasan di tempat kerja naik ke posisi utama dalam ukuran keberhasilan kepemimpinan, serta ” people skills ” mendapatkan kredibilitas dan kewibawaan. Seandainya paradigma strategis lebih daripada reaktif, dinamika manusia adalah untuk mengubah pemikiran kita, maka paradigma baru untuk pelatihan harus mengantar pada perubahan.
Lanjutkan membaca “PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA”

Metode dalam Psikodrama ; Terjemahan dari Wikipedia


Dalam psikodrama, para peserta mengeksplorasi konflik internal dengan menampilkan emosi dan interaksi interpersonal mereka di atas panggung. Sesi psikodrama (biasanya 90 menit hingga 2 jam) berfokus terutama pada peserta tunggal, yang dikenal sebagai protagonis. [7] Tokoh protagonis memeriksa hubungan mereka dengan berinteraksi dengan aktor lain dan pemimpin, yang dikenal sebagai sutradara (Director). Ini dilakukan dengan menggunakan teknik khusus, termasuk mirroringdoublingsoliloquy, dan role reversal. Pembahasan ini sering dipecah menjadi tiga fase – the warm-up, the action, and the post-discussion. [8] Lanjutkan membaca “Metode dalam Psikodrama ; Terjemahan dari Wikipedia”

PERSPEKTIF SEJARAH; SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 2/7


….sambungan dari ….Sebuah Panduan Training Berbasis Drama

Sebagai sarana untuk hiburan, drama selalu memiliki kemampuan untuk menggetarkan, bergerak, dan menginspirasi khalayak. Dari tangan Euripides lalu Shakespeare sampai dengan Scorcese, menunjukkan ketrampilan dari intensitas emosional yang memungkinkan drama dijadikan sarana untuk memusatkan perhatian, meningkatkan kesadaran, dan menyampaikan ide-ide secara dinamis.

Menggunakan drama sebagai alat bantu mengajar bukanlah hal baru. Dari filsuf Yunani dan Romawi kuno sampai dramawan kontemporer, drama telah digunakan sebagai cara yang menarik untuk bercermin dan mengeksplorasi kondisi manusia. Plato mendorong anak-anak untuk belajar melalui improvisasi dan tari. Hrosvitha, seorang biarawati Saxon abad kesepuluh, menulis drama untuk mendidik jemaat tentang isu-isu moral. Aktor-aktor komedi keliling dell’arte membuat drama untuk membawakan isu-isu sosial masyarakat Italia dari abad pertengahan akhir. Lanjutkan membaca “PERSPEKTIF SEJARAH; SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 2/7”

TEORI PSIKODRAMA 2 – ISU-ISU LEBIH LANJUT – Adam Blatner, M.D.


Penyelesaian Masalah Emosi
(pp 133-137)
Banyak keputusan yang kita hadapi sehari-hari memerlukan beberapa pertimbangan faktor rasional dalam hidup kita. Keterampilan introspeksi dibutuhkan untuk benar-benar menimbang dan memasukkan dimensi emosional dalam berbagai situasi. Dalam rangka untuk mendapatkan perspektif tentang faktor-faktor penentu bawah sadar pilihan seseorang, maka perlu untuk menemukan cara-cara mengembangkan wawasan ke dalam hubungan interpersonal. Penggunaan metode psychodramatic dapat melengkapi metode lisan dalam memfasilitasi analisis dari berbagai dimensi pemecahan masalah emosional (Lebovici, 1957). Proses psikoterapi atau pendidikan tentang perasaan demikian dapat dilihat dari segi: (1) menetapkan konteks yang memaksimalkan kondisi pertumbuhan pribadi dan (2) secara parsial menganalisis modus pemecahan masalah. Lanjutkan membaca “TEORI PSIKODRAMA 2 – ISU-ISU LEBIH LANJUT – Adam Blatner, M.D.”