Pengalaman Psikodrama di Samarinda ; Bersyukur Membuat Bahagia


Pada hari Minggu kemarin saya berkesempatan mempelajari ilmu Psikodrama di kampus saya menimba ilmu dulu Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dan beruntungnya saya belajar langsung dari praktisi Psikodrama Bpk. Retmono Adi.

Beberapa hal yang saya pelajari adalah bagaimana hubungan kita dengan diri sendiri (personal), orang lain (interpersonal), & yang menciptakan saya (transpersonal). Selaras dengan itu saya juga belajar jika saya mau hubungan saya baik dengan orang lain yang pertama harus saya lakukan adalah menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam diri saya terlebih dahulu dengan lembut terhadap diri sendiri.

Saya juga belajar bagaimana cara saya manganalisa suatu permasalahan yang ada di dalam diri saya dengan menentukan apakah permasalahan itu mengenai emosi, kognitif, atau tindakan yang harus segera saya kerjakan & memberi waktu atau batasan sampai kapan masalah ini ada di dalam diri saya.

Saya juga berkesempatan menjadi tokoh protagonis cerita saya pada masa kecil di recall & dimainkan pada saat pelatihan. Ternyata tanpa saya sadari saya kurang mengingat kebaikan orang – orang di sekeliling saya, terutama kedua orang tua saya betapa nikmat syukur saya panjatkan karena dengan Psikodrama saya diingatkan dengan kebaikan dari Bapak & Mamak saya dari kecil hingga umur saya 24’th. Mengingat kenangan – kenangan yang indah mampu membuat saya sangat bersyukur dilahirkan dari keluarga yang selalu mencintai saya & selalu mendukung saya dalam suka duka.

Alhamdullilah….. “Terima kasih Psikodrama”

Samarinda, 11 Oktober 2018

Mira

Kesan mengikuti Psikodrama di Samarinda


Hari Kamis, tanggal 27 Juli 2017, Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 45 (UNTAG) Samarinda

Assalammualaikum,
Ada banyak kesan dan pelajaran yang saya ambil dari psikodrama yang telah saya dan kawan-kawan lakukan. Beberapa hal yang sebenarnya sering saya lakukan dan tidak sadari, seperti contoh takut untuk berekspresi tidak sama dengan yang lain, tidak berani bertanggung jawab sendirian saat berada dalam suatu kondisi sehingga memilih membawa teman dalam masalah dan juga melanggar peraturan untuk kesempurnaan. ( terlihat sempurna)

Yang paling berkesan adalah bagaimana kita (lebih tepatnya saya😃) diajarkan untuk berani bertanggung jawab atas diri sendiri, karena diri saya adalah Director dari hidup saya sendiri. Serta bagaimana cara untuk menahan mulut untuk (tidak) berbicara terlalu banyak, karena psikolog lebih banyak mendengar ketimbang berbicara dan juga pastinya kalimat yang membuat fokus saya jadi pindah ke naruto, tentang orang yang melanggar peraturan adalah ****** dan meninggalkan temannya lebih buruk lagi.

Terima kasih pak atas pelajaran dan hal-hal baru yang telah diajarkan.

Samarinda, 31 Juli 2017

 

oleh: Polaris (nama Samaran)
…dari Fakultas Psikologi Untag