Sebuah Pengantar, #Tulisan 01 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Adam Blatner, M.D.

Berikut ini adalah revisi dari bab yang saya miliki dalam antologi 1994, Psychodrama Sejak Moreno, diedit oleh Paul Holmes, Marcia Karp, dan almarhum Mike Watson. Komentar Anda dipersilahkan, karena ini sedang dalam proses. Direvisi dan diposting kembali: 26 Februari 2006. Direvisi 6 Juli 2009, untuk memasukkan tautan lebih lanjut:)

    Untuk lebih lanjut tentang sosiometri, lihat di situs web ini makalah lain seperti (1) Menjelajahi Preferensi Interpersonal; (2) Menjelajahi Keterkaitan Anda Sendiri melalui Sosiometri; (3) Sosiometri: Dinamika Hubungan.; (4) Catatan Lebih Lanjut tentang Sosiometri; (5) Bibliografi Tulisan tentang Sosiometri;

     Dan karena teori peran juga terkait dengan semua ini, telusuri di daftar isi makalah untuk berbagai artikel halaman web tentang peran, analisis peran, dan sebagainya serta bab-bab dalam edisi revisi ke-4 buku 2000 saya, Foundations of Psychodrama

________________________________________

Lanjutkan membaca “Sebuah Pengantar, #Tulisan 01 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Sculpture (Memahat Membuat Patung) Salah satu Teknik Psikodrama


Apa itu Sculpture (Memahat) atau membentuk Figur dalam Psikodrama ?

Sculpture adalah Teknik dalam Psikodrama dengan membuat Patung, atau figur dengan tubuh atau seluruh badan peserta, secara individu maupun berkelompok. Tubuh atau badan peserta dibentuk oleh peserta sendiri, oleh peserta lain atau pun oleh Direktur (sutradara, atau Fasilitator) menjadi figur.

Figur yang dibuat ini bisa sebuah benda mati atau pun tokoh karakter tertentu, misalnya Pohon, Batu, Burung, Presiden, Thanos, dll.

Apabila dilakukan berkelompok dapat juga membentuk sebuah Peristiwa (diorama). Istilah terbaru yang populer beberapa waktu yang lalu adalah Mannequin Challenge.

Teknik ini dapat digunakan ditahap Warming Up untuk membangun hubungan antar peserta, dan membangun saling percaya, termasuk juga membangun hubungan antara Peserta dan Fasilitator. Selain itu teknik ini juga dapat digunakan pada tahap Action, apabila waktu tidak memungkinkan untuk melakukan drama yang lengkap dengan Gerak dan Dialog.

Instruksi yang sering saya gunakan adalah berkata dengan keras “Freezzzzzz!” dan seluruh peserta akan membeku menjadi Patung.

Contoh :

“Tolong menjadi Air Mancur,…3,…..2,….1,….Freezzzz!”

“Tolong buatkan suasana Taman kota di Senja hari,…..5,….4,…3,…2,…1,…Freezzz!”

Pemanfaatan lebih lanjut Teknik ini dapat digunakan untuk Membangun Sinergi Kelompok dalam dunia kerja. Dapat juga untuk melatih Belajar Sosial bagi Anak-anak atau Remaja. Tentunya dengan diberikan pengantar yang cukup untuk materinya, atau Refleksi (debrief) yang mendalam sesudahnya.

Silahkan mencoba,…….

Yogyakarta, 15 Mei 2019

Retmono Adi

 

Psikodrama sebagai Metode Terapi Kelompok Memiliki Tingkat Kesulitan yang Tinggi


Lumayan juga dari obrolan santai lewat WA, muncul ide untuk membagikan tulisan ini. Kami sharing mengenai pengalaman belajar dan praktek Psikodrama. Akhirnya kami sepakat bahwa Psikodrama memiliki tingkat kesulitan yang tinggi hal ini diawali dengan pernyataan Iip Fariha, rekan Psikolog yang di Bandung, mengatakan bahwa Kang Asep mempersyaratkan agar belajar teknik-teknik lain sebelum belajar Psikodrama. Psikodrama masuk kategori teknik tertinggi dari psikoterapi. Lanjutkan membaca “Psikodrama sebagai Metode Terapi Kelompok Memiliki Tingkat Kesulitan yang Tinggi”

Psikodrama dalam Pelatihan Singkat Membangun Team Work dan Melatih Problem Solving di Tasikmalaya


Melakukan psikodrama dengan tim pegawai model inhouse training merupakan pengalaman baru bagiku. Beberapa hari aku merenungkan skenario apa yang harus kulakukan, berhubung kegiatan ini bukan karena keinginan peserta alias kewajiban pegawai mengikuti proses training, maka tujuan pun sudah ditentukan owner. Peranku sebagai trainer merenungkan apakah target dapat tercapai, dengan peluang apapun dapat terjadi selama proses psikodrama. Padahal kegiatan hanya dilakukan dalam waktu yang singkat, hanya 5 jam saja. Lanjutkan membaca “Psikodrama dalam Pelatihan Singkat Membangun Team Work dan Melatih Problem Solving di Tasikmalaya”

Pengalaman mengikuti Workshop Psikodrama di Jakarta


Pada hari itu, Minggu 28 April aku pergi bersama dengan temanku untuk mengikuti workshop Psikodrama. Selama perjalanan, otakku dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan rasa cemas. Kira-kira bagaimana ya nanti kegiatannya, apa saja ya yang akan dilakukan. Hal ini ditambah lagi dengan pemikiranku seputar tesis yang ikut bergejolak di dalam benakku. Lanjutkan membaca “Pengalaman mengikuti Workshop Psikodrama di Jakarta”

Psikodrama di Jakarta, Prosesnya Diungkapkan Lewat Rasa


Prosesnya diungkapkan lewat Rasa

Dalam upaya memastikan keyakinan dan mencari dukungan
Diri menyerahkan seutuhnya,tanpa melupakan sang kuasa
Jika jodoh ada atas kuasa-Nya
Maka diri ini harus memastikan Kekuasaan-Nya itu

Diri bersepakat bahwa tidak ada yang benar atau yang salah
Tapi diri dengan kepalanya tetap saja mencari pembenaran dan menyalahkan.
Diri dengan begitu percaya mengatakan bahwa diri itu unik dan berbeda
Tapi diri masih saja secara yakin bersikap seperti norma kebanyakan diri yang lain

Berterima bukan tanda lemah
Mencoba berserah, bukannya berarti pasrah
Dari leher ke kepala perlu rehat
Biarkan dada yang menerima karena rasa seharusnya tak pernah dusta

Bertatap saat itu menjadi sulit, apalagi diharuskan untuk berucap
Sebuah kata terimakasih anehnya terasa begitu sangat dalam
Kala airmata dianggap sebagai makna kedalaman
Semua diri merelakannya, tak khawatir habis, malah bersyukur bisa lebih lega

Ketika sang Protagonis diminta mengeksplorasi memori
Dibuatnya sang memori keluar dari diri agar setiap orang bisa melihat
Menjadi adalah cara efektif untuk lebih mengerti dan paham
Tapi jangan lupa kembali, lebih untuk menjaga agar tidak tersesat

Kalau tikar dan termos saja berterima atas kelebihannya,
Mengapa harus dibahas lagi kekurangan-kekurangannya??
Manusia adalah makhluk kompleks yang berakal.
Tapi juga berperasaan, camkan itu.

Jika jujur masih disanksikan hadir dari orang lain
Maka, kenapa tidak berbicara pada diri sendiri saja?
Naif jika pada diri sendiri saja masih tidak jujur.
Setidaknya diri akan tau jika diri membohongi dirinya sendiri.

Melingkar sebagai sebuah tanda akan usai
Saling menatap berupaya mendapat rasa yang sama
Saling menggenggam agar berusaha satu frekuensi
Diri-diri akhirnya menyepakati, rasa ini harus disebar

Mereka bukan lagi diri-diri yang datang tadi pagi
Ini bukan hanya belajar, tapi berobat juga tentu saja
Selamat.. Kalian memang benar-benar berjodoh.
Psikologi dan Drama dalam Psikodrama…. Terimakasih

28 April 2019
Di Laboratorium Psikologi AU

Faldhy Dwi Budiansyah

Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?


Beberapa hari yang lalu Selasa, 19 Maret 2019, saya membantu kawan Psikolog dan mahasiswa S2 Psikologi, dalam mempraktekkan Psikodrama di Salah satu Panti asuhan di Medan.  Beberapa Teknik yang dipakai adalah Lokogram, Spektogram, Sculpture, dan Imagery. Saya tidak ingin menceritakan proses praktek teknik-teknik Psikodrama ini, melainkan membagikan pengalaman dalam mengevaluasi, merefleksikan proses yang dilakukan oleh  Mahasiswa S2 Psikologi dalam praktek tersebut. Lanjutkan membaca “Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?”