Penerapan Psikodrama untuk Membawa Spiritualitas ke dalam Lingkungan Kerja


Setiap orang memiliki definisi spiritualitas mereka sendiri, tidak ada peraturan, tidak ada dogma yang harus diikuti. Sebagian besar berhubungan dengan hubungan pribadi dengan apa yang dirasakan setiap orang pada Sang Sumber atau Penciptanya. Ini adalah ruang batin dimana mereka terhubung dengan bimbingan mereka dan aspek tertinggi dan terbaik dari keberadaan mereka. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Membawa Spiritualitas ke dalam Lingkungan Kerja”

Pengalaman Mendalami Peran dalam Psikodrama #TerapiMenulis


Namanya Prita. Tidak ada nama belakang. Seorang perempuan. Saat menginjak usia ke sepuluh, ia mulai hidup sebatang kara. Sejak kecil ia tidak tahu siapa ayah kandungnya bahkan hingga dewasa. Sebelum ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, Prita kecil sering mengajak ibunya bicara di kamar dalam sebuah kos-kosan sederhana, tapi hanya sedikit respon yang kerap diterimanya. Tidak ada yang bisa diajaknya bicara selain tetangganya. Seorang ibu-ibu paruh baya yang tinggal bersama dengan cucunya di kamar sebelah, orang pertama yang mengajarinya baca tulis dan naik sepeda. Orang pertama yang menumbuhkan kecintaannya pada buku tepat sebelum Prita tinggal di panti asuhan. Lanjutkan membaca “Pengalaman Mendalami Peran dalam Psikodrama #TerapiMenulis”

Psikodrama untuk Melatih Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill)


Apa sebenarnya konsep Higher Order Thinking Skills yang menjadi sasaran baru untuk pendidikan saat ini. Sebuah dasar untuk Pendidikan yang membebaskan, Merdeka Belajar Kampus Merdeka, menyiapkan kemampuan untuk menjalani Revolusi Industri 4.0.

Alice Thomas dan Glenda Thorne mendefinisikan istilah HOTS dalam artikel yang berjudul How to Increase Higher Order Thinking (2009) sebagai cara berpikir pada tingkat yang lebih tinggi daripada menghafal, atau menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain.

Keterampilan mental ini awalnya ditentukan berdasarkan Taksonomi Bloom yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Konsep Benjamin S. Bloom dkk. dalam buku Taxonomy of Educational Objectives (1956) itu, sejatinya merupakan tujuan-tujuan pembelajaran yang terbagi dalam tiga ranah.

Ketiga ranah tersebut adalah Kognitif, merupakan keterampilan mental (seputar pengetahuan); Afektif, sisi emosi (seputar sikap dan perasaan); dan Psikomotorik, yang berhubungan dengan kemampuan fisik (keterampilan).

Taksonomi untuk menentukan tujuan belajar ini bisa disebut sebagai “tujuan akhir dari sebuah proses pembelajaran”. Setelah menjalani proses pembelajaran tertentu, siswa diharapkan dapat mengadopsi keterampilan, pengetahuan, atau sikap yang baru.

Tingkatan kemampuan berpikir yang dibagi menjadi tingkat rendah dan tinggi, merupakan bagian dari salah satu ranah yang dikemukakan Bloom, yaitu ranah kognitif. Dua ranah lainnya, afektif dan psikomotorik, punya tingkatannya tersendiri.

Ranah kognitif ini kemudian direvisi oleh Lorin Anderson, David Krathwohl, dkk. pada 2001. Urutannya diubah menjadi (1) mengingat (remember); (2) memahami (understand); (3) mengaplikasikan (apply); (4) menganalisis (analyze); (5) mengevaluasi (evaluate); dan (6) mencipta (create).

Tingkatan 1 hingga 3, sesuai konsep awalnya, dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS). Sedangkan butir 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

*Untuk lebih jelasnya dapat mengunjungi  (Apa itu Higher Order Thinking Skills (HOTS))

Bapak Psikodrama JL Moren0 mengajak setiap orang menjadi Protagonis, Aktor Utama dari drama hidupnya. Stanislavski tokoh Drama Realis menyatakan bahwa untuk menjadi aktor yang baik perlu mengolah tiga instrument utama yaitu, Perasaan, Pikiran dan Tubuhnya, agar mampu membangun karakter yang hidup dari tokoh. Psikodrama sendiri bertujuan ambisius menjadi sarana untuk merubah perilaku.

Dengan kata lain Psikodrama mengolah ketiga ranah Afeksi, Kognisi, dan Psikomotor untuk membentuk perilaku yang baru. Dengan demikian maka apa yang dilakukan selama proses Psikodrama sama dengan latihan cara berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Selain itu,  di atas juga disebutkan bahwa salah satu hal yang menunjukkan hasil dari HOTS adalah kemampuan mencipta. Psikodrama adalah Drama Spontan, melakukan Akting secara spontan dan otentik. Iswadi Pratama Sutradara Teater Satu Lampung, di BUKU SAKU AKTOR, mengungkapkan bahwa akting adalah mencipta, Bahan, Alat, dan hasil karyanya adalah diri sendiri. Tidak seperti seniman di bidang lain, aktor/aktris adalah pencipta sekaligus  materi dan instrumen (alat), dan hasil ciptaan (karya), semuanya menyatu dalam dirimu sendiri.

Jelas sudah sekarang bahwa memperaktekkan Psikodrama adalah belajar berpikir tingkat tinggi (HOTS). Dengan kata lain dunia pendidikan dapat menggunakan Metode Psikodrama untuk megajar dan melatih siswa agar mampu berpikir lebih tinggi. Yuks Belajar Psikodrama !

Yogyakarta, 23 Oktober 2020

Retmono Adi

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-teman yang lain.

Namanya juga Anak-anak, Demonstrasi di Jalanan, UU Cipta Kerja


Demonstrasi mengenai UU Cipta Kerja, berlangsung dengan kericuhan dan pengrusakan fasilitas umum. Sebenarnya kondisi tersebut dapat dengan mudah diprediksi bahwa hal itu akan terjadi, dengan melihat beberapa hal yang memiliki potensi akan terjadinya kericuhan tersebut.

Ada dua teori Psikologi yang dapat menjelaskan dinamikanya.

Teori pertama mengambil dari Teori Psikologi Perkembangan, khususnya Masa Remaja, yang menyatakan, selain pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perkembangan kognitif dan emosi. Seorang yang masuk dalam masa remaja akan mulai berpikir logis dan abstrak, bertindak agresif seperti cenderung akan melawan segala aturan yang diberikan pada dirinya. (5 Masalah Perilaku Remaja dan Cara Mengatasinya )

Karena perubahan-perubahan inilah remaja akan bersikap berbeda kepada orangtuanya. Remaja akan cenderung berprilaku negatif terhadap orangtuanya, misalnya melanggar semua aturan yang telah ditetapkan. Orang tua adalah figur otoritas di rumah, ketika demontrasi di ruang publik  (demonstrasi) figur otoritas yang ditentang adalah pemerintah dan saat di jalanan figur itu adalah polisi sebagai representasinya,  maka para demontran yang anak remaja akan menunjukkan perilaku negatifnya, dengan melanggar aturan yang ada. Dalam peristiwa demo yang lalu anak anak itu melakukan pengrusakan fasilitas umum serta melawan polisi.

Teori kedua adalah Teori Psikologi Kelompok, Penyebab Perilaku Kerumunan oleh Le Bon, menurutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kerumunan yaitu:
1. Anonimitas. Karena faktor kebersamaan dengan berkumpulnya individu-individu yang semula dapat mengendalikan diri, merasa dapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri dan terlebur dalam kerumunan sehingga perasaan menyatu dan tidak dikenal mampu melakukan hal hal yang tidak bertanggung jawab. Semakin tinggi kadar anonimitas suatu kerumunan, semakin besar pula kemungkinannya untuk menimbulkan tindakan ekstrim karena anonimitas mengikis rasa individualitas para anggota kerumunan itu.

2. Contagion (penularan). Penularan Sosial (social contagion), adalah penyebaran suasana hati, perasaan atau suatu sikap, yang tidak rasional, tanpa disadari dan secara relatif berlangsung cepat. Penularan ini oleh Le Bon dapat dianggap suatu gejala hipnotis. Individu yang telah tertular oleh perasaan dan tindakan orang lain sudah tidak memikirkan kepentingan individu melainkan kepentingan bersama.

3.Konvergensi (keterpaduan). Orang-orang yang akan menonton festival musik Pop, dengan orang-orang yang menonton festival musik Rock akan memiliki ciri-ciri yang berbeda. Orang-orang yang menonton festival musik rock cenderung akan lebih mudah menimbulkan keributan dibanding dengan orang-orang yang menonton festival musik Pop. Orang-orang yang menonton festival music Rock relatif usianya sama-sama muda, mayoritas laki-laki dan tidak memiliki ikatan kuat terhadap nilai-nilai dan lingkungan setempat, berbeda dengan Orang-orang yang menonton festival music Pop.

4. Suggestibility (mudahnya dipengaruhi). Kerumunan biasanya tidak berstruktur, tidak dikenal adanya pemimpin yang mapan atau pola perilaku yang dapat dipanuti oleh para anggota kerumunan itu sehingga dalam suasana seperti itu, orang berperilaku tidak kritis dan menerima saran begitu saja, terutama jika saran itu meyakinkan dan bersifat otoritatif. Akan tetapi siapa induk atau yang memulai sulit ditentukan . (Teori Kerumunan Le Bon )

Kombinasi dari 2 teori tersebut sudah cukup menjelaskan potensi kerusuhan bakal terjadi. Remaja (rentang usia antara 13 – 19 tahun) berada dalam kerumunan. Dari dalam dirinya sudah ada keinginan menentang otoritas, ditempatkan dalam situasi anonimous. Mereka lebih berani melakukan tindakan ekstrim. Disusul kemudian ketika ada salah satu yang mulai melakukan tindakan pengrusakan atau agresi, maka jadi pemicu  mempengaruhi yang lainnya. Selain karena mereka juga tidak lagi mampu berpikir kritis, sehingga penularannya makin cepat, skalanya makin meluas dan membesar. 

Meskipun sangat mengkuatirkan mengapa hal tersebut sepertinya dibiarkan terjadi. Namun semuanya telah terkendali dan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Ada pembelajaran yang menarik yang  kudapatkan di Twitter. Bagaimana polisi melakukan penangkapan para pelaku demonstrasi yang kebanyakan masih berusia remaja itu. Polisi menahan mereka semalaman untuk mendata mereka. Keesokan harinya dipanggilkan orang tua mereka. Anak anak itu diminta minta maaf dan dilanjutkan dengan memeluk orang tuanya. Sebuah treatment Psikologis yang bagus, daripada hukuman fisik semata dan diceramahi tentang moral.  (Terjadi di Polsek Pulogadung )

Semoga untuk selanjutnya peristiwa tersebut tidak terulang lagi, dan aparat makin mampu dalam menangani permasalahan Kenakalan Remaja ini dengan lebih bijak. Aku tidak ingin terseret dalam permasalahan politik. Aku tetap fokus pada permasalahan Psikologinya terutama psikologi para Remaja. Bagaimana pun mereka masih dalam masa pertumbuhan dan mereka adalah generasi penerus bangsa.

Yogyakarta, 16 Oktober 2020

Retmono Adi

Psikodrama? Apakah ini Bagian dari Takdirku? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 04


Aku baru tahu jika dalam psikodrama, setiap pose memiliki maknanya tersendiri. Pertanyaan seperti: Apakah aku sudah nyaman menjadi diriku sendiri? Apakah aku ingin terlihat baik-baik saja dan terpaku melakukan hal-hal yang dianggap benar agar tidak dianggap salah? Apakah aku ada masalah di masa lalu? Apakah aku ada ketakutan di masa depan? Apakah aku ada kesulitan dalam menjalin relasi hubungan dengan seseorang? Itu semua bisa terbaca dan terjawab hanya dengan berpose menjadi pohon.

Psikodrama membantu individu mencari tahu tentang need/value yang ada dalam diri tiap individu. Saat webinar psikodrama pertama, aku masih belum dapat memahami need-ku. Berdasarkan pengalaman yang kuceritakan, kata Pak Didik, need-ku berkaitan dengan rasa percaya. Memang betul, aku memiliki mistrust issue kepada orang-orang yang usianya jauh di atasku. Tapi setelah sesi ini selesai aku kembali berpikir ulang. Apakah hanya itu? Kok aku ragu.

Psikodrama mengajak individu untuk bercerita secara spontan tentang peristiwa yang pernah dialami, biasanya dalam setting kelompok. Nah, di sinilah letak kesulitanku. Kebetulan aku tipe orang yang cukup grogi dan bingung kalau harus berbicara secara spontan di depan orang banyak yang belum kukenal, meskipun itu dalam webinar. Terlalu banyak mata, membuatku kurang nyaman.

Selesai webinar pertama, aku baru bisa menyadari bahwa sepertinya ada beberapa need-ku yang belum terpenuhi. Bukan hanya tentang rasa percaya. Ada need lain, tapi aku belum dapat memahami pasti apa itu.

Bagian yang paling kusenangi dalam perkenalanku dengan psikodrama di hari itu adalah individu diajak untuk berani jujur kepada diri sendiri dengan tetap menjadi dirinya sendiri. Lalu belajar berperan sebagai aktor kehidupan yang kelak dapat menebar manfaat untuk orang lain. Seperti yang pernah kutulis, bisa menjadi diri sendiri dan menjadi orang yang bermanfaat adalah salah satu kebahagiaan yang kuingini. Satu hal yang semakin sangat kuyakini di sini adalah setiap manusia mungkin tidak tahu kelak akan dipertemukan dan didekatkan dengan siapa saja di hidupnya, tapi setiap manusia pasti akan dipertemukan dan didekatkan dengan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Apapun tujuannya.

Aku masih penasaran dengan psikodrama. Aku kira aku tidak akan menemukan event itu lagi dalam waktu terdekat, tapi nyatanya malah kutemukan info webinar psikodrama berturut-turut sampai keempat kalinya. Justru karena corona, psikodrama bisa dipelajari melalui webinar sambil duduk santai di rumah. Kalau tidak ada corona, belum tentu aku bisa bepergian mengikuti workshop psikodrama dari satu kota ke kota lainnya. Jadi sampai di sini, apakah belajar psikodrama adalah bagian dari takdirku?

Pun kuikuti lagi webinar psikodrama kedua, ketiga, dan keempat. Hal menarik dalam webinar kedua adalah ketika peserta diminta membayangkan seseorang di masa lalu. Kemudian mencoba memaafkannya dengan mengatakannya secara langsung di depan peserta lainnya. Kali ini aku bisa melakukannya karena sambil memejamkan mata. Setidaknya dengan memejamkan mata, aku bisa mengurangi rasa grogiku.

Sebelum tidur aku sering rebahan sambil berimajinasi tentang cerita fiksi yang kukarang sendiri. Seperti misalnya, membayangkan sepasang kekasih yang saling mencintai tapi dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Di situ aku berperan sebagai tokoh perempuan dan laki-laki, berdialog sendirian secara spontan. Kukarang sendiri ucapan-ucapan perpisahan yang menyesakkan dada. Kubayangkan mereka berdua berdiri di pinggir jalan, saling berhadapan sambil menangis, keduanya sama-sama tak mau melepas pelukan terakhir itu. Kemudian sambil membayangkannya, aku benar-benar menangis sendirian di kamar. Keesokan harinya aku merasa sedih sepanjang hari.

Pernah juga aku berimajinasi menjadi seorang perempuan yang mandiri, tangguh, semangat bekerja, dan tidak begitu peduli tentang urusan percintaan. Keesokan harinya aku merasa lebih bersemangat dalam melakukan berbagai kegiatan daripada hari-hari biasanya. Aku juga pernah berimajinasi mempunyai seorang laki-laki yang sayang padaku. Selalu ada bersamaku saat senang dan susah. Aku menjadi salah satu alasannya bersyukur setiap hari, karena sosok yang selama ini dia butuhkan, ada dalam diriku. Kami bukan pasangan sempurna, tapi kami bahagia. Seharian aku merasa seperti dicintai, walaupun setelahnya aku kembali merasa sedih karena itu hanya ada dalam imajinasi dan belum pernah benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu bagaimana imaginary bisa berpengaruh padaku, tapi itu benar-benar terjadi padaku walaupun efeknya tidak permanen. Apakah ini yang dinamai sugesti?

Rasanya lega setelah memaafkan seseorang yang tidak menginginkanku di masa lalu. Lagi pula itu bukan kesalahannya. Aku bersyukur tidak dipilih. Kalaupun dipilih, jika kupikir-pikir lagi, kami belum tentu bahagia bila hidup bersama. Perlahan aku makin sadar bahwa barangkali sejatinya aku tidak bisa membuat orang lain jatuh cinta padaku. Aku hanya bisa mengupayakan yang terbaik. Tentang bagaimana perasaan orang lain kepadaku itu sudah di luar kuasaku. Sudah menjadi kuasa Tuhan. Orang pertama yang perlu kubuat jatuh cinta padaku ya adalah diriku sendiri.

Saat mengikuti webinar psikodrama ketiga, didepan orang banyak, aku menganggap diriku sudah resilient, tapi kemudian aku bertanya lagi dalam hati apakah aku benar-benar sudah resilient? Dalam beberapa hal mungkin iya. Namun jika dihadapkan pada masalah tertentu, aku merasa belum setangguh itu. Ibarat gelas kaca yang pecah tapi hanya dibalut isolasi plastik biasa yang tidak lengket. Kurang kuat balutannya. Senggol sithik langsung ambyar. Ibarat ingin melumurinya dengan lem emas seperti kisah yang diceritakan Pak Didik di akhir sesi, tapi aku belum mampu membelinya dan belum tau bisa membelinya di mana. Ya, mungkin aku perlu mencari sumber kekuatan lain untuk menambalnya atau merekatkannya. Supaya aku lebih tangguh. Meskipun dalam sesi ini aku jadi makin sadar kalau aku tidak pernah rapuh, aku tidak akan bertumbuh.

Setelah melalui perenungan yang cukup panjang, kuputuskan untuk belajar lebih lanjut tentang psikodrama dengan Pak Didik secara langsung. Dari semua webinar yang pernah aku ikuti, sesi inilah yang menurutku paling efektif. Paling mengena untukku. Tidak banyak mata. Hanya aku dan Pak Didik saja lewat suara telepon, aku jadi lebih leluasa dan spontan saat berbicara daripada saat di webinar. Pada akhirnya, sesi ini mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sesi konseling.

Aku lebih banyak curhat di sini. Belajar di webinar membantuku memahami konsep dasar psikodrama, rasanya seperti berada di pinggiran kolam. Mengamati orang yang sedang berenang, lalu aku banyak kecipratan airnya. Sedangkan dalam sesi ini, aku ditenggelamkan cukup dalam. Aku megap-megap. Tapi di sini aku dituntun menemukan value yang ada dalam diriku. Cukup emosional dan mengaduk-aduk perasaan. Padahal itu hanya lewat telepon. Mungkin kalau melakukannya dengan bertemu langsung, aku sudah nggeblak kali ya.

Aku dikasih PR oleh Pak Didik untuk menuliskan pengalamanku pada sesi ini, sebagai bagian dari terapi psikodrama. Sudah lama aku tidak menulis. Baru kali ini seumur-umur, aku menulis sambil menangis.

Awalnya aku tidak yakin kalau aku bisa menuliskan apa yang kualami, tapi ternyata tulisan pertamaku bisa kuselesaikan menjadi sebanyak empat halaman. Sungguh ajaib. Intinya, lewat psikodrama aku menjadi lebih mudah membahasakan apa yang aku rasakan dan pikirkan. Aku jadi teringat lirik dari lagu dari James Morrison…

When my head is strong but my heart is weak
I’m full of arrogance and uncertainty
But I can find the words
You teach my heart to speak

Psychodrama teaches my heart to speak…

Dari situ aku menyadari bahwa psikodrama dapat membantu individu membebaskan pikiran dan perasaannya. Kemudian membantu mengekspresikannya dalam bentuk tindakan. Psikodrama menurutku adalah teknik psikoterapi yang kaya akan rasa karena sangat lekat dengan unsur drama. Di sini, individu diajak berkelana menjelajahi tiap-tiap emosi melalui berbagai pengalaman yang pernah terjadi di masa lalu. Serta diajak belajar merangkai harapan baik di masa depan.

Akhir-akhir ini aku juga merasa lebih gampang tersentuh dari biasanya. Terutama sejak aku belajar psikodrama secara langsung dengan Pak Didik lewat telepon. Aku merasa lebih jernih dalam memandang suatu hal. Aku menjadi lebih mudah melihat kebaikan-kebaikan orang lain dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya.

Biasanya aku cenderung lebih dingin dalam menanggapi dan menyikapi suatu hal. Namun setelah aku menyadari value kasih sayang ada dalam diriku, aku menjadi lebih sensitif terhadap apa yang terjadi padaku dan orang lain. Rasanya aku ingin berbuat baik kepada siapa saja, sebagai wujud kasih sayangku yang bisa kuberikan kepada orang lain tanpa menuntut balasan. Ini sejujurnya adalah bagian tersulit. Sering aku masih menuntut tapi aku tetap mencoba belajar untuk berhenti menuntut. Sambil kemudian berpikir lagi, seperti yang pernah dikatakan Pak Didik, tentang cinta dari sumber segala sumber.

Tapi ada satu hal yang belum kuketahui pasti, apakah efek-efek baik ini akan terus melekat di diriku khususnya ketika aku dihadapkan pada situasi sulit atau ketika aku kembali berada di titik nol lagi? Ini baru sesi konseling pertama. Belum tahu bagaimana yang kedua, ketiga, dan seterusnya…

Sampai pada webinar psikodrama keempat, ada beberapa point penting yang mungkin bisa kugaris bawahi. Setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing dalam mengenali dirinya sendiri, termasuk dalam menemukan value yang ada dalam dirinya. Menurutku, psikodrama sangat cocok bagi orang-orang yang telah siap membuka diri, khususnya tentang kerapuhan yang ada dalam diri mereka. Psikodrama membantu individu belajar membuka pintu-pintu kesadaran. Sekaligus membuka pintu kesempatan bagi individu untuk bertumbuh menjadi aktor utama yang lebih baik dalam panggung drama kehidupannya sendiri. Psikodrama adalah tentang kejujuran, belajar berani jujur kepada diri sendiri di tengah-tengah panggung drama kehidupan yang serba tak pasti.

Barangkali salah satu tujuan akhir dari psikodrama itu sendiri adalah tentang keikhlasan, belajar melakukan kebaikan tanpa menuntut balasan dari orang lain. Kalau bagi orang sepertiku, psikodrama juga tentang melepaskan, belajar melepaskan beban-beban perasaan dan pikiran. Serta juga belajar melepaskan harapan-harapan tentang hal-hal yang sejatinya memang tidak ditakdirkan untuk berkesempatan…

“To live in this world you must be able to do three things: to love what is mortal; to hold it against your bones knowing your life depends on it; and, when the time comes to let it go, to let it go.” Mary Oliver.

Kartasura, 01 Oktober 2020

Qanifara

Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01


“Apakah bahagia itu, apakah ia kebulatan dari segala kecukupan perasaan, ketika memiliki segala-galanya lebih dari orang lain, atau ketika kita tak rela memiliki apa-apa bahkan memberikan kemenangan kepada orang lain, atau di tengah-tengah dalam keseimbangan?” – Uap (hal. 94), Putu Wijaya.

Kutipan itu pertama kali kubaca dalam buku yang kutemukan di perpustakaan, di sela-sela pencarian jati diriku. Hampir sekitar lima tahun yang lalu, tapi aku masih mengingatnya sampai hari ini. Lanjutkan membaca “Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01”

Proses Teater, Bermain Peran (Harusnya) Membantu dalam Menemukan Diri


Teater, Drama, atau Seni Peran Sebagai sarana untuk hiburan, drama selalu memiliki kemampuan untuk menggetarkan, bergerak, dan menginspirasi khalayak. Dari tangan Euripides lalu Shakespeare sampai dengan Scorcese, menunjukkan ketrampilan dari intensitas emosional yang memungkinkan drama dijadikan sarana untuk memusatkan perhatian, meningkatkan kesadaran, dan menyampaikan ide-ide secara dinamis Lanjutkan membaca “Proses Teater, Bermain Peran (Harusnya) Membantu dalam Menemukan Diri”

Saran Agar Berani Praktek Psikodrama


Ada pertanyaan dari teman yang pernah mengikuti Workshop Psikodrama, dan sekarang tergabung dalam WAG.

Tanya :

Mas, aq blh curhat kah?? Sampai hr ini aku blm berani mempraktekkan psikodrama ini… Apa karena ilmunya blm nempel ya?? 😁😁

Jawab :

wajar aja kok,..kalau terlalu banyak pengetahuan dan teori,..malah takut, untuk mempraktekkan Psikodrama, untuk mengurangi ketakutan itu, atau agar berani  praktek,… Lanjutkan membaca “Saran Agar Berani Praktek Psikodrama”

Bagaimana Bicara di Depan Kamera ? Cara Mempersiapkan Diri untuk New Normal


Kemarin sore, Senin pukul 16.00 WIB, aku @Psikodrama_id dengan Bro Rasyid @rasyid.harry Ngobrol santai live di Instagram. Kami membicarakan pengalaman Bro Rasyid, yang pernah mebuat film indi, youtuber, sutradara teater, dan profesinya sekarang tukang resensi film.

Aku merasa perlu memiliki kemampuan bicara di depan kamera dengan baik. Pekerjaanku sebagai Praktisi Psikodrama, berbagi pengalaman dan melakukan terapi kelompok tidak dapat dilakukan secara offline. Pandemi Covid 19, mengharuskan menjaga jarak fisik dan pihak berwenang melarang unutk membuat kerumunan atau berkelompok, maka mengajar jarak jauh perlu aku lakukan. Aku melakukan eksplorasi tindakan baru, yaitu berlatih berbicara di depan kamera. Aku melakukan live di Instagram dengan mengajak sahabat yang sudah berpengalaman melakukannya. Lanjutkan membaca “Bagaimana Bicara di Depan Kamera ? Cara Mempersiapkan Diri untuk New Normal”

Peran ( Kehadiran ) Guru Tidak Dapat Digantikan Oleh Teknologi, Memberi Semangat Psikodramaku


Aku dapat dari dari Group WhatsApp, tentang pentingnya kehadiran.

Seorang dokter, orang tua murid SMP 107 Jakarta menuliskan begini:

O…..BAPAK/IBU GURUKU

🎀Di saat pandemi covid 19 merambah Indonesia ternyata mampu membukakan mata dunia bahwa kehadiran guru di kelas tak bisa tergantikan teknologi. Orang boleh mengagungkan teknologi. Orang boleh berkata bahwa kemajuan pendidikan diukur dari sarana yang berbasis teknologi. Namun, baru 2 s.d 3 minggu ini pembelajaran diterapkan dengan teknologi, ternyata anak anak sudah mulai bosan.

Pembelajaran dianggap melelahkan, menjenuhkan, dll. Artinya, kehadiran guru memang tak bisa digantikan dg teknologi saja. Meskipun pembelajaran daring ini sdh menggunakan zoom shg dapat bertatap muka daring, kehadiran guru sebagai roh pembelajaran di kelas tetap dirindukan siswa.

Guru guru yang hebat seperti sahabat sahabatku, dengan kelihaiannya mengolah kata, dengan kelembutan tuturnya, dan dengan kemenarikan sikapnya mendapatkan tempat tersendiri di hati anak anak. Bayangkan sudah berapa tahun teman teman mengajar, tetapi sosoknya tetap dirindukan kehadirannya oleh anak anak. Baru diselingi sebentar saja dengan moda daring, mereka sdh tidak sabar lagi menunggu kehadiran guru kembali di dalam kelas. Itulah bahagianya seorang guru, kehadirannya selalu dinanti. Hidup guru.

Terharuuuu… Makasih Mama Nabilaaa
#disdikdkijakarta

Aku tidak ingin membahas sebab dan dinamikanya. Aku ingin menyatakan bahwa situasinya mirip dengan psikodramaku sekarang. Psikodrama merupakan Action Method, kekuatannya dengan melakukan tindakan, dan berinteraksi langsung secara spontan dan improvisasional . Psikodrama butuh kehadiran, psikodrama adalah terapi kelompok yang proses terapinya dari interaksi langsung dalam kelompok. Selama Pandemi Covid 19 ini, semua workshop psikodrama ditunda, untuk batas waktu yang belum dapat ditentukan.

Meskipun prinsip prinsipnya tetap dapat diajarkan lewat teknologi secara online, namun hal ini bukanlah proses terapi kelompok. Proses belajar mengajar (psikodrama) tetap dapat dilaksanakan online, namun proses terapeutiknya tidak.

Dengan tulisan di atas aku melihat bahwa pertemuan, kehadiran, interaksi spontan memiliki “rasa” yang beda, dan ini sesuatu yang penting dalam proses terapi kelompok. Maka aku yakin setelah Pandemi Covid 19 ini berlalu, tetap banyak orang yang membutuhkan Psikodrama.

Amin.

Yogyakarta, 21 April 2020

Retmono Adi