Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, M.D., T.E.P.


(Presentasi pertama di Konferensi IAGP, London, Agustus, 1998, dengan revisi, kembali dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society for Group Psychotherapy dan Psikodrama pada 9 April 1999.) Revisi dan diterbitkan lagi di website, Mei 2, 2006.)
________________________________________
Pondasi Teoretis Psikodrama telah berevolusi dan diperdalam dalam generasi terakhir.

Beberapa poin penting akan dibahas di bawah ini: Lanjutkan membaca “Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, M.D., T.E.P.”

Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada


Seniman Lima Belas Menit adalah sebuah komunitas drama maupun psikodrama yang berada di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Komunitas ini awalnya terbentuk karena adanya Olimpiade Psikologi 3 tahun 2015 di Surabaya dengan cabang Psychodrama. Komunitas ini sudah melakukan pentas di internal maupun eksternal Fakultas Psikologi UKWMS. Komunitas ini beranggotakan mahasiswa aktif yang tertarik dalam bidang psikodrama, maupun teatre itu sendiri, komunitas ini dibawah bimbingan 2 dosen Psikologi UKWMS, yaitu Pak Danto dan Bu Erlyn, serta dibawah bimbingan langsung praktisi psikodrama asal Yogjakarta, yaitu Pak Didik. Lanjutkan membaca “Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada”

Pelatihan Inklusi, Penghargaan Keberagaman menggunakan Psikodrama, Sosiodrama


Bahayanya melabel orang atau stereotipe

Tanya:
Apakah ada yang punya pelatihan untuk digunakan sebagai bagian dari pelatihan keragaman & inklusi tentang bagaimana rasanya dilabel seseorang? Tujuannya adalah agar peserta memahami bagaimana rasanya ketika seseorang menghakimi Anda tidak kompeten atau pemimpin yang baik, dll berdasarkan demografi Anda.

Adakah ide mengenai pelatihan yang menyenangkan, ringan namun mengena dan berdampak?

Denise Felder
Writer & Career Adviser Encouraging Informed Decisions

Lanjutkan membaca “Pelatihan Inklusi, Penghargaan Keberagaman menggunakan Psikodrama, Sosiodrama”

Psikodrama adalah Eksplorasi Tindakan


Ini adalah istilah kegiatan kelas yang Saya gunakan untuk menyatakan drama, atau psikodrama. Penerapan drama, pada antologi saya di Interactive & Improvisational Drama. sudah  saya rubah, bagaimanapun saya pikir lebih baik untuk menyebut kategori ini “Eksplorasi Tindakan “-atau, sebagai alternatif, “Enactments Eksplorasi.” Saya menulis kembali dua buku besar untuk Psikodrama, memperbaruinya, dan menggunakan judul itu, untuk beberapa alasan:

Kebanyakan orang berpikir drama disetarakan dengan teater. Di antara seniman teater, drama adalah istilah yang lebih inklusif, tetapi hanya sedikit orang tahu ini. Drama (atau teater) untuk sebagian besar adalah scripted, perform, yang dilakukan aktor sebagai “produk polesan” kepada khalayak yang relatif pasif untuk tujuan hiburan. Dan budaya kita penuh tidak hanya drama panggung, namun juga film, program televisi, segala macam acara , DVD, dan sebagainya. Lanjutkan membaca “Psikodrama adalah Eksplorasi Tindakan”

Beberapa Poin Penting ; Dasar Teori Psikodrama : Adam Blatner, MD, TEP (1)


(Presentasi pertama di Konferensi IAGP, London, Agustus, 1998, dengan revisi, kembali dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society for Group Psychotherapy dan Psikodrama pada 9 April 1999.) Revisi dan diterbitkan lagi di website, Mei 2, 2006.)
________________________________________
Pondasi Teoretis Psikodrama telah berevolusi dan diperdalam dalam generasi terakhir.

Beberapa poin penting akan dibahas di bawah ini: Lanjutkan membaca “Beberapa Poin Penting ; Dasar Teori Psikodrama : Adam Blatner, MD, TEP (1)”

Realisme, Keaktoran, dan Stanislavski


September 1st, 2008 by M. Fadli, aktif di teater Rumah Teduh

Stanislavsky adalah seniman sejati. Dia meleburkan sekaligus menggeneralisir diri dengan utuh, hingga akhirnya dia menjelajahi sendiri kisi-kisi kehidupannya sampai ke tingkat paling mendetail. Penonton tak lagi membutuhkan penjelasan lanjutan atas apa yang dia tampilkan. Menurut pendapat saya, begitulah teater seharusnya. (Lenin,1918)

Lanjutkan membaca “Realisme, Keaktoran, dan Stanislavski”

Psikodrama, Teater, dan Aku


Beberapa hari yang lalu, seorang temen berada dalam keadaan yang sulit. Ia menceritakan masalahnya lewat WhatsApp. Masalahnya tidak kutulis karena bukan itu yang ingin aku sharingkan, melainkan sedikit diskusi penutupnya yang mengungkapkan bagaimana Psikodrama dan Teater memberikan pengaruh padaku. Khususnya kepekaanku dalam menangkap ekspresi yang nampak tidak wajar.
Berikut aku kutip beberapa chatt nya :

……

– Udah kucoba utk tetap senyum…spt yg nampak pada pp ku …tak terlihat sedang berduka kan???😜
+ Kalau tanya ke aku,..ya aku bisa melihat lah,…🙏
– Haa .haa ..susah ngomong ma psikolog
+ Ada beberapa otot2 yg membentuk ekpressi,..yg tidak selaras,…yg biasa nya nampak pada seseorang yg berusaha keras menyembunyikan perasaan yg sesungguh nya,..

Hal itu (menyembunyikan perasaan) memang dpt dilatih, namun membutuhkan energi yang besar. Dalam melawan perasaan sendiri biasanya orang lalu mengekpresikan dengan emosi yang lain. Rangsang yang diterima otot-otot untuk berkontraksi menjadi ambigu, otot bekerja lebih berat, bila dilakukan terus menerus dapat menyebabkan sakit fisik (psikosomatis).
Seorang aktor yang baik, ia tidak melawan perasaannya, ia menggali perasaannya sendiri (memori emosi) yang sesuai dengan tuntutan peran (tentu perlu latihan yang cukup), dan ketika ia mendapatkan perasaan yang sesuai, ia tinggal mengekspresikannya, sehingga otot-otot yang membentuk ekspresi selaras dengan perasaannya (spontan) ~ teknik stanislavski

– Yo percoyo po meneh karo pakar ekspresi hee..hee
– Teater dan psikodrama mbuat mu peka terhadap hal tsb
+ Benar,…👍👍👍

Aku dengan aktif di Teater dan Psikodrama terbiasa mengamati dan berlatih mempraktekkannya. Bagiku relatif mudah, untuk menangkap fenomena itu, dengan fokus pada yang diamati, bukan sibuk dengan pikiranku (masalahku) sendiri.

+ meskipun demikian perlu disiplin ketat,..agar dpt menjaga etis,…
+ Krn jika org tsb tidak ingin mengatakan (mengungkapkan diri)…sangat tidak disarankan nge-judge, secara terbuka (verbal)

 
Yogyakarta 06 Januari 2017

Refleksi bagi Aktor Baru dalam ber-Teater


Beberapa waktu yang lalu di Jakarta, aku bertemu dengan seorang Direktur sebuah perusahaan di Tangerang, dalam rangka memberikan arahan untuk proses pelatihan karyawannya, beliau memberikan sebuah Konsep yang berasal dari Kearifan Lokal orang Jawa. Beliau mengharapkan karyawannya memiliki sikap mental yang diajarkan para leluhur tanah Jawa.
Aku mengutip sebagian dan kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia, untuk dijadikan bahan refleksi bagi aktor teater yang baru. Karena sikap mental adalah dasar dari proses unutk menjadi “orang” atau aktor. Demikian ujarannya :
Kau Mendengar belum tentu Melihat
Kau Melihat belum tentu Mengerti
Kau Mengerti belum tentu Bisa
Kau Bisa belum tentu Benar
Kau Benar belum tentu Temanja
…… dst (sengaja sebagian saja yang aku ambil, yang sesuai untuk aktor teater baru) Lanjutkan membaca “Refleksi bagi Aktor Baru dalam ber-Teater”

Ringkasan Materi Pertemuan I, Pelatihan Dasar Keaktoran


Pertama dan utama perlu dipahami oleh aktor teater adalah 3 instrumen ini, yaitu Pikiran, Rasa, dan Tubuh. Hal ini selaras dengan konsep di Ilmu Psikologi, Kognisi (Pikiran), Afeksi (Perasaan) dan Konasi (Tindakan, yang dilakukan tubuh).

Pikiran
Pikiran seorang aktor perlu dilatih dan ditingkatkan wawasannya, dengan :
– Membaca buku
– Berdiskusi
– Observasi
– Mengumpulkan data-data yang ditangkap oleh Indera
– Menganalisa, Menyimpulkan

Rasa
Perasaan aktor juga perlu diolah, dengan :
– Mengenali tiap rasa yang dirasakan sendiri
– Mengenali perasaan yang dirasakan orang lain
– Melatih agar mampu Mengekpresikan rasa dengan tepat
– Melatih agar mampu membangkitkan rasa orang lain
– Berada dalam berbagai situasi
– Bertemu dengan berbagai karakter orang

Tubuh
Tubuh juga perlu dioptimalkan, termasuk dalamnya adalah Indera, dengan :
– Memberi asupan nutrisi yang seimbang
– Berolah raga
– Ikut latihan bela diri
– Menari
– Istirahat yang cukup
– Menjaga kesehatan

Dengan demikian bila dipahami, maka Latihan untuk menjadi aktor dapat dilakukan setiap saat, dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya bila kita mempelajari sesuatu perlu adanya prioritas (Fokus), karena tidaklah mungkin kesemuanya akan dikuasai secara serempak, perlu proses bertahap dan membutuhkan waktu.
Mengenai ‘Fokus”, akan dibahas dalam pertemuan tersendiri.

Mohon masukan dan Feedback nya, terima kasih

Indriya Nati, 22 Juni 2016

8 Tips: Bagaimana Role Play yang efektif untuk Interviews & Assessments


Jan 19, 2016

Belajar Bagaimana Role Play yang Efektif

Metode Role Play biasanya digunakan sebagai bagian dari proses perekrutan, Assesmen Center dan program pengembangan kepemimpinan, biasanya berpusat di sekitar studi kasus rekaan yang relevan. Tujuan menggunakan role play umumnya untuk melihat bagaimana Anda mengelola orang, berperilaku dan seberapa efektif Anda berkomunikasi dan terlibat dengan orang lain – boleh jadi mereka manajer lini, rekan Sejawat, penerima langsung laporan, pelanggan potensial …dll Lanjutkan membaca “8 Tips: Bagaimana Role Play yang efektif untuk Interviews & Assessments”