Rekontruksi adalah Penerapan Teknik Psikodrama untuk Psikologi Forensik


Sedang ramai Rekontruksi perihal bentrokan baku tempak antara Polisi dan Laskar FPI yang mengakibatkan tewasnya 6 orang anggota FPI. Aku tidak ingin membahas mengenai kontraversi antara berbabagi pihak mengenai peristiwa tersebut. Aku ingin menyatakan bahwa Rekonstruski tersebut juga merupakan penerapan Teknik Psikodrama. Lanjutkan membaca “Rekontruksi adalah Penerapan Teknik Psikodrama untuk Psikologi Forensik”

Self Harm, Segitiga Drama Karpman dan The Empowerment Dynamic (TED) Alat untuk Psikoterapi


Ada sebuah pertanyaan dari peserta workshop Psikodrama via Zoom,

“Bagaimana membantu teman yang bila sedang emosi sering melukai dirinya sendiri (self harm)?”.

Waktu itu aku sarankan secepatnya diarahkan untuk mendapatkan bantuan profesional. Pastikan teman tersebut tidak sendiri, dan berikan pemahaman akan perlunya bantuan dari ahlinya. Lanjutkan membaca “Self Harm, Segitiga Drama Karpman dan The Empowerment Dynamic (TED) Alat untuk Psikoterapi”

Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership


Beberapa waktu yang lalu aku mengikuti seminar online via Zoom tentang Servant Leadership. Ada yang menarik dari seminar tentang kepemimpian ini, yaitu menyebutkan bahwa kemampuan melakukan Healing merupakan salah satu prinsip penting dari kepemimpinan. Aku kemudian mencari tulisan di internet mengenai Servant Leadership ini. Berikut aku temukan di Internet.

Lanjutkan membaca “Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership”

Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Lanjutkan membaca “Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online”

Menata File Memori Lama agar Lebih Cepat Menerima File Baru


Hape-ku mulai lelet untuk membuka dan menerima informasi baru. Membutuhkan waktu relatif lama hanya sekedar membuka saja. Maka aku lakukan proses menata (membuang) file file lama, terutama video dan foto yang aku dapatkan dari media sosial.

Dari proses itu aku terpikirkan pada apa yang sering terjadi pada kebanyakkan pikiran orang. Banyak orang kesulitan menerima pemahaman baru, serta sulit belajar hal yang baru, karena banyaknya pengalaman dan ingatan yang membebani. Orang perlu menata (membuang) pikiran pikiran lama, agar tersusun rapi dan membuka jalan mempermudah menerima pikiran baru. Lanjutkan membaca “Menata File Memori Lama agar Lebih Cepat Menerima File Baru”

4 Langkah Sederhana untuk Belajar dengan Cepat Kemampuan Baru


Sebenarnya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh keterampilan baru ?

Banyak orang mengatakan sekitar 10 000 jam belajar,

Wow lama bingit, itu dapat disamakan dengan kerja fulltime selama 5 tahun, jadi malas untuk belajar!

Perlu diketahui bahwa 10 000 jam itu untuk mencapai level expert, ahli, dan melakukan layaknya profesional handal.

Namun apakah untuk belajar ketrampilan yang baru butuh selama itu? Lanjutkan membaca “4 Langkah Sederhana untuk Belajar dengan Cepat Kemampuan Baru”

Apa itu Psikodrama, Pengantar Psikodrama oleh Marcia Karp


Seorang gadis kecil bertanya kepada ibunya, “Apa itu hidup?”. Ibunya menjawab, “Hidup adalah yang terjadi padamu saat kamu menunggu untuk tumbuh dewasa.”

Psikodrama telah didefinisikan sebagai cara mempraktikkan hidup tanpa dihukum karena melakukan kesalahan; artinya, berlatih tumbuh dewasa saat kita melakukannya. Tindakan yang terjadi dalam suatu kelompok merupakan cara memandang kehidupan seseorang saat bergerak. Ini adalah cara untuk melihat apa yang terjadi dan yang tidak terjadi dalam situasi tertentu. Lanjutkan membaca “Apa itu Psikodrama, Pengantar Psikodrama oleh Marcia Karp”

Resolusi Konflik dengan Metode Psikodrama


Aku dapatkan dari Google,  Teori konflik melihat kehidupan sosial sebagai sebuah kompetisi, dan berfokus pada distribusi sumber daya, kekuasaan, dan ketidaksetaraan. Tidak seperti teori fungsionalis, teori konflik lebih baik dalam menjelaskan perubahan sosial, dan lebih lemah dalam menjelaskan stabilitas sosial.

Masih selaras dengan hal itu, aku memakai pemahamanku yang lebih banyak berperspektif Psikologi. Aku memilih dari Teori Peran, agar dapat diperankan, didramakan. Konflik adalah ketidak-selarasan, berbeda tujuan, berbeda arah, mungkin juga berbeda cara atau berbeda gaya. Setiap orang memainkan sejumlah peran yang berbeda, dan kadang-kadang peran-peran tersebut membawa harapan-harapan yang bertentangan. Lanjutkan membaca “Resolusi Konflik dengan Metode Psikodrama”

Pelepasan Peran dalam Praktek Psikodrama dan Aplikasinya di Bisnis Akting


Pelepasan Peran, terjemahan bebas dari teknik De-Rolling digunakan sesaat sebelum tahap action, dalam praktek psikodrama, usai. (silahkan baca: Tahap Psikodrama) Proses penutupan ini termasuk pemeriksaan apakah protagonis atau pembantu protagonis perlu dilepaskan dari peran apa pun yang telah dimainkan.

De-rolling dapat mencakup berbagi persepsi yang diperoleh dari peran dan mengekspresikan emosi yang tersisa dari memainkan peran selama tahap Action. Itu mungkin termasuk penghinaan secara fisik: “melepas kostum peran; membersihkan energi negatif yang masih menguasai.” Lanjutkan membaca “Pelepasan Peran dalam Praktek Psikodrama dan Aplikasinya di Bisnis Akting”

Saran Agar Berani Praktek Psikodrama


Ada pertanyaan dari teman yang pernah mengikuti Workshop Psikodrama, dan sekarang tergabung dalam WAG.

Tanya :

Mas, aq blh curhat kah?? Sampai hr ini aku blm berani mempraktekkan psikodrama ini… Apa karena ilmunya blm nempel ya?? 😁😁

Jawab :

wajar aja kok,..kalau terlalu banyak pengetahuan dan teori,..malah takut, untuk mempraktekkan Psikodrama, untuk mengurangi ketakutan itu, atau agar berani  praktek,… Lanjutkan membaca “Saran Agar Berani Praktek Psikodrama”