Penerapan Psikodrama untuk Perencanaan Strategi Organisasi


Siang tadi bersama Henk2 melayat putra mantan Dosen kami. Setelah mendoakan dan menyalami beliau kami duduk ngobrol sejenak. Kami bertemu dengan beberapa temen yang menjadi Pengajar Psikologi di salah satu Universitas di Yogyakarta. Saya menawarkan diri apakah bisa mengajar psikologi terapan, terapi kelompok Psikodrama. ditanggapi dengan positip, bahwa secara prinsip bisa saja dan nanti secara teknis akan dikabari, karena perkuliahan belum dimulai.

Henk2 punya ide, untuk memperbesar peluang penerapan Psikodrama di ranah yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa, psikodrama dapat juga untuk menyusun strategi organisasi. Jadi psikodrama diterapkan untuk Psikologi Organisasi atau Industri. Kami memang sudah lama berdiskusi mengenai pengembangan Psikodrama, selain untuk Psikologi Klinis, Psikologi Terapi, dan Terapi Kelompok. Jadi kemunculan ide-ide seperti ini sering terjadi dan kali ini saya ingin menuliskannya. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Perencanaan Strategi Organisasi”

Fenomena Cebong Kampret dan Upaya Rekonsiliasi dengan Cara Psikodrama


Melihat dan mendengar apa yang ada di media sosial dan acara talk show di televisi (termasuk berita beritanya), Keriuhan Pesta Demokrasi, Pendukung Paslon, terbelah menjadi dua kubu. Salah satu kubu disebut Cebong yang mendukung Paslon nomor 01. Kubu satunya lagi disebut Kampret yang mendukung Paslon nomor 02. Lanjutkan membaca “Fenomena Cebong Kampret dan Upaya Rekonsiliasi dengan Cara Psikodrama”

Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama, #Tulisan 14 Ringkasan dan Daftar Pustaka


Ringkasan

Moreno menemukan bahwa tele (atau hubungan) adalah kekuatan yang kuat yang bekerja di bidang interpersonal. Membawa perhatian pada fenomena ini membantu orang untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang terlibat dan untuk secara lebih sadar menanggapi isyarat-isyarat dekat-bawah sadar yang sering muncul ini. Menghargai dinamika hubungan dapat membantu orang memilih pasangan dan kelompok mereka dengan lebih bijak dan mengenali preferensi autentik mereka sendiri. Kegiatan-kegiatan yang mempromosikan hubungan di antara anggota kelompok kemudian mengarah pada kohesi kelompok yang meningkat, kapasitas yang lebih besar untuk empati dan pertemuan, dan konteks yang lebih menguntungkan untuk bekerja melalui konflik antarpribadi. Lanjutkan membaca “Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama, #Tulisan 14 Ringkasan dan Daftar Pustaka”

Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi


Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan yang mengolah pikiran, sesuatu yang penting dalam membangun bekal untuk menjalani kehidupan. Telah banyak contoh penemuan hebat dari hasil mengolah pikiran ini. Teknologi Informasi, 4.0, Hape, internet, AI, adalah capaian capaian yang belum pernah ada sebelumnya.

Sekarang saatnya  mengolah Rasa juga. Bagaimana pun adanya Rasa, pastilah memiliki guna. Puncak dari kemampuan merasa adalah Empati, dan lembah dari kemampuan merasa adalah Baper terlalu Sensi. Masyarakat umum lebih sering menghindari rasa ini, karena fokus pada kondisi yang di Lembah (Baper terlalu sensi), bahkan mengusahakan jika mungkin untuk tidak berurusan dengan Rasa. Sebuah konsekuensi dari terlalu fokus mengolah pikiran sehingga mengabaikan berkah Rasa ini. Rasa juga merupakan anugerah yang perlu diolah agar mampu berfaedah.

Bagaimana mengolahnya? Lanjutkan membaca “Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi”

Sebuah Latihan untuk Melatih Kekuatan Interpersonal


Inilah cara untuk mengetahui seberapa kuat dirimu :

Pikirkan seseorang yang kau kenal; dan kemudian, setelah berpikir demikian, panggil orang itu dan katakan, “Hai, Aku sedang memikirkan kamu.” Untuk sedikit tambahan, ketika kau memikirkan orang itu, fokuskan pada beberapa hal kecil yang mereka lakukan, atau yang kau lakukan bersama….., atau sesuatu yang mereka mainkan, dll.

Dan kemudian ketika kau menelepon, katakan, “… dan aku ingat itu …” dan akhiri kalimat dengan apa yang kau pikirkan. Lanjutkan membaca “Sebuah Latihan untuk Melatih Kekuatan Interpersonal”

Sensitivitas Telic, Empati dan Encounter, #Tulisan 11 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Sensitivitas Telic, Empati dan Perjumpaan

Orang dilahirkan dengan kapasitas untuk tele, tetapi pada awalnya itu menyebar dan tidak berdiferensiasi. Kapasitas untuk secara akurat menilai bagaimana orang lain mungkin bereaksi, apakah mereka mungkin merasakan perasaan ketertarikan positif atau negatif yang serupa, atau bahkan netralitas atau ketidakpedulian, disebut “sensitivitas telik”. Ketika dua orang memiliki perasaan yang berbeda satu sama lain, seperti tarik-tolak, atau tarik-netralitas, ini disebut “infra-tele,” dan mencerminkan kurangnya sensitivitas telik yang akurat pada bagian dari setidaknya satu individu (Nehnevajsa). 1956: 62). Lanjutkan membaca “Sensitivitas Telic, Empati dan Encounter, #Tulisan 11 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Latihan Penerapan Nilai-nilai Pancasila dengan Metode Psikodrama


Turut memperingati Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2019 ini, saya ingin menawarkan metode Psikodrama untuk melatih penerapan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila adalah Dasar Negara Indonesia yang sekarang dirasakan sangat dibutuhkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk itu, yaitu dengan mewajibkan pada hari ini Pegawai Negeri (ASN) melakukan Upacara Bendera. Sebuah usaha konkrit untuk menyadarkan kembali tentang pentingnya Pancasila. Hal ini merupakan awal yang baik, dan saya ingin melanjutkan setelah sadar, dengan melatih agar hidup dalam tiap pribadi manusia Indonesia, karena kesadaran perlu dilanjutkan dengan tindakan dalam penerapannya.

Saya menawarkan beberapa teknik Psikodrama yang dapat digunakan untuk melatih implementasi Pancasila dalam kehidupan nyata.

Mari kita mulai :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam hal ini saya memfokuskan pada pemahaman religius, yaitu memiliki Hubungan yang Baik dengan Yang Maha Esa, memiliki Hubungan yang Baik dengan Orang lain dan memiliki Hubungan yang baik dengan dirinya sendiri, (masa lalunya, dirinya Sekarang dan dirinya masa  depan atau harapan dan cita citanya)

Peserta diajak berdiri melingkar.

– Telapak tangan kanan diletakkan di dada sebelah kiri sambil berkata,  “Personal, Aku bangun hubungan yang lebih baik dengan diriku sendiri, kuterima masa laluku, dan kuyakin masa depanku, hingga aku bahagia dengan diriku sekarang.

– Telapak tangan kanan diletakkan di Pundak rekan sebelah kanan sambil berkata, “Interpersonal, kubangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain, kumaafkan segala salah paham yang terjadi, dan aku juga minta maaf jika aku menyakiti, hingga dapat kujalin persahabatan dan persaudaraan lagi.

– Tangan kanan di angkat ke atas depan, sambil berkata, “Transpersonal, Aku membangun hubungan yang lebih baik dengan Penciptaku, Aku yakini yang terjadi padaku, dulu, sekarang dan nanti, semata adalah KehendakNya.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Memanusiakan Manusia, Apa yang kurasa juga orang lain rasakan, puncak dari olah rasa adalah Empati.

Teknik psikodrama yang dapat digunakan adalah bertukar peran (Role Reversal) :

– Peserta diminta mengenali peran-peran sehari -hari, sebagai Perempuan, Ibu, Anak, Atasan, Bawahan, Bapak, Orang Tua, Kakek,..dll

– Peserta berpasangan laki laki dan Perempuan, atau Orang Tua dan Anak, atau Atasan dan Bawahan…dll.

– Bermain drama spontan dengan peran peran itu berdasarkan pengalaman nyata.

– Peran-nya ditukar dengan tetap memainkan drama yang sama.

– Ditutup dengan merefleksikan perasaan yang muncul.

3. Persatuan Indonesia.

Indonesia memiliki keragaman suku bangsa dan budaya. Perbedaan ini menjadi kekayaan, Bhinneka Tunggal Ika, menerima keberagaman ini lah wujud Persatuan Indonesia.

Dengan menggunakan teknik Sosiometri Lokogram, peserta diminta berkumpul dengan yang sama etnis/suku nya.

– berkenalan, saling berbagi mengenai keunggulan (sesuatu yang dibanggakan) dari kelompok

+ peserta diajak berkumpul sesuai Agama nya

– berkenalan, saling berbagi mengenai keunggulan (sesuatu yang dibanggakan) dari kelompok

– Peserta diminta berkumpul sesuai Jenis Kelamin

– berkenalan, saling berbagi mengenai keunggulan (sesuatu yang dibanggakan) dari kelompok

Demikian dilakukan dikumpulkan berdasar Hobby, Makanan Kesukaan, Warna Kesukaan, Profesi, Asal Sekolah, dll

Selanjutnya sharing dalam kelompok besar perasaan yang muncul berdasarkan pengalaman tadi.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

inti dari Sila ini adalah Mufakat, dan untuk dapat mewujudkan nya perlu dialog, dan kompromi saling percaya dan menghargai.

Latihan dapat dilakukan dengan Teknik Sculpture, atau membuat diorama,

+ peserta secara acak dibentuk kelompok, dan diminta untuk membuat diorama tiap kelompok dengan diberikan waktu berdiskusi

– silahkan berdiskusi selama 5 menit untuk membuat diorama, peristiwa Petang Hari di Taman,

– Kelompok diubah lagi secara acak, silahkan berdiskusi membuat diorama “Pagi Hari di Depan Rumah” atau ” Makan di warung Angkringan, dll

Sharingkan dalam kelompok besar pelajaran apa yang di dapat, saat diskusi, dan selama menjalankan hasil kesepakatan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk Sila ini saya mengambil tindakan yang dapat dilatih adalah melibatkan orang lain dan memberikan kesempatan yang sama serta saling mengapresiasi.

– Secara spontan diminta semua peserta membuat diorama tentang Peristiwa tanpa berkomunikasi dengan suara.

– bergiliran tiap peserta “membeku” (menjadi patung Pohon, atau patung Bunga, atau patung orang, dll) dan yang terakhir diminta menceritakan tentang peristiwa tersebut.

– selanjutnya membuat peristwa lain, Pesta Pernikahan, Suasana Pasar Tradisional, Sebuah Kecelakaan di Jalan,..dll

– ditutup dengan sharing perasaan yang muncul dan pelajaran apa yang dapat diambil dari pengalaman barusan.

Keseluruhan Latihan tidak harus urut sesuai urutan sila diatas, dalam Prakteknya mengikuti alur Psikodrama yaitu, Warming Up, Action dan Reflektion

 

Yogyakarta, 1 Juni 2019

Retmono Adi