15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno


Moreno Academy, Beacon, N.Y.

Pertumbuhan permintaan akan pekerja berketrampilan psikodrama telah membuat kita memperhatikan kebutuhan untuk menstruktur suatu pernyataan komprehensif dari aturan-aturan fundamental[1] dalam praktik metode ini, dan survei dan penjelasan singkat mengenai berbagai versi intervensi psikodramatis. Survei-survei lain metode ini telah menjelaskan beberapa darinya,[2] tapi penting untuk memiliki sejumlah aturan dasar untuk menjadi panduan bagi praktisi. Lanjutkan membaca “15 Aturan Dasar sebagai Panduan bagi Praktisi Psikodrama oleh Zerka T. Moreno”

Sculpture (Memahat Membuat Patung) Salah satu Teknik Psikodrama


Apa itu Sculpture (Memahat) atau membentuk Figur dalam Psikodrama ?

Sculpture adalah Teknik dalam Psikodrama dengan membuat Patung, atau figur dengan tubuh atau seluruh badan peserta, secara individu maupun berkelompok. Tubuh atau badan peserta dibentuk oleh peserta sendiri, oleh peserta lain atau pun oleh Direktur (sutradara, atau Fasilitator) menjadi figur.

Figur yang dibuat ini bisa sebuah benda mati atau pun tokoh karakter tertentu, misalnya Pohon, Batu, Burung, Presiden, Thanos, dll.

Apabila dilakukan berkelompok dapat juga membentuk sebuah Peristiwa (diorama). Istilah terbaru yang populer beberapa waktu yang lalu adalah Mannequin Challenge.

Teknik ini dapat digunakan ditahap Warming Up untuk membangun hubungan antar peserta, dan membangun saling percaya, termasuk juga membangun hubungan antara Peserta dan Fasilitator. Selain itu teknik ini juga dapat digunakan pada tahap Action, apabila waktu tidak memungkinkan untuk melakukan drama yang lengkap dengan Gerak dan Dialog.

Instruksi yang sering saya gunakan adalah berkata dengan keras “Freezzzzzz!” dan seluruh peserta akan membeku menjadi Patung.

Contoh :

“Tolong menjadi Air Mancur,…3,…..2,….1,….Freezzzz!”

“Tolong buatkan suasana Taman kota di Senja hari,…..5,….4,…3,…2,…1,…Freezzz!”

Pemanfaatan lebih lanjut Teknik ini dapat digunakan untuk Membangun Sinergi Kelompok dalam dunia kerja. Dapat juga untuk melatih Belajar Sosial bagi Anak-anak atau Remaja. Tentunya dengan diberikan pengantar yang cukup untuk materinya, atau Refleksi (debrief) yang mendalam sesudahnya.

Silahkan mencoba,…….

Yogyakarta, 15 Mei 2019

Retmono Adi

 

Psikodrama dalam Pelatihan Singkat Membangun Team Work dan Melatih Problem Solving di Tasikmalaya


Melakukan psikodrama dengan tim pegawai model inhouse training merupakan pengalaman baru bagiku. Beberapa hari aku merenungkan skenario apa yang harus kulakukan, berhubung kegiatan ini bukan karena keinginan peserta alias kewajiban pegawai mengikuti proses training, maka tujuan pun sudah ditentukan owner. Peranku sebagai trainer merenungkan apakah target dapat tercapai, dengan peluang apapun dapat terjadi selama proses psikodrama. Padahal kegiatan hanya dilakukan dalam waktu yang singkat, hanya 5 jam saja. Lanjutkan membaca “Psikodrama dalam Pelatihan Singkat Membangun Team Work dan Melatih Problem Solving di Tasikmalaya”

Kala Psikolog ber Gosip, Apakah dapat menjadi sebuah Refleksi Profesional ?


Hari ini kami bergosip. Kami duduk melingkar ditemani teh hangat dan beragam cemilan ala grup arisan. Diantara tumpukan berkas dan buku-buku referensi, makanan itu seperti obat penenang bagi yang mulai pening kepala. Sebab ini bukan grup guyon dan gosip entertain biasa yang menyenangkan. Bukan sembarang gosip karena kepo atau mencari-cari urusan dalam negeri orang lain. Walaupun ada kesamaannya dengan gosip guyon dalam hal bahwa kami juga bisa ngakak sampai menangis miris. Sebab ini memang gosip diantara kawan-kawan profesional dalam rangka membahas kasus klinis yang serius. Ini bedah kasus di meja bundar di pandu profesor handal kebanggaan kami. Agak merinding mendengarnya, karena pembicaraan berisi kepahitan hidup dan dinamika manusia yang sedang berjuang untuk menjadi utuh dan sehat mental. Lanjutkan membaca “Kala Psikolog ber Gosip, Apakah dapat menjadi sebuah Refleksi Profesional ?”

Testimoni Pengalaman Mengikuti Psikodrama di Medan Maret 2019


Psikodrama sebagai  terapi kelompok, Psikodrama yang saya ketahui salah satu bagian dari teknik terapi yang melibatkan orang lain . Cukup  sampai disitu yang saya ketahui.

Bagaimana menerapkan dalam sesi konseling?
Apakah sulit ?
Apa saja yang dipersiapkan?

Itu membuat saya menjadi penasaran….
Maka saya merealisasikan rasa ingin tahu ini …
Dan semuanya terjawab dalam sesi-sesi pelatihan yang sangat Apik dan menyenangkan.

Dalam Psikodrama bukan hanya “protagonis” yang mendapat manfaat tapi peran pengganti yang lain juga terpapar manfaatnya…

Semoga dapat saya  praktekkan dalam kelompok relawan LLHPB Aisyiyah. Terimakasih Mas Retmono Adi untuk pengalaman terindah, memberi ruang dan peluang untuk menjadi apa yang kita mau, tanpa kukungan nilai….

        Tubuh lihai meliuk suka-suka
         Rentang jari riang dalam rasa
          Aku menjadi… Aku adalah Aku

#Psikodrama

Medan, 21 Maret 2019

Sri Ngayomi

Testimoni Psikodrama, Saya Masih Penasaran (Oops, sekarang tanggal 21 Februari, molor 9 hari)


Terakhir saya menulis adalah ketika saya sedang menangis karena melihat anak perempuan saya yang masih berusia satu bulan tengah sakit flu, hampir setahun lalu. Namun kali ini saya tidak sedang ingin membahas anak saya ataupun tulisan saya, melainkan tentang satu kegiatan yang baru saya ikuti sekitar dua minggu lalu. semoga hasil tulisan saya bisa cukup runut untuk dijabarkan mengingat kemampuan menulis saya yang sudah semakin menurun karena tidak pernah lagi diasah.

Baiklah, tanpa berpanjang lebar, mari dimulai saja tulisannya. Lanjutkan membaca “Testimoni Psikodrama, Saya Masih Penasaran (Oops, sekarang tanggal 21 Februari, molor 9 hari)”

….menjadi Orang yang Tahu Segalanya tidak akan Menyelamatkan


Aku punya pengalaman dulu waktu memfasilitasi Game Kerjasama saat itu masih sebagai Trainer di salah satu Perusahaan Tambang Batubara, temen-temen lulusan SMK, lebih berani segera mencoba dan mempraktekkan sehingga cepat berhasil. Sementara Kelompok yang Lulusan Sarjana, lama sekali berdiskusi mengatur strategi, dan memakan banyak waktu sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Waktunya habis terpakai untuk berdebat tanpa solusi.

Aku yakin hal itu bukan karena Lulusan Sarjana kalah cerdas, atau tidak mampu. Aku melihat ada keinginan kuat untuk “mengetahui” lebih dulu bagaimana (jalan/cara) yang benar, kemudian baru melakukan. Sementara temen yang lulusan SMK, langsung saja melakukan sambil improvisasi spontan mencari jalan yang tepat.

Jangan jangan temen temen lulusan sarjana ini terjebak pada paham Gnostisisme, mereka lebih penting mengetahui dan lupa waktu untuk segera bertindak. Tanpa sadar menganggap jika sudah mengetahui cara yang benar otomatis mampu melakukan dengan benar.mereka Mau bertindak jika sudah mengetahui.

Sementara temen SMK sudah Mau bertindak (dengan gembira), meski belum mengetahui caranya. Setelah bertindak baru mereka mengetahui. Mereka mendapatkan pengalaman dan pengetahuan.

Kemudian saya menemukan tulisan dari Group WA, mengenai Gnotisisme, yang dituliskan oleh Seorang Pastor Philipina.

 

Gnostisisme adalah Paham yang berasal-usul dari kata Yunani “gnosis”, berarti “mengetahui”. Dalam sejarah Gereja, Gnostisisme adalah ajaran sesat yang mengatakan bahwa yang paling penting adalah “apa yang kita ketahui”. Paham ini menegaskan bahwa yang kita butuhkan hanyalah pendekatan intelektual yang benar.

Paus Fransiskus mengatakan dewasa ini Gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya dapat dipahami” dan menuntun mereka untuk memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. “Ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan,” kata Francis, “itu adalah tanda bahwa mereka tidak berada di jalan yang benar.”

Dengan kata lain, menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkan Anda.

 

Pastor Constan Fatlolon

 

Aku dapat memahami “kegelisahanku atas fenomena peserta yang memiliki hasrat ingin tahu yang besar, untuk mendapatkan jawaban, ingin memiliki banyak pengetahuan.

Di sini aku makin yakin akan kontribusi Psikodrama, yang menekankan pada tindakan, bahkan juga mengajak untuk berani salah. Kondisi ini akan menjadikan seseorang tidak terjebak untuk mengetahui dulu sebelum bertindak, bahkan diajak bertindak agar nanti mengetahui, ujaran orang Jawa, Ilmu Tinemu Kanthi Laku. Pengetahuan akan didapatkan dengan melakukan tindakan (menjalani).

Dalam proses terapi Zerka Moreno mengatakan, “Subyek (pasien, klien, protagonis) memperagakan konfliknya, bukannya berbicara mengenainya.”

 

Retmono Adi