Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara


Mereka berasal dari sekolah yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, serta banyak perbedaan lainnya. Namun disatukan menjadi satu kesatuan siswa penerima beasiswa dari sebuah kelompok pemerhati pendidikan anak yang slogannya ingin mencegah anak putus sekolah di Indonesia. Tentu aja niat luhur ini harus didukung. Saya senang sekali saat diminta untuk menjadi fasilitator perkenalan para siswa ini, di hari pertama mereka dinyatakan diangkat sebagai penerima bea siswa selama satu tahun. Meski dalam waktu relatif singkat untuk mempersiapkan diri, saya juga ingin memberi kontribusi pada kegiatan tersebut. Lanjutkan membaca “Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara”

Bagaimana Menumbuhkan Engagement pada Millennial dengan Psikodrama


Mengutip Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru yang mengklarifikasi perihal teknologi dalam pendidikan :

Banyak persepsi yang salah, menurut Nadiem, karena dengan dirinya menjadi menteri, maka semua akan diganti dengan aplikasi. “Saya cukup lucu dengan itu,” katanya. Nadiem memberikan klarifikasi bahwa pendidikan adalah apa yang terjadi dalam dua ruang, yaitu di kelas, murid dan guru, serta di rumah, orang tua dan anak.

“Itu kuncinya. Teknologi tidak akan mungkin bisa menggantikan koneksi itu. Karena pembelajaran terbaik itu adanya koneksi batin kuat dan bisa timbul rasa percaya,” turur Nadiem. (dapat dibaca Nadiem Makarim Sampaikan 5 Fokus Utama kepada DPR )

Koneksi Batin yang kuat yang dapat menimbulkan rasa saling percaya, dapat disetarakan dengan 3 Hubungan dalam Psikodrama, yaitu, Hubungan Personal, Hubungan Interpersonal, dan Hubungan Transpersonal. Lanjutkan membaca “Bagaimana Menumbuhkan Engagement pada Millennial dengan Psikodrama”

Penari Lumba-lumba yang (bukan) Bernama Bambang, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Bismillahirrohmanirrohim

Mendengar kata psikodrama pertama kali dua tahun yang lalu. Penasaran dan banyak pertanyaan dalam benak namun baru sempat browsing lebih dalam di medio Juni 2019. Tulisan-tulisan psikodrama yang saya dapat kebanyakan berbahasa asing. Seseorang teman yang aktif di sosial media Instagram menyarankan saya untuk stalking dulu ke @psikodrama_id, lalu lanjut menelusuri event-event terkait psikodrama yang selalu saja hanya satu nama yang terhubung di sana. Retmono Adi yang nampaknya memang dedengkotnya ahli psikodrama. Lanjutkan membaca “Penari Lumba-lumba yang (bukan) Bernama Bambang, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta”

Sculpture (Memahat Membuat Patung) Salah satu Teknik Psikodrama


Apa itu Sculpture (Memahat) atau membentuk Figur dalam Psikodrama ?

Sculpture adalah Teknik dalam Psikodrama dengan membuat Patung, atau figur dengan tubuh atau seluruh badan peserta, secara individu maupun berkelompok. Tubuh atau badan peserta dibentuk oleh peserta sendiri, oleh peserta lain atau pun oleh Direktur (sutradara, atau Fasilitator) menjadi figur.

Figur yang dibuat ini bisa sebuah benda mati atau pun tokoh karakter tertentu, misalnya Pohon, Batu, Burung, Presiden, Thanos, dll.

Apabila dilakukan berkelompok dapat juga membentuk sebuah Peristiwa (diorama). Istilah terbaru yang populer beberapa waktu yang lalu adalah Mannequin Challenge.

Teknik ini dapat digunakan ditahap Warming Up untuk membangun hubungan antar peserta, dan membangun saling percaya, termasuk juga membangun hubungan antara Peserta dan Fasilitator. Selain itu teknik ini juga dapat digunakan pada tahap Action, apabila waktu tidak memungkinkan untuk melakukan drama yang lengkap dengan Gerak dan Dialog.

Instruksi yang sering saya gunakan adalah berkata dengan keras “Freezzzzzz!” dan seluruh peserta akan membeku menjadi Patung.

Contoh :

“Tolong menjadi Air Mancur,…3,…..2,….1,….Freezzzz!”

“Tolong buatkan suasana Taman kota di Senja hari,…..5,….4,…3,…2,…1,…Freezzz!”

Pemanfaatan lebih lanjut Teknik ini dapat digunakan untuk Membangun Sinergi Kelompok dalam dunia kerja. Dapat juga untuk melatih Belajar Sosial bagi Anak-anak atau Remaja. Tentunya dengan diberikan pengantar yang cukup untuk materinya, atau Refleksi (debrief) yang mendalam sesudahnya.

Silahkan mencoba,…….

Yogyakarta, 15 Mei 2019

Retmono Adi

 

Kami Belajar Bersama Pada Hari Itu ; Tulisan Psikodrama di Surabaya 2019


Ada pepatah yang mengatakan belajarlah sesuatu yang baru setiap hari. Bahkan Albert Einstein pun mengeluarkan pendapat yang lebih keras lagi, “Once you stop learning, you start dying.” Kesempatan untuk belajar selalu hadir mengetuk pintu hati dan pikiran kita. Tinggal bagaimana kita menyadari dan bersyukur atas kesempatan itu dengan menggunakannya sebaik mungkin.

Tapi mudah mengatakan semua itu daripada melakukannya. Musuh terbesarku mungkin adalah rasa kekwatiran apakah bisa melakukannya atau tidak. Pada awal tahun baru 2019 ini saya diberi kesempatan untuk mencicipi belajar sesuatu yang baru itu. Kesempatan itu berupa memberikan materi pelatihan kepada para guru muda di suatu sekolah swasta yang bisa dikatakan nomor satu di kota Surabaya. Saya sangat menghargai para guru muda itu. Saya menganggap mereka istimewa karena merekalah penerus bangsa kita.

Posisi dan peran mereka juga sangat penting karena mereka berada di era waktu awal suatu perubahan besar. Apa yang mereka dapatkan dari pendidikan ilmu keguruan mereka belum tentu sepenuhnya akan membantu mereka menghadapi generasi millennial dan berikutnya yang sangat berbeda. Tantangan mereka besar ke depan sehingga respek saya juga besar kepada mereka. Butuh banyak keberanian bagi guru-guru muda untuk bisa langgeng di profesi mereka.

Tema yang sekolah minta saya berikan adalah etos kerja, tapi dikaitkan dengan menghadapi ketidakpastian di jaman sekarang dan pengaruh teknologi gadget yang sangat besar pada anak-anak didik jaman sekarang. Gurupun perlu adaptasi, tapi adaptasi tanpa pemahaman yang mendalam mengenai etika, moralitas, nilai-nilai, dan keutamaan yang penting mungkin dapat mengganggu proses adaptasi mereka, bahkan bisa saja sampai berujung pada keputusasaan.

Saya berfokus pada kemampuan diri sendiri untuk secara bijak membuat keputusan yang tepat, yang mana keputusan tersebut kadang membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kepekaan dalam memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekeliling mereka, terutama para anak didik, serta ketulusan, kejujuran, dan keutamaan lainnya.

Saya mengawali pemberian materi dengan sesi perkenalan. Kami duduk dalam bentuk lingkaran dan saya meminta satu-persatu untuk memperkenalkan nama dan bidang studi yang diampu, dan kemudian memperagakan suatu pose yang menunjukkan siapa mereka atau bisa juga keadaan hati mereka saat itu.

Proses perkenalan berjalan lancar dan penuh suka cita dengan diselingi berbagai guyon dari peserta karena beberapa dari mereka menambahkan informasi selain nama dan bidang studi (misalnya status kejombloan, dll). Kebanyakan pose yang dipilih, seperti dugaanku, masih pose yang sangat aman dan nyaman. Pose yang belum menunjukkan keinginan untuk keluar dari zona nyaman. Opini ini saya berikan di bagian akhir sesi perkenalan tapi dengan hanya sekilas saja dan memakai bahasa yang ringan.

Saya kemudian menantang mereka dengan bertanya apakah mau keluar dari zona nyaman. Jawaban mereka secara antusias adalah “Mau!” Maka kemudian saya bawa mereka ke bagian berikutnya.

Pada bagian kedua ini, saya awali dengan pemanasan singkat, yaitu meminta mereka sendiri-sendiri membuat suatu pose sesuai instruksi saya, yaitu membuat pohon. Serentak mereka bergerak, dan hampir semuanya mengangkat tangan ke atas. Hanya ada mungkin sekitar 3 dari 26 orang yang tangannya tetap di samping badan, malah berdiri lurus seperti dalam keadaan siaga, tidak bergerak sama sekali, yang menurut mereka itu juga adalah pohon. Dari yang tangannya ke atas, semuanya membuat pose yang simetris. Dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, saya memancing dan mendorong mereka untuk mengamati semua pose dan memberikan opini mereka. Mereka akhirnya memahami bahwa masih banyak kemiripan dan serba simetris, padahal dalam dunia nyata pohon bisa beragam rupanya. Saya akhirnya memperagakan beberapa pose yang aneh dengan bertanya apakah pohon bisa berbentuk seperti itu untuk mulai membuka pemikiran mereka.

Kemudian kami lanjut dengan membuat pose pohon dengan berkelompok 3 orang dan 5 orang. Pesan-pesan yang saya berikan selama mereka berpose adalah untuk terus melakukan posenya secara hening, tidak perlu mengatur orang lain tapi berfokus kepada pemikiran sendiri. Ini berarti mereka perlu mengamati, mengobservasi, bahkan menunggu sampai teman kelompoknya menjadi sesuatu dulu baru kemudian menambahi. Saya mencoba berjalan dari satu kelompok ke kelompok berikutnya untuk bertanya kepada anggota kelompok mengenai posenya, perasaan yang dirasakan, apa yang mendorongnya untuk mengambil posisi itu, dan seterusnya.

Karena waktu yang terbatas (bagian bermain ini sekitar 1 jam saja), setelah itu saya memutuskan untuk mengajak seluruh peserta menjadi satu kelompok dan memperagakan suatu adegan yang mereka pahami karena terkait lingkungan sekitar sekolah mereka. Sebenarnya keinginanku adalah untuk mencoba dua adegan, satu mengenai lingkungan warung-warung usai jam sekolah di belakang sekolah di mana banyak siswa dan staf berkumpul, dan satunya lagi mengenai adegan di dalam kelas tapi apa daya waktu mengijinkan hanya adegan pertama.

Adegan berjalan dengan baik, walaupun ada hal-hal yang kurang sesuai. Misalnya ada beberapa peserta yang berkumpul di bagian belakang untuk membuat pintu gerbang keluar dan objek di sekitarnya, dan ada beberapa peserta yang mengadegankan warung, siswa-siswa yang ingin menyeberang jalan dan yang naik motor. Hanya saja, kedua kelompok itu sepertinya secara visual tidak menempatkan posisinya sesuai dengan keadaan realitas karena arah motor-motor bukan ke arah yang tepat. Beberapa peserta akhirnya saat refleksi mengatakan kebingungan mau menjadi apa.

Sambil berjalan dari satu orang ke orang berikutnya untuk bertanya mereka menjadi apa, saya mendengarkan perasaan dan proses berpikir mereka mengapa memilih pose itu. Hampir semuanya mengatakan bahwa sebelum menjadi sesuatu, mereka melihat dulu yang lain jadi apa sebelum melengkapi adegan.

Ada segelintir orang yang menginisiasi gerakan pertama yang memilih langsung untuk menjadi apa dan ini kemudian mereka refleksikan juga bahwa kadang dalam suatu keadaan, harus ada yang menginisiasi untuk bergerak. Bagi yang awalnya kebingungan, ada beberapa pembelajaran juga yang kami dapatkan, yaitu saat mengalami kebingungan, ada yang menyikapinya dengan langsung saja menjadi sesuatu walaupun berisiko tidak pas, tapi ada juga yang memilih sedikit berdiri di luar gerombolan dan tetap menjadi sesuatu tapi sesuatu yang lebih netral (misalnya pejalan kaki). Alasannya adalah karena tidak ingin membuat suasana di tengah gerombolan untuk menjadi lebih keruh dan membingungkan, dan ini langsung saya kembalikan kepada peserta dengan mendorong mereka untuk melihat aplikasi pendapat itu ke dunia nyata. Intinya adalah kita masing-masing punya cara yang unik dalam menyikapi suatu keadaan yang tidak jelas, dan ini semua bisa berujung pada keragaman berpikir dan bertindak dalam komunitas.

Satu peserta berefleksi mengenai pentingnya mengawasi terlebih dahulu, tapi bahwa pada akhirnya tetap harus membuat keputusan walaupun masih belum yakin mengenai keputusannya. Salah satu peserta juga memutuskan untuk menjadi tong sampah karena menurutnya tong sampah juga suatu benda yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan. Kesaksiannya itu kemudian ditanggapi oleh peserta lain yang merasa kagum akan kemampuan dan keberanian untuk menjadi sebuah objek yang mungkin sering dianggap jelek tapi sangat dibutuhkan.

Setelah selesai dengan adegan warung di belakang sekolah, peserta saya bawa kembali ke posisi melingkar untuk diskusi lagi. Kali ini, juga karena pertimbangan waktu, saya hanya bisa meminta mereka satu per satu memberikan satu hal yang paling berkesan bagi mereka. Hal-hal yang mereka ungkapkan adalah hal-hal yang sudah saya jelaskan di atas tapi lebih mendalam lagi. Hal-hal tersebut kemudian sesudah break sebentar, kami lanjutkan dalam bentuk refleksi tertulis mengenai nilai keutamaan apa yang paling berarti bagi mereka, keutamaan yang sudah mampu mereka imani dengan baik dan keutamaan yang belum mampu mereka lakukan.

Pada akhirnya, syukurlah semuanya berjalan dengan sangat lancar dan indah. Saya benar-benar tersentuh juga di beberapa bagian dan kagum dengan kemampuan para guru tersebut yang dalam jangka waktu pemanasan sangat singkat mampu masuk ke dalam peran-peran dan berefleksi dengan mendalam.

Saya sendiri juga berefleksi bahwa ternyata semua yang saya persiapkan belum tentu bisa terlaksanakan sesuai dengan keinginanku, sehingga saya juga menerima ketidaksempurnaanku dalam melakukan tugasku. Pasti ada pesan yang terlewatkan, tapi tidak apa karena tidak ada yang sempurna. Akan tetapi, yang pasti, saya belajar banyak pada hari itu. Saya belajar bahwa saya mampu melakukannya, bahwa saya bisa menjiwai apa yang saya katakan. Saya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh beberapa peserta, dan pesan-pesan yang mereka dapatkan menjadi pembelajaran juga bagiku.

Kami belajar bersama pada hari itu, dan itu sungguh indah. Terima kasih juga kepada Mas Didik yang sudah membimbing dan memberikan banyak masukan untuk semuanya bisa berjalan dengan baik. Berkah Dalem.

Surabaya, Januari 2019
Erlyn

Kebebasan ; Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Assalamualaikum Mas,

Terkadang, kungkungan norma atau pola asuh bikin kita jadi kaku dalam menampilkan diri. Takut dengan tindakan-tindakan yang tidak biasanya. Label, judgment, hmmm…makanan sehari-hari kalo kita tampil out of the box, akhirnya mikir berkali-kali jika mau mengekspresikan diri. Hasilnya….yaa…bisa ketebak, klo kita akan jadi biasa’biasa aja dan harus puas jadi yang biasa itu, kerena sesuai norma.

Tapi ternyata… saat diri kita mengijinkan diri sendiri untuk tampil apa adanya, bebas semau kita bahkan bebas menembus batas yang ada, kita bisa melampui dari apa yg kita perlihatkan selama ini.

Aku bisa jadi pohon yang berkelok-kelok, tanpa harus jadi pohon yg menjulang tinggi dengan angkuhnya.
Aku bisa jadi akar, yang tidak hanya berada di bawah, tetapi juga jadi akar yang sangat kokoh karena terisi padat di dukung akar lainnya terus ke atas menopang dahan, dan aku bisa jadi apa yang aku mau…☺

Kemarin…., ketemu orang-orang hebat yang bisa jadi apa yang mereka mau tanpa ada batas. Semuanya praktek tanpa tembok harus belajar teori dengan mencatat. Perlahan tapi terasa, tembok-tembok itu mulai runtuh. Aku akan jadi apapun yang aku mau. Bebaaaasss..melampaui diri sendiri ☺☺

Panjang yaa…tapi dalem loh, karena dari hati paling dalam.

Jakarta, 18 Desember 2018

SNP

“JUMAT BAHAGIA” bersama PSIKODRAMA di Samarinda


Jumat pagi, tiba tiba HP berbunyi ada pesan dari seorang kawan di PASKAS Samarinda, Dia bercerita bahwa hari ini mereka akan mengadakan acara “JUMAT BAHAGIA” untuk 35 orang anak dari suatu pondok binaan mereka. Temanya “Jumat Bahagia” karna acara ini memang diadakan untuk membuat anak anak asuh mereka agar merasa gembira dan dia menanyakan apakah saya bisa membersamai dan mengisi acara tersebut dan membantu membuat anak anak merasa bergembira. Dan tentu saja dengan senang hati saya menyetujuinya. Lanjutkan membaca ““JUMAT BAHAGIA” bersama PSIKODRAMA di Samarinda”