Satu Kata yaitu Menyenangkan, Kesan Saat Praktek Psikodrama di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar


Pada hari Selasa tersebut, saya dan kawan-kawan melaksanakan kegiatan bermain Psikodrama bersama 15 andik yang telah kami pilih sesuai dengan kriteria yang telah kami tentukan dari 160-an andik yang ada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar.

Kegiatan kami laksanakan dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.30 WIB. Rancangan kegiatan dari warming up terlebih dahulu dengan di mulai dari pengenalan diri dengan berpose, setelah itu dilanjutkan dengan sosiometri, lokogram, dan sculpture. Setelah warming up, dilanjutkan dengan action.

Action berupa “memaafkan” dan teknik membayangkan masa lalu/masa depan. Dalam pelaksanaannya, karena waktunya tidak cukup jadi yang teknik “membayangkan” tidak jadi dilakukan. Setelah semua kegiatan dilakukan, kami menutupnya dengan reflection dari keseluruhan kegiatan.

Kesan saya mengenai kegiatan yang kami lakukan ini jika misal diungkapkan dalam satu kata yaitu menyenangkan. Tidak ada lagi yang bisa saya ungkapkan selain itu. Walaupun memang kegiatannya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan, tapi saya benar-benar menikmati kegiatan ini.

Surakarta, 6 Agustus 2019

Hajjy

Mengapa Moreno Memilih Istilah Protagonis dalam Psikodramanya ?


Ini othak athik gathuk saja, sekalian menjaga tradisi sebagian cara berpikir orang Jawa. Salah satu alur logika dalam membangun makna yang belum tentu ada fakta empiris maupun teori yang mendukungnya. Karena tulisan ini bukan jurnal ilmiah, maka feel free aja, aku membagikannya. 🙂 Secara lesan dalam workshop sering juga saya sampaikan, untuk menekankan pentingnya Pribadi manusia, seperti yang diharapkan Moreno. Lanjutkan membaca “Mengapa Moreno Memilih Istilah Protagonis dalam Psikodramanya ?”

Psikodrama Rasa Jawa : Ilmu Tinemu Kanthi Laku


Psikodrama adalah Action Method, sering digunakan sebagai psikoterapi, di mana klien menggunakan dramatisasi spontan, bermain peran, dan presentasi diri yang dramatis untuk mengungkapkan dan mendapatkan wawasan tentang kehidupan mereka. Lanjutkan membaca “Psikodrama Rasa Jawa : Ilmu Tinemu Kanthi Laku”

Mengembangkan Kesadaran Diri #Tulisan 12 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Mempromosikan Individuasi

 Salah satu aplikasi terpenting dari konsep tele adalah bahwa tele mendorong orang untuk lebih memperhatikan preferensi mereka sendiri. Ini pada gilirannya meningkatkan kesadaran diri dan membantu orang dalam individuasi mereka. Karen Horney (1950: 17) menulis tentang perlunya mengembangkan “diri sejati” seseorang seperti yang disebutkan sebelumnya. Salah satu cara paling efektif untuk mencapai hal ini adalah membantu orang memperhatikan preferensi mereka, terutama dalam hal bidang minat, gaya temperamental, dan citra. Banyak orang dalam terapi memiliki sedikit kesadaran akan dimensi pengembangan diri ini. Lanjutkan membaca “Mengembangkan Kesadaran Diri #Tulisan 12 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Tele dan Kohesi Kelompok #Tulisan 10 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Tele dan Kohesi Kelompok

Ada tele yang sudah beroperasi di antara anggota grup dari pertemuan pertama “(Moreno 1956b: 95). Kutipan ini adalah contoh dari Moreno menggunakan istilah dalam arti yang lebih inklusif – tele mungkin tidak selalu sangat positif. Kelompok yang anggotanya memiliki sedikit koneksi telik yang saling menyenangkan cenderung tidak stabil. Kohesi kelompok tumbuh sebanding dengan pertumbuhan tele di antara pemimpin dan peserta. Moreno (1959b: 1380), menggunakan istilah yang sekarang dalam pengertian yang lebih positif, tulis bahwa “tele adalah semen yang menyatukan kelompok-kelompok.” Lanjutkan membaca “Tele dan Kohesi Kelompok #Tulisan 10 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Wajah Psikososial dari Tele #Tulisan 05 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Wajah Psiko-Sosial dari Tele

Tele adalah ekspresi dari bagian pikiran yang lebih berkaitan dengan keinginan, hasrat, dan niat daripada dengan pemikiran rasional. (Istilah teknis untuk kategori ini adalah “konasi,” berbeda dengan “kognisi,” yang melibatkan berpikir, mengingat, memahami, dan mengoordinasi.). Tetapi kedewasaan melibatkan membawa kognisi ke proses perasaan ini, sehingga gagasan dan keyakinan menjadi melekat pada apa yang semula hanya kesan dan intuisi. Lanjutkan membaca “Wajah Psikososial dari Tele #Tulisan 05 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Refleksi Mengenai Terminologinya #Tulisan 03 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Refleksi tentang Terminologinya

Memperkenalkan istilah baru mempersulit orang untuk menghargai konsep: Ini adalah masalah jargon. Apakah kita benar-benar perlu menggunakan kata “tele” atau bisakah kita menyinggung dinamika ini menggunakan istilah lain? Lanjutkan membaca “Refleksi Mengenai Terminologinya #Tulisan 03 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”