Asal Usul Ilmu Psikologi Perlu Klarifikasi Definisi


Perlu klarifikasi dalam pendefinisian dan asal usul (ilmu) psikologi (nosologi). Sejak Hippocrates menemukan adanya gejala-gejala gangguan medis yang tidak ditimbulkan oleh penyebab fisik, maka muncullah temuan terminologi ‘penyebab non-medis dan atau non-fisik’. Dari sinilah kemudian muncul terminologi “psikis (psyche)” untuk menyebutnya sebagai gejala penyebab non-medis yang menimbulkan keluhan medis tersebut.
Singkatnya, Ilmu yang menaunginya, kemudian disebut “psikologi”. Lanjutkan membaca “Asal Usul Ilmu Psikologi Perlu Klarifikasi Definisi”

Psikologi Transpersonal adalah Jembatan Ilmu Psikologi dengan Spiritualitas


Pengalaman puncak didefinisikan sebagai pengalaman yang paling baik, paling penting dan paling bermakna dalam hidup seseorang, dan dalam banyak hal mirip dengan pengalaman mistikal dan spiritual 

Sebuah definisi yang dikemukakan oleh Shapiro yang merupakan gabungan dari berbagai pendapat tentang psikologi transpersonal: psikologi transpersonal mengkaji tentang potensi tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi. Lanjutkan membaca “Psikologi Transpersonal adalah Jembatan Ilmu Psikologi dengan Spiritualitas”

6 Konsep Dasar Psikologi Transpersonal


Psikologi transpersonal adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual dan transendensi pengalaman manusia menggunakan kerangka psikologi modern. Beberapa ahli menganggap psikologi transpersonal juga didefinisikan sebagai “psikologi spiritual” walaupun beberapa ahli psikologi di Indonesia membedakan kedua hal tersebut. 

Transpersonal didefinisikan sebagai “pengalaman dimana kesadaran diri atau identitas diri melampaui (trans) individu atau pribadi untuk mencapai aspek-aspek yang lebih luas dari umat manusia, kehidupan, jiwa, atau kosmik”. Transpersonal juga telah didefinisikan sebagai “perkembangan yang melampaui batas-batas individual”. Lanjutkan membaca “6 Konsep Dasar Psikologi Transpersonal”

Namanya juga Anak-anak, Demonstrasi di Jalanan, UU Cipta Kerja


Demonstrasi mengenai UU Cipta Kerja, berlangsung dengan kericuhan dan pengrusakan fasilitas umum. Sebenarnya kondisi tersebut dapat dengan mudah diprediksi bahwa hal itu akan terjadi, dengan melihat beberapa hal yang memiliki potensi akan terjadinya kericuhan tersebut.

Ada dua teori Psikologi yang dapat menjelaskan dinamikanya.

Teori pertama mengambil dari Teori Psikologi Perkembangan, khususnya Masa Remaja, yang menyatakan, selain pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perkembangan kognitif dan emosi. Seorang yang masuk dalam masa remaja akan mulai berpikir logis dan abstrak, bertindak agresif seperti cenderung akan melawan segala aturan yang diberikan pada dirinya. (5 Masalah Perilaku Remaja dan Cara Mengatasinya ) Lanjutkan membaca “Namanya juga Anak-anak, Demonstrasi di Jalanan, UU Cipta Kerja”

5 Hal Pokok dari Psikodrama – Rebecca Walters


Posting ini adalah kutipan dari buku Show and Tell Psychodrama: Skills for Therapists, Coaches, Teachers, Leaders, ditulis oleh Karen Carnabucci.. penulis telah memberikan izin untuk HVPI untuk menggunakan materi di sini.

Masyarakat tidak selalu memungkinkan kita untuk bisa mengatakan apa yang ada di hati kita, tapi Psikodrama bisa.” – Tian Dayton

Psikodrama adalah sebuah Tindakan yang mendorong orang untuk melakukan peristiwa kehidupan mereka bukan hanya membicarakannya. Lanjutkan membaca “5 Hal Pokok dari Psikodrama – Rebecca Walters”

Perbedaan Pekerja Keras dan Workaholic #Goresanku 130


Cemas jika tidak bekerja

Anda menjadi workaholic ketika Anda akan melakukan apa saja demi pekerjaan. Anda akan merasa panik, cemas, atau bahkan merasa kehilangan ketika Anda tidak bekerja. Perilaku itu akan muncul terus-menerus, walaupun Anda sadar itu berbahaya bagi kesehatan maupun kualitas kerja.

Workaholic bagai kecanduan

Banyak opini yang berbeda mengenai hal ini, namun banyak yang menyamakan workaholic dengan perilaku tak sehat lainnya, seperti kecanduan narkoba dan alkohol. Workaholic ini juga disebut memiliki dampak buruk bagi mental dan fisik. Salah satu masalah mental para workaholic adalah mereka mengharapkan pujian dan penghargaan karena telah bekerja keras.

Pekerja yang perfeksionis

Para workaholic biasanya perfeksionis dan memiliki kebutuhan untuk mengontrol. Selain itu, bekerja terlalu keras juga bisa merupakan cara untuk ‘kabur’ dari sebuah hubungan buruk atau untuk mengisi kekosongan hidup.

Pekerja keras bukan workaholic

Pada dasarnya perbedaan keduanya terletak pada pikirannya. Pekerja keras mampu bekerja efisien dan efektif, serta masih mampu memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Sementara workaholic pada kenyataannya tak mampu melakukan manajemen waktu yang baik. Jika mereka bisa melakukannya, tentu mereka tak harus bekerja sampai melampaui jam kerja tiap harinya.

 

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty