Penerapan Psikodrama untuk Rehabilitasi ODGJ, Konsultasi lewat WhatsApp


Shalom. Selamat sore Mas Adi. Saya Rani, psikolog Samarinda, pernah ikut pelatihan psikodrama Mas Adi di kampus Untag. Mau berkonsultasi, Mas tentang psikodrama

Ya,..gimana?

Mas Adi, permisi konsultasi via WA ya mas.
Saya sekarang kerja di RSJ, mas. Saya ada rencana mau adakan kegiatan Dinamika Kelompok di pasien rawat inap, salah satu sesinya dengan psikodrama. Apakah mas Adi ada saran atau pernah berkegiatan dengan pasien ODGJ mas? Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Rehabilitasi ODGJ, Konsultasi lewat WhatsApp”

Terapi Kelompok Psikodrama Online, Pertukaran Peran Perfeksionis vs Minder


Pada tanggal 27 Maret 2021, Aku memfasilitasi terapi Psikodrama Online via Zoom Meeting, dengan teknik pertukaran peran ( Role Reversal ) mengolah permasalahan Perfeksionis dengan Minder atau ketidakpercayaan pada diri sendiri.

Sebelum proses dimulai aku menyarankan kepada peserta untuk mengganti nama aslinya menjadi nama binatang. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga privasi dan memberi keberanian lebih untuk bereksplorasi.

Yuks kita mulai, Lanjutkan membaca “Terapi Kelompok Psikodrama Online, Pertukaran Peran Perfeksionis vs Minder”

Terapi Spiral Model (TSM) adalah Pengembangan Psikodrama untuk Penanganan Trauma yang Aman


Terapi Spiral Model (TSM)

TSM, yang dikembangkan oleh pelatih Psikodrama Amerika Katherine Hudgins, adalah metode terpadu dari psikoterapi mengolah pengalaman yang menggabungkan Psikodrama klasik dengan kemajuan dalam psikologi klinis dan pengolahan trauma untuk menyediakan benteng yang diperlukan untuk mencegah retraumatisasi (Hudgins et al., 2000).

Karena banyak penderita trauma sering mengalami kebingungan internal dan tekanan interpersonal yang secara metaforis mirip dengan tornado, TSM memilih spiral sebagai model terapeutik untuk memberikan dimensi alternatif terhadap energi tornado yang tak terkendali. Klien belajar untuk bergerak naik turun spiral dari kebutuhan mereka sendiri bukannya terkoyak oleh kekacauan tornado (Deng et al., 2009: 84).

Gambar spiral terapeutik di TSM dibagi menjadi tiga kategori: energi, pengalaman, dan makna (Hudgins, 2003). TSM terdiri dari enam mode aman:

(1) menempatkan dan mewujudkan ego yang diamati (OE);

(2) lingkaran keamanan;

(3) spektrogram;

(4) sosiogram tindakan;

(5) sosiometri lingkaran; dan

(6) Kreativitas Sutradara.

Enam mode aman membantu korban trauma mengekspresikan diri. Selain itu, body double, containing double, karakter yang direkomendasikan, dan teknik lain di TSM membuatnya aman untuk praktik klinis, meningkatkan efek terapeutik dari tindakan perawatan untuk trauma, dan mencegah klien mengalami retraumatisasi (Sang, 2009).

Berikut adalah ciri-ciri TSM:

(1) Drama dimulai dengan mencari kekuatan klien itu sendiri. Jika klien tidak cukup kuat, sutradara berusaha membuat mereka lebih kuat. Beberapa kekuatan berasal dari peran yang disarankan, seperti body double, atau dari interaksi antarpribadi yang dilakukan oleh peran pembantu yang dipilih.

(2) Penyembuhan luka penunjang dilakukan dengan containing double. Containing double memberi klien perasaan aman, stabilitas, dan toleransi yang kuat, dan membantu mereka membangun kerangka kerja untuk memahami konotasi ketika mereka mengalami emosi yang kuat.

(3) Ekspresi emosi dikendalikan secara spiral. Dengan bantuan body double dan containing double, sutradara mengubah mood protagonis secara spiral dan perlahan. TSM membuat klien sadar akan emosi mereka, dan mempertahankan kontrol yang efektif dan wajar atas respons emosional mereka dalam proses katarsis (Deng et al., 2009: 95-97). Tidak seperti Psikodrama klasik, langkah-langkah dan dampak psikologis dari TSM disesuaikan, dan aplikasi praktis yang lebih baru dari teknik Psikodrama yang dikembangkan, yang menghasilkan kontrol yang wajar dan sadar dari proses degradasi psikologis dan perilaku klien (Liu, 2007).

Pada Mei 2004, Hudgins mengunjungi Universitas Nanjing untuk pertama kalinya untuk memberikan pelatihan profesional tentang TSM. Setelah gempa bumi Sichuan 2008, banyak psikolog di China bergegas ke daerah yang terkena bencana dan menggunakan berbagai bentuk psikoterapi kelompok untuk menangani gejala pasca-trauma para korban. Pada titik ini, penggunaan TSM secara luas dan metodenya yang unik untuk mendekati trauma dengan aman mulai menarik perhatian para psikolog Tiongkok.

Dari 2008 hingga 2010, Hudgins mengunjungi Chongqing dan beberapa distrik di Sichuan bersama sekelompok psikodramatis China untuk mengajarkan keterampilan Psikodrama kepada guru kesehatan mental lokal di sekolah dasar dan menengah dan melatih mereka untuk menggunakan teknik Psikodrama secara fleksibel dengan siswa untuk mengobati trauma yang disebabkan oleh bencana.

Sebagai cara penyembuhan yang unik dan aman, TSM telah banyak digunakan dalam praktik klinis perawatan trauma di Cina. Ini telah umum digunakan di area dengan kelompok yang mengalami dampak negatif bencana, di antara pasukan keamanan publik dan pasukan pemadam kebakaran, di acara stres kampus, dan dalam intervensi dukungan staf perusahaan.

 

Terjemahan dari 

The Spread and Development of Psychodrama in Mainland China

Zhi-qin Sang, Hao-ming Huang, Anastasiia Benko and Yin Wu

Berlatih Berani Jujur dalam Proses Psikodrama dengan Teknik Sosiometri Lokogram


Pada tahap warming up ada satu teknik yang sering aku gunakan dalam mengajak peserta untuk lebih berani jujur pada diri sendiri, yaitu Sosiometri, Lokogram. Peserta aku minta melakukan pemilihan hal yang penting dalam hidup. Apakah mereka memilih untuk hidup secara benar, atau baik atau jujur.

Aku menentukan 3 titik di lantai dalam jarak tertentu, yang aku beri tanda dengan selendang warna. Titik 1 aku beri selendang warna putih untuk yang memilih bahwa yang penting dalam hidup adalah baik. Titik 2 warna kuning untuk benar dan Titik 3 warna merah untuk jujur. Lanjutkan membaca “Berlatih Berani Jujur dalam Proses Psikodrama dengan Teknik Sosiometri Lokogram”

Visi Penting Moreno ( Bapak Psikodrama ) untuk Psikologi Kita


Saya percaya bahwa Psikodrama harus diintegrasikan dengan wawasan yang terbaik dari banyak pendekatan Psikologi dan Psikoterapi. Saya tidak berpikir ada pendekatan tunggal memiliki semua jawaban, dan mengambil dari banyak pendekatan (ekletik) merupakan orientasi umum yang paling sesuai. Namun, pada saat mempelajari berbagai Psiko-terapi, dan Sistem Psikologi, saya menemukan bahwa ide-ide Moreno telah menambahkan beberapa tema baru atau area penekanan, baik yang diabaikan atau yang hanya dicatat secara sepintas di lapangan.

Berikut adalah beberapa tema-tema, yang saya percaya dapat mencerminkan visi Moreno yang penting: Lanjutkan membaca “Visi Penting Moreno ( Bapak Psikodrama ) untuk Psikologi Kita”

Pelatihan Dukungan Psikososial dengan Cara Psikodrama, Sebuah Praktek Role Play untuk Relawan Gunung Merapi


Pada tanggal 29-30 November, di Aula Kantor Desa Sengi, Dukun, Magelang, Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) beberapa desa dan Tim Siaga Bencana serta satu lembaga Sosial peduli Anak, berkumpul untuk belajar Psikososial. Berikut daftar mereka :

FPRB Desa Sengi
FPRB Desa Krinjing,
FPRB Desa Ngargomulyo
FPRB Desa Sumber Lanjutkan membaca “Pelatihan Dukungan Psikososial dengan Cara Psikodrama, Sebuah Praktek Role Play untuk Relawan Gunung Merapi”

Self Harm, Segitiga Drama Karpman dan The Empowerment Dynamic (TED) Alat untuk Psikoterapinya


Ada sebuah pertanyaan dari peserta workshop Psikodrama via Zoom,

“Bagaimana membantu teman yang bila sedang emosi sering melukai dirinya sendiri (self harm)?”.

Waktu itu aku sarankan secepatnya diarahkan untuk mendapatkan bantuan profesional. Pastikan teman tersebut tidak sendiri, dan berikan pemahaman akan perlunya bantuan dari ahlinya. Lanjutkan membaca “Self Harm, Segitiga Drama Karpman dan The Empowerment Dynamic (TED) Alat untuk Psikoterapinya”

Peran ( Kehadiran ) Guru Tidak Dapat Digantikan Oleh Teknologi, Memberi Semangat Psikodramaku


Aku dapat dari dari Group WhatsApp, tentang pentingnya kehadiran.

Seorang dokter, orang tua murid SMP 107 Jakarta menuliskan begini:

O…..BAPAK/IBU GURUKU

🎀Di saat pandemi covid 19 merambah Indonesia ternyata mampu membukakan mata dunia bahwa kehadiran guru di kelas tak bisa tergantikan teknologi. Orang boleh mengagungkan teknologi. Orang boleh berkata bahwa kemajuan pendidikan diukur dari sarana yang berbasis teknologi. Namun, baru 2 s.d 3 minggu ini pembelajaran diterapkan dengan teknologi, ternyata anak anak sudah mulai bosan.

Pembelajaran dianggap melelahkan, menjenuhkan, dll. Artinya, kehadiran guru memang tak bisa digantikan dg teknologi saja. Meskipun pembelajaran daring ini sdh menggunakan zoom shg dapat bertatap muka daring, kehadiran guru sebagai roh pembelajaran di kelas tetap dirindukan siswa.

Guru guru yang hebat seperti sahabat sahabatku, dengan kelihaiannya mengolah kata, dengan kelembutan tuturnya, dan dengan kemenarikan sikapnya mendapatkan tempat tersendiri di hati anak anak. Bayangkan sudah berapa tahun teman teman mengajar, tetapi sosoknya tetap dirindukan kehadirannya oleh anak anak. Baru diselingi sebentar saja dengan moda daring, mereka sdh tidak sabar lagi menunggu kehadiran guru kembali di dalam kelas. Itulah bahagianya seorang guru, kehadirannya selalu dinanti. Hidup guru.

Terharuuuu… Makasih Mama Nabilaaa
#disdikdkijakarta

Aku tidak ingin membahas sebab dan dinamikanya. Aku ingin menyatakan bahwa situasinya mirip dengan psikodramaku sekarang. Psikodrama merupakan Action Method, kekuatannya dengan melakukan tindakan, dan berinteraksi langsung secara spontan dan improvisasional . Psikodrama butuh kehadiran, psikodrama adalah terapi kelompok yang proses terapinya dari interaksi langsung dalam kelompok. Selama Pandemi Covid 19 ini, semua workshop psikodrama ditunda, untuk batas waktu yang belum dapat ditentukan.

Meskipun prinsip prinsipnya tetap dapat diajarkan lewat teknologi secara online, namun hal ini bukanlah proses terapi kelompok. Proses belajar mengajar (psikodrama) tetap dapat dilaksanakan online, namun proses terapeutiknya tidak (untuk halusnya tidak mudah).

Dengan tulisan di atas aku melihat bahwa pertemuan, kehadiran, interaksi spontan memiliki “rasa” yang beda, dan ini sesuatu yang penting dalam proses terapi kelompok. Maka aku yakin setelah Pandemi Covid 19 ini berlalu, tetap banyak orang yang membutuhkan Psikodrama.

Amin.

Yogyakarta, 21 April 2020

Retmono Adi

Proposal Psikodrama untuk Mahasiswa Psikologi, Psikolog, dan Praktisi Terapi Kelompok


I. Pengantar

Psikodrama adalah Metode Tindakan (Action Method), sering digunakan sebagai psikoterapi, di mana klien menggunakan dramatisasi spontan, bermain peran, dan presentasi diri yang dramatis untuk mengungkapkan dan mendapatkan wawasan tentang kehidupan mereka.

Psikodrama dikembangkan oleh Jacob L. Moreno, seorang psikiater, psikososiologis sekaligus pendidik Amerika kelahiran Rumania. Ketika tinggal di Wina pada awal 1900-an, Moreno memulai sebuah teater improvisasi, Stegreif theater, the Theatre of Spontaneity, di mana ia merumuskan bentuk psikoterapi yang disebut psikodrama, yang menggunakan dramatisasi improvisasi, permainan peran, dan terapi lainnya, menggunakan ekspresi dramatis yang memanfaatkan dan melepaskan spontanitas dan kreativitas kelompok dan anggota individualnya. Lanjutkan membaca “Proposal Psikodrama untuk Mahasiswa Psikologi, Psikolog, dan Praktisi Terapi Kelompok”

Psikodrama Dapat Sangat Berbeda Pada Setiap Kali Praktek, Sebuah Testimoni dari Bandung


Sebuah tanggapan dari teman Psikodrama di Bandung, Iip Fariha, dari tulisan hari ini tentang Sosiometri untuk Membangun Sinergi. Awalnya aku share tulisan ini ke WA nya, dan kami berdialog sebagai berikut:

I : Kamu baik sekali menjelaskan proses dan definisinya. Bagi pemula menjadi lebih terbayang apa yang harus dilakukan.

A: Syukurlah…dapat jelas dimengerti🙏🙏🙏
Lanjutkan membaca “Psikodrama Dapat Sangat Berbeda Pada Setiap Kali Praktek, Sebuah Testimoni dari Bandung”