How Wonderful Life Is While You’re In The World, Sebuah Cerita Menjadi Dewasa


Aku kembali ke tempat itu lagi. Kali ini tidak berniat untuk minum sampai mabuk berat. Inginku hanya meneguk sedikit demi mengenang pertemuan janggal kita beberapa tahun silam.

Pertemuan itu diawali ketika kita duduk di kursi bar berhadapan dengan meja panjang di mana kita bisa menyaksikan para bartender sedang sibuk mengurusi botol-botol minuman beralkohol. Kala itu kita duduk hampir bersebelahan, hanya ada satu kursi kosong yang menghalangi kita. Saat aku masih sadar, sekilas kuperhatikan wajahmu yang tertekuk lesu memandangi gelasmu. Kau hanya memesan air mineral.

Lanjutkan membaca “How Wonderful Life Is While You’re In The World, Sebuah Cerita Menjadi Dewasa”

Coretan Lama 53; Rindukan Aku, Sesempatmu Saja


 Kujumpai satu kalimat kutipan pada dinding di sebuah kafe.

Bunyinya begini,

“Rindukan aku, sesempatmu saja.”

Lalu dalam hati kutambahkan,

“Dan jangan dipaksakan bila rindu itu memang tidak pernah ada. Barangkali itu adalah pertanda bahwa memang sejatinya kita tidak ditakdirkan untuk bahagia bersama.”

 

Kartasura, 14 April 2019

Qanifara

Coretan Lama 45; Apa yang Kamu Inginkan Belum Tentu yang Kamu Butuhkan


Diam-diam kala itu langit sedang mendengar pengakuan seseorang.

Sebut saja dia.

Dulu dia mempunyai banyak keinginan.

Sayang, sebagian besar keinginannya selalu menuai kegagalan.

Hatinya kerap resah, gelisah, dan marah tak terarah.

Lalu dia mengeluh kepada Tuhan.

Namun Tuhan justru semakin banyak memberinya kesedihan.

Dia lewati semua kesedihan itu dengan bersusah payah.

Hingga pada akhirnya sebuah tragedi menampar keras kesadarannya.

Seakan ada malaikat berbisik di telinganya, “ketika semua keinginanmu terpenuhi, belum tentu setelah itu kamu akan menjadi lebih baik, sebab apa yang kamu inginkan belum tentu yang kamu butuhkan.”

Lalu dia menangis sejadi-jadinya.

Namun tiap kali dia mengingat pernyataan itu, senyumnya mengembang dan hatinya menjadi lebih mudah untuk menerima dan bergembira.

 

Kartasura, 13 Juni 2016

Qanifara

Coretan Lama 38; Aku Dapat Menjemput Kebahagiaan Itu Lagi


Tidurlah diriku

Tidak ada yang merindukanku kalau aku terbangun

Tidak ada yang akan merawatku kalau aku jatuh sakit

Tidak ada yang akan menyiapkan makanan kalau aku lapar

Tidak ada yang peduli apakah aku sedang merasa bahagia, sepi, bersedih hati, atau bahkan depresi

Tapi ingatlah selalu bahwa Tuhan masih bersedia mencukupi kebutuhanku walaupun setiap harinya banyak dosa-dosa yang harus kucuci

Supaya aku dapat menjemput kebahagiaan itu lagi, meskipun tidak di hari ini

 

Kartasura, 22 Februari 2021

Qanifara

Sebenarnya Aku ini Siapa?


Sebenarnya aku ini siapa?

Tiga puluh tahun lebih usia, masih juga aku susah mengenalinya.

Kebanggaan orang tua? 

Ah, orang tuaku sudah tak ada. Jadi kurasa bukan lagi itu.

Kebanggaan guru-guru? 
Ah, itu sungguh dari cerita lampau.

Kebanggan saudara-saudara? Bisa saja.
Tapi apa aku bahagia karena orang bangga padaku? 
Ah, enggak, aku biasa saja.
Jujur saja, aku lebih suka kaya raya.

Sebenarnya aku ini siapa?
Belasan tahun menjauh dari akar lahirku,
Tapi tak juga aku mengenal dirku.

Kadang sering takjub dengan cara semesta bekerja
Aku tak tahu apa-apa, tapi masih bisa hidup juga.
Ah, Tuhan memang serba tak terduga.

Tak kenal diri membuatku seperti sampan di tengah badai
Terombang ambing ke sana kemari
Tak ada jangkar, atau dayung untuk kupegang kendali
Aku, tak tahu harus apa lagi
Haruskah aku diam menunggu mati?

Sementara badai, terus mengamuk tak peduli
Dan aku memohon badai agar mau berhenti.

Cih. Memangnya aku siapa?
Mengharap badai reda demi sebutir manusia
Lagi-lagi, aku tak tahu harus menjawab pertanyaanku sendiri:

Sebenarnya, aku ini siapa?

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Depok 9 Maret 2021Depok 9 Maret 2021

Serat Sembadra

Cerita Pendek, Drama Perjuangan Hidup Prita #14 Epilog, Untuk Rio


Untuk Rio

Kita memang bukan pasangan sempurna

Kata orang, pernikahan terasa indah dan bahagia

Hanya di tiga atau lima tahun pertama

Delapan tahun berlalu, rasa itu nyatanya masih terus ada dan kian menyala

Hidup kita menjadi lebih berwarna dan bermakna ketika bersama

Walaupun belum ada anak di rumah kita Lanjutkan membaca “Cerita Pendek, Drama Perjuangan Hidup Prita #14 Epilog, Untuk Rio”

Coretan Lama 18; Perpisahan, Kita Semua Berhak Bahagia


Perpisahan

Kadang ada saat di mana kau harus pergi

menjauh dari mereka

yang sejatinya tidak ditakdirkan

untuk bisa memahami arti keberadaanmu.

Atas dasar rasa sakit

yang tak tertahankan lagi.

Untuk apa bersama tapi saling menyakiti?

Untuk apa bersama tapi tidak bisa saling berbagi,

memahami, mengisi, dan melengkapi?

Pergi bukan hanya demi kebaikan diri sendiri

tapi juga demi kebaikan bersama.

Sebab sebagai manusia,

kita semua berhak bahagia.

 

Kartasura, 29 Oktober 2018

Qanifara

Coretan Lama 16; Mengeluh Kala Kesulitan adalah Hal yang Wajar


Kesulitan

Mengeluh

bila sedang dilanda kesulitan

adalah hal yang wajar.

Kesusahan memang diperlukan dalam hidup

supaya kita dapat lebih menghargai

setiap nikmat luar biasa dari Tuhan

yang sering kali diwujudkan

lewat hal-hal sederhana

yang selalu syarat akan makna.   

 

Kartasura, 3 Juli 2016

Qanifara

Coretan Lama 15; Diam-diam Mencari Arti Semua yang Terjadi


Diam diam

Mencari arti tentang semua yang telah terjadi.

Menyaring isi hati dan pikiran

di salah satu sudut dekat jendela rumah makan.

Diam-diam melepas yang semu,

menanamkan yang nyata.    

 

Kartasura, 7 September 2017 

Qanifara