Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online


Pada semesta aku bicara. Pada ruang-ruang sepi, terperangkap dalam ketidakberdayaan diri. Sebetulnya banyak yang bisa dinikmati. Bila saja kita semua diberi kesempatan untuk memahami.

“Akhiri dulu saja pertanyaanmu. Kalau kau terus banyak bertanya, nggak akan ada habisnya. Nggak setiap pertanyaan harus terjawab sekarang,” ujar Pak Didik ditelepon saat sesi belajar psikodrama seminggu yang lalu. Lanjutkan membaca “Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Tiga)


Aku termenung cukup lama sambil membawa secangkir teh hijauku yang sudah kosong. Aku ndomblong sambil mengamati kucing kakakku yang gemuk sedang tidur pulas tidak jauh dariku. Aku seperti orang yang sedang syok entah kenapa aku tidak tahu. Jantungku berdebar agak kencang seperti saat aku presentasi di depan dosen. Aku belum terbiasa membicarakan kehidupan pribadiku dengan seseorang yang usianya jauh di atasku yang masih belum begitu kukenal dengan baik. Lanjutkan membaca “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Tiga)”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)


Bukankah makna cinta itu luas dan dalam? Tidakkah kau ingat, wahai diriku. Kau sudah mengatakannya di dalam video yang kau buat sendiri. Kau sampaikan disitu bahwa cinta bisa berasal dari siapa saja. Bukankah juga kau sampaikan bahwa cinta adalah tentang belajar mengikhlaskan? Lanjutkan membaca “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Satu)


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Awalnya, rasanya agak canggung.

Aku pribadi memiliki mistrust issue ketika berbicara dengan orang yang usianya jauh di atasku. Aku cenderung skeptis karena pengalaman komunikasiku dengan orang tuaku sendiri tidak cukup baik, seringnya berakhir dengan kesalahpahaman.

Saat aku mulai bercerita, sekelebat munculah perasaan-perasaan di masa lalu seperti diabaikan, disepelekan, disalahkan, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak penting, serta takut bila pada akhirnya apa yang kuceritakan justru mengakibatkan kesalahpahaman tak berujung. Sebab sepanjang aku bercerita, Pak Didik lebih banyak diam. Mungkin karena beliau sedang mencoba mendengarkan, agar dapat memahami akar permasalahanku.

Rasanya juga seperti berbicara dengan orang asing. Meski begitu, aku tetap mencoba percaya. Kepercayaan yang muncul didasari oleh beberapa pertimbangan dan perenungan yang mungkin tidak bisa kuceritakan kepada siapa-siapa bahkan kepada Pak Didik.

Meskipun masih ada sisi-sisi lain dari diriku yang tidak kusampaikan.

Selesai aku bercerita, Pak Didik langsung menuju ke inti. “Jadi permasalahanmu apa?”

Aku menjawab dengan berbelit-belit.

Pak Didik bertanya lagi, “Tadi pertanyaanku apa?”

Aku seperti sedang disidang dosen. Aku bingung.

Pak Didik berkata, “Coba sebutkan satu teori psikologi yang sudah kamu pelajari.”

Aku belum makan siang. Aku gugup. Aku sedang tidak bisa mengingat teori-teori apapun karena rasanya aku baru saja menenggelamkan diri dalam palung kerapuhanku sendiri tapi aku diminta untuk kembali lagi ke daratan. Untungnya ada satu yang paling kuingat, teori kebutuhan Abraham Maslow. Permasalahanku berada di kebutuhan kasih sayang. Kebutuhan yang menurutku masih belum terpenuhi secara maksimal.

Kalau aku masih menuntut orang lain untuk memberikan kasih sayang padaku itu tandanya masih menjadi masalah, tapi kalau aku bisa memberikannya kepada orang lain itu tandanya sudah menjadi value dalam diri. Begitu penjelasan Pak Didik.

“Maukah kau menjadi aktor protagonis yang mencoba memberikan kasih sayangmu kepada orang lain? Ataukah menjadi aktor antagonis yang ingin terus menuntut orang lain untuk memenuhi kebutuhanmu?” tanya Pak Didik.

“Aktor protagonis lah. Capek dan tidak akan ada habisnya kalau hanya berharap kepada orang lain,” pikirku. Tapi apakah aku bisa? Lalu bagaimana caranya jika aku saja tidak pernah merasa betul-betul dicintai oleh siapa-siapa. Bagaimana bisa jika kehadiranku saja sering tidak diharapkan orang lain bahkan mungkin oleh orang tuaku sendiri?

Apakah betul aku tidak pernah dicintai? Ataukah selama ini ada cinta-cinta yang telah kuperoleh tapi tidak kusadari? Tapi mengapa aku sering merasa tidak dicintai?

Bersambung…

Kartasura, 09 Oktober 2020

Qanifara

Psikodrama? Apakah ini Bagian dari Takdirku? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 04


Aku baru tahu jika dalam psikodrama, setiap pose memiliki maknanya tersendiri. Pertanyaan seperti: Apakah aku sudah nyaman menjadi diriku sendiri? Apakah aku ingin terlihat baik-baik saja dan terpaku melakukan hal-hal yang dianggap benar agar tidak dianggap salah? Apakah aku ada masalah di masa lalu? Apakah aku ada ketakutan di masa depan? Apakah aku ada kesulitan dalam menjalin relasi hubungan dengan seseorang? Itu semua bisa terbaca dan terjawab hanya dengan berpose menjadi pohon.

Psikodrama membantu individu mencari tahu tentang need/value yang ada dalam diri tiap individu. Saat webinar psikodrama pertama, aku masih belum dapat memahami need-ku. Berdasarkan pengalaman yang kuceritakan, kata Pak Didik, need-ku berkaitan dengan rasa percaya. Memang betul, aku memiliki mistrust issue kepada orang-orang yang usianya jauh di atasku. Tapi setelah sesi ini selesai aku kembali berpikir ulang. Apakah hanya itu? Kok aku ragu.

Psikodrama mengajak individu untuk bercerita secara spontan tentang peristiwa yang pernah dialami, biasanya dalam setting kelompok. Nah, di sinilah letak kesulitanku. Kebetulan aku tipe orang yang cukup grogi dan bingung kalau harus berbicara secara spontan di depan orang banyak yang belum kukenal, meskipun itu dalam webinar. Terlalu banyak mata, membuatku kurang nyaman.

Selesai webinar pertama, aku baru bisa menyadari bahwa sepertinya ada beberapa need-ku yang belum terpenuhi. Bukan hanya tentang rasa percaya. Ada need lain, tapi aku belum dapat memahami pasti apa itu.

Bagian yang paling kusenangi dalam perkenalanku dengan psikodrama di hari itu adalah individu diajak untuk berani jujur kepada diri sendiri dengan tetap menjadi dirinya sendiri. Lalu belajar berperan sebagai aktor kehidupan yang kelak dapat menebar manfaat untuk orang lain. Seperti yang pernah kutulis, bisa menjadi diri sendiri dan menjadi orang yang bermanfaat adalah salah satu kebahagiaan yang kuingini. Satu hal yang semakin sangat kuyakini di sini adalah setiap manusia mungkin tidak tahu kelak akan dipertemukan dan didekatkan dengan siapa saja di hidupnya, tapi setiap manusia pasti akan dipertemukan dan didekatkan dengan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Apapun tujuannya.

Aku masih penasaran dengan psikodrama. Aku kira aku tidak akan menemukan event itu lagi dalam waktu terdekat, tapi nyatanya malah kutemukan info webinar psikodrama berturut-turut sampai keempat kalinya. Justru karena corona, psikodrama bisa dipelajari melalui webinar sambil duduk santai di rumah. Kalau tidak ada corona, belum tentu aku bisa bepergian mengikuti workshop psikodrama dari satu kota ke kota lainnya. Jadi sampai di sini, apakah belajar psikodrama adalah bagian dari takdirku?

Pun kuikuti lagi webinar psikodrama kedua, ketiga, dan keempat. Hal menarik dalam webinar kedua adalah ketika peserta diminta membayangkan seseorang di masa lalu. Kemudian mencoba memaafkannya dengan mengatakannya secara langsung di depan peserta lainnya. Kali ini aku bisa melakukannya karena sambil memejamkan mata. Setidaknya dengan memejamkan mata, aku bisa mengurangi rasa grogiku.

Sebelum tidur aku sering rebahan sambil berimajinasi tentang cerita fiksi yang kukarang sendiri. Seperti misalnya, membayangkan sepasang kekasih yang saling mencintai tapi dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Di situ aku berperan sebagai tokoh perempuan dan laki-laki, berdialog sendirian secara spontan. Kukarang sendiri ucapan-ucapan perpisahan yang menyesakkan dada. Kubayangkan mereka berdua berdiri di pinggir jalan, saling berhadapan sambil menangis, keduanya sama-sama tak mau melepas pelukan terakhir itu. Kemudian sambil membayangkannya, aku benar-benar menangis sendirian di kamar. Keesokan harinya aku merasa sedih sepanjang hari.

Pernah juga aku berimajinasi menjadi seorang perempuan yang mandiri, tangguh, semangat bekerja, dan tidak begitu peduli tentang urusan percintaan. Keesokan harinya aku merasa lebih bersemangat dalam melakukan berbagai kegiatan daripada hari-hari biasanya. Aku juga pernah berimajinasi mempunyai seorang laki-laki yang sayang padaku. Selalu ada bersamaku saat senang dan susah. Aku menjadi salah satu alasannya bersyukur setiap hari, karena sosok yang selama ini dia butuhkan, ada dalam diriku. Kami bukan pasangan sempurna, tapi kami bahagia. Seharian aku merasa seperti dicintai, walaupun setelahnya aku kembali merasa sedih karena itu hanya ada dalam imajinasi dan belum pernah benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu bagaimana imaginary bisa berpengaruh padaku, tapi itu benar-benar terjadi padaku walaupun efeknya tidak permanen. Apakah ini yang dinamai sugesti?

Rasanya lega setelah memaafkan seseorang yang tidak menginginkanku di masa lalu. Lagi pula itu bukan kesalahannya. Aku bersyukur tidak dipilih. Kalaupun dipilih, jika kupikir-pikir lagi, kami belum tentu bahagia bila hidup bersama. Perlahan aku makin sadar bahwa barangkali sejatinya aku tidak bisa membuat orang lain jatuh cinta padaku. Aku hanya bisa mengupayakan yang terbaik. Tentang bagaimana perasaan orang lain kepadaku itu sudah di luar kuasaku. Sudah menjadi kuasa Tuhan. Orang pertama yang perlu kubuat jatuh cinta padaku ya adalah diriku sendiri.

Saat mengikuti webinar psikodrama ketiga, didepan orang banyak, aku menganggap diriku sudah resilient, tapi kemudian aku bertanya lagi dalam hati apakah aku benar-benar sudah resilient? Dalam beberapa hal mungkin iya. Namun jika dihadapkan pada masalah tertentu, aku merasa belum setangguh itu. Ibarat gelas kaca yang pecah tapi hanya dibalut isolasi plastik biasa yang tidak lengket. Kurang kuat balutannya. Senggol sithik langsung ambyar. Ibarat ingin melumurinya dengan lem emas seperti kisah yang diceritakan Pak Didik di akhir sesi, tapi aku belum mampu membelinya dan belum tau bisa membelinya di mana. Ya, mungkin aku perlu mencari sumber kekuatan lain untuk menambalnya atau merekatkannya. Supaya aku lebih tangguh. Meskipun dalam sesi ini aku jadi makin sadar kalau aku tidak pernah rapuh, aku tidak akan bertumbuh.

Setelah melalui perenungan yang cukup panjang, kuputuskan untuk belajar lebih lanjut tentang psikodrama dengan Pak Didik secara langsung. Dari semua webinar yang pernah aku ikuti, sesi inilah yang menurutku paling efektif. Paling mengena untukku. Tidak banyak mata. Hanya aku dan Pak Didik saja lewat suara telepon, aku jadi lebih leluasa dan spontan saat berbicara daripada saat di webinar. Pada akhirnya, sesi ini mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sesi konseling.

Aku lebih banyak curhat di sini. Belajar di webinar membantuku memahami konsep dasar psikodrama, rasanya seperti berada di pinggiran kolam. Mengamati orang yang sedang berenang, lalu aku banyak kecipratan airnya. Sedangkan dalam sesi ini, aku ditenggelamkan cukup dalam. Aku megap-megap. Tapi di sini aku dituntun menemukan value yang ada dalam diriku. Cukup emosional dan mengaduk-aduk perasaan. Padahal itu hanya lewat telepon. Mungkin kalau melakukannya dengan bertemu langsung, aku sudah nggeblak kali ya.

Aku dikasih PR oleh Pak Didik untuk menuliskan pengalamanku pada sesi ini, sebagai bagian dari terapi psikodrama. Sudah lama aku tidak menulis. Baru kali ini seumur-umur, aku menulis sambil menangis.

Awalnya aku tidak yakin kalau aku bisa menuliskan apa yang kualami, tapi ternyata tulisan pertamaku bisa kuselesaikan menjadi sebanyak empat halaman. Sungguh ajaib. Intinya, lewat psikodrama aku menjadi lebih mudah membahasakan apa yang aku rasakan dan pikirkan. Aku jadi teringat lirik dari lagu dari James Morrison…

When my head is strong but my heart is weak
I’m full of arrogance and uncertainty
But I can find the words
You teach my heart to speak

Psychodrama teaches my heart to speak…

Dari situ aku menyadari bahwa psikodrama dapat membantu individu membebaskan pikiran dan perasaannya. Kemudian membantu mengekspresikannya dalam bentuk tindakan. Psikodrama menurutku adalah teknik psikoterapi yang kaya akan rasa karena sangat lekat dengan unsur drama. Di sini, individu diajak berkelana menjelajahi tiap-tiap emosi melalui berbagai pengalaman yang pernah terjadi di masa lalu. Serta diajak belajar merangkai harapan baik di masa depan.

Akhir-akhir ini aku juga merasa lebih gampang tersentuh dari biasanya. Terutama sejak aku belajar psikodrama secara langsung dengan Pak Didik lewat telepon. Aku merasa lebih jernih dalam memandang suatu hal. Aku menjadi lebih mudah melihat kebaikan-kebaikan orang lain dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya.

Biasanya aku cenderung lebih dingin dalam menanggapi dan menyikapi suatu hal. Namun setelah aku menyadari value kasih sayang ada dalam diriku, aku menjadi lebih sensitif terhadap apa yang terjadi padaku dan orang lain. Rasanya aku ingin berbuat baik kepada siapa saja, sebagai wujud kasih sayangku yang bisa kuberikan kepada orang lain tanpa menuntut balasan. Ini sejujurnya adalah bagian tersulit. Sering aku masih menuntut tapi aku tetap mencoba belajar untuk berhenti menuntut. Sambil kemudian berpikir lagi, seperti yang pernah dikatakan Pak Didik, tentang cinta dari sumber segala sumber.

Tapi ada satu hal yang belum kuketahui pasti, apakah efek-efek baik ini akan terus melekat di diriku khususnya ketika aku dihadapkan pada situasi sulit atau ketika aku kembali berada di titik nol lagi? Ini baru sesi konseling pertama. Belum tahu bagaimana yang kedua, ketiga, dan seterusnya…

Sampai pada webinar psikodrama keempat, ada beberapa point penting yang mungkin bisa kugaris bawahi. Setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing dalam mengenali dirinya sendiri, termasuk dalam menemukan value yang ada dalam dirinya. Menurutku, psikodrama sangat cocok bagi orang-orang yang telah siap membuka diri, khususnya tentang kerapuhan yang ada dalam diri mereka. Psikodrama membantu individu belajar membuka pintu-pintu kesadaran. Sekaligus membuka pintu kesempatan bagi individu untuk bertumbuh menjadi aktor utama yang lebih baik dalam panggung drama kehidupannya sendiri. Psikodrama adalah tentang kejujuran, belajar berani jujur kepada diri sendiri di tengah-tengah panggung drama kehidupan yang serba tak pasti.

Barangkali salah satu tujuan akhir dari psikodrama itu sendiri adalah tentang keikhlasan, belajar melakukan kebaikan tanpa menuntut balasan dari orang lain. Kalau bagi orang sepertiku, psikodrama juga tentang melepaskan, belajar melepaskan beban-beban perasaan dan pikiran. Serta juga belajar melepaskan harapan-harapan tentang hal-hal yang sejatinya memang tidak ditakdirkan untuk berkesempatan…

“To live in this world you must be able to do three things: to love what is mortal; to hold it against your bones knowing your life depends on it; and, when the time comes to let it go, to let it go.” Mary Oliver.

Kartasura, 01 Oktober 2020

Qanifara

Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03


Bagaimana cara memperoleh kebahagiaan yang kuingini? Aku belum siap menikah. Aku belum bisa bekerja lagi karena masih perlu menyelesaikan studi. Aku belum siap menghadapi tuntutan, beban, dan tanggung jawab yang besar. Mengurusi diriku saja aku belum becus. Bahkan untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang saja, sepertinya aku belum siap. Belum siap menanggung perihnya tersakiti oleh ekspektasiku sendiri. Lagi dan lagi. Lanjutkan membaca “Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03”

Apakah dengan Menikah ( tidak ) Bisa Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 02


Aku terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang cukup rumit dan bergejolak. Sebagai seorang anak yang sudah cukup hafal dengan segala jenis konflik keluarga dan pernikahan, sejak remaja aku telah terbiasa memandang kehidupan pernikahan sebagai suatu hal yang rumit, berat, dan tentunya tidak mudah. Khususnya sejak ibuku meninggal dunia, kemudian ayahku menikah lagi untuk ketiga kalinya. Lanjutkan membaca “Apakah dengan Menikah ( tidak ) Bisa Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 02”

Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01


“Apakah bahagia itu, apakah ia kebulatan dari segala kecukupan perasaan, ketika memiliki segala-galanya lebih dari orang lain, atau ketika kita tak rela memiliki apa-apa bahkan memberikan kemenangan kepada orang lain, atau di tengah-tengah dalam keseimbangan?” – Uap (hal. 94), Putu Wijaya.

Kutipan itu pertama kali kubaca dalam buku yang kutemukan di perpustakaan, di sela-sela pencarian jati diriku. Hampir sekitar lima tahun yang lalu, tapi aku masih mengingatnya sampai hari ini. Lanjutkan membaca “Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01”

Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Lanjutkan membaca “Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online”

Menulis sebagai Cara Terapi Jangka Pendek


Aku mengikuti Webinar, dan mendapatkan materi The Use of Writing as Therapy in the Short-termoleh Nadine Santos. Aku ingin tulis ulang dan kusimpan di sini, agar dapat kubaca ulang dan dibaca orang lain yang mungkin membutuhkan.

Ada 3 hal yang disampaikan yaitu :

  1. Menulis memiliki sifat Terapeutik
  2. Bukti bagaimana menuliskan cerita berpengaruh terhadap kehidupan kita
  3. Cara Mempraktekkannya.

Kekuatan Tranformasi Menulis

Menulis sebagai cara penyembuhan – bagaimana kita menceritakan kisah kita, mengubah hidup kita (Louise De Salvo,)

Menulis adalah Keberanian (Pramoedya Ananta Toer) * ini tambahanku sendiri. Lanjutkan membaca “Menulis sebagai Cara Terapi Jangka Pendek”