Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara


Mereka berasal dari sekolah yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, serta banyak perbedaan lainnya. Namun disatukan menjadi satu kesatuan siswa penerima beasiswa dari sebuah kelompok pemerhati pendidikan anak yang slogannya ingin mencegah anak putus sekolah di Indonesia. Tentu aja niat luhur ini harus didukung. Saya senang sekali saat diminta untuk menjadi fasilitator perkenalan para siswa ini, di hari pertama mereka dinyatakan diangkat sebagai penerima bea siswa selama satu tahun. Meski dalam waktu relatif singkat untuk mempersiapkan diri, saya juga ingin memberi kontribusi pada kegiatan tersebut. Lanjutkan membaca “Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara”

Psikodrama Memberikan Kebermaknaan bagi Diriku dan Lingkunganku


Awalnya aku tertarik Psikodrama karena aku suka teater. Aku mantap, langkahkan kakiku dari Cirebon menuju pelatihan Psikodrama di Bandung tanggal 24-25 Oktober 2018.

Awal materi..Aku masih pakai topeng untuk melakukan gerak. Aku masih malu untuk menjadi pohon atau apapun itu. Seiring berjalannya waktu, Aku semakin masuk dan mulai bisa menikmati peran yang aku mainkan. Topengku kubuka satu persatu, sehingga aku mulai nyaman. Aku bisa ekspresikan diriku semauku, tidak peduli jelek dilihat orang, yang penting aku nyaman dan terselip rasa bahagia. Aku bisa berbaur dengan teman-teman yang lain yang tadinya tidak aku kenal.

Saat Aku diminta untuk mengucapkan terima kasih pada seseorang. Aku langsung teringat kepada mendiang suamiku. Aku berterima kasih karena sudah diwariskan 5 anak yang baik dan menyenangkan.

Aku katakan pada suamiku, “Terima kasih dengan warisan ini dan aku beserta anak-anak kuat. Kami saling menguatkan untuk meneruskan hidup tanpamu.”

Itu kataku. Rasanya plong, seperti lepas bebanku, dan aku semakin sadar bahwa aku memang kuat untuk diriku dan anak-anakku.

Hari kedua, semakin lepas aku bisa ekspresikan perasaanku lewat gerak. Aku menjadi sebuah kursi yg unik, kuat dan nyaman untuk diduduki. Aku memaknai hidupku bahwa aku harus menjadi diriku dengan keunikanku. Aku harus kuat dan memberikan arti untuk sekelilingku, dan aku makin menyadari untuk lebih peka menangkap segala sesuatu yang bermakna di sekelilingku.

Terima kasih Psikodrama sudah memberikan kebermaknaan akan kehadiranku untuk diriku dan lingkunganku.

Terima kasih buat Mas Didi dan Mba Wiene atas ilmunya…

Cirebon, 1 November 2018
Aku..Mimi Mulyati

NB
Itu pengalaman saya..makasih banyak mas Didi..apalagi waktu mas Didi berperan sebagai suamiku dan mengatakan bahwa aku tenang karena kamu kuat..duh rasanya itu yang akan dikatakan suamiku..makasih banyak ya mas..🙏

Seonggok Terima Kasih dan Selembar Lima Ribuan


13 November 2015

Di jaman serba realistis ini, lebih penting mana, selembar lima ribuan atau sepatah kata terima kasih?

Nah, kita kan sedang bicara tentang realita, maka mari coba kita pikirkan. Dengan selembar uang lima ribu rupiah, apa yang bisa kita dapatkan? Kalau di kota besar seperti di Jakarta, lima ribu rupiah mungkin berarti lima potong gorengan pinggir jalan, atau mungkin sebotol air minum dalam kemasan. Lalu, bagaimana dengan sepatah kata terima kasih? Lanjutkan membaca “Seonggok Terima Kasih dan Selembar Lima Ribuan”