Sukses Berdamai dengan Masa Lalu, Contoh Tujuan Psikodrama


Kalau saat hancur ku disayang 

Apalagi saat ku jadi juara

Saat tak tahu arah kau di sana

Menjadi gagah saat ku tak bisa (Bertaut - Nadin Amizah)

Beberapa hari belakangan ini aku suka memutar lagu itu berulang kali. Kadang aku menangis menghayati lagunya karena aku terjebak pada bagian lirik lagu itu. Kata-kata yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang kualami.

Sudah cukup lama aku kehilangan peran orang tua secara utuh, pun aku sering mendapatkan kata-kata kasar dan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari seseorang selama lebih dari sepuluh tahun. Aku terluka. Cukup dalam. Mungkin sampai saat ini luka itu belum sepenuhnya pulih. Rasa sakit itu masih ada. Aku hanya sedang mencari cara untuk membasuhnya dan merawatnya.

Saat aku melakukan hal baik, aku didiamkan saja. 

Apalagi saat aku hancur, aku tidak akan disayang.

Saat ku tak tahu arah, aku tersesat, dan mencari jalanku sendiri.

Saat ku tak bisa, aku disakiti, tidak ada yang mengambil peran untuk melindungiku.

“Aku tidak cantik, aku tidak pintar, aku tidak disukai, aku tidak dicintai, aku tidak menarik, aku tidak bisa apa-apa, aku tidak diinginkan, aku tidak diharapkan, aku tidak berguna, kehadiranku justru menjadi beban,”

Ada masanya kalimat-kalimat itu sering melekat dalam pikiranku. Ada masanya aku terjebak dan terkungkung dalam pikiran-pikiran yang membuatku tidak bertumbuh. Ada masanya saat aku melakukan sesuatu hal hanya karena ingin dianggap cantik, diinginkan, dan lain-lain. Namun itu sangat menyiksa. Aku malah seperti menyakiti diriku sendiri.

Butuh waktu dan proses yang tidak sebentar bagiku untuk memahami diriku sendiri. Prosesnya naik turun, cukup bergejolak, dan sering terasa menyakitkan.

Hingga pada satu titik, inginku sederhana. Sekitar tiga tahun lalu aku menulisnya sendiri, “pernahkah kau berada di titik balik di mana kau sudah tidak lagi mencari dan menginginkan apa-apa selain suatu tempat di mana kau bisa didekatkan dengan orang-orang yang kau harap dapat membuatmu lebih mudah dalam mencintai dirimu sendiri, terutama mencintai Tuhan, dan juga mencintai kehidupan dengan lebih baik?”

Beruntungnya, aku masih diberi kesempatan untuk menelusuri dan mendalami arti ‘cinta’ itu sendiri. Aku masih diberi kesempatan untuk memperluas sudut pandangku tentang kehidupan yang dulunya kurasa sangat sempit.

Semua itu kuperoleh dari berbagai sumber, ilmu yang kuperoleh dari mana saja, orang-orang yang pernah kujumpai, buku-buku cerita yang pernah kubaca, film-film yang kutonton, inspirasi-inspirasi yang kudapatkan dari internet, hobi yang kutekuni, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, semuanya kukembalikan pada niat. Jadi ketika aku merasa terpuruk akan kegagalanku dalam meraih sesuatu, aku mencoba bertanya kepada diriku sendiri. Apa sebenarnya tujuan atau niatku melakukan hal itu? Apakah tujuan atau niatku itu mengarah pada kebaikan atau malah bersifat merugikan? Kalau sekiranya malah merugikan, berarti tujuanku perlu kuubah dengan disertai harapan yang tidak berlebih.

Pada akhirnya aku tidak perlu membuktikan kepada orang lain. Aku hanya perlu membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak seburuk yang kupikirkan, bahwa aku mampu melalui hal-hal yang sulit. Seperti yang sudah-sudah, kehidupan tidak hanya mengajarkan tentang penerimaan hasil tapi juga tentang bagaimana manusia belajar menghargai setiap proses yang ada di setiap fase, baik dalam suka maupun dukanya.

Beruntungnya lagi, di tahun yang penuh dengan ketidakpastian dan keputusasaan ini, aku masih diberi kesempatan untuk belajar psikodrama. Kabar baiknya, belajar psikodrama dengan Pak Didik memberi warna baru di kehidupanku, serta memberi ruang yang lebih luas dan dalam bagiku untuk lebih berani mengekspresikan diri, dengan cara yang lebih baik.

Semakin ke sini, aku semakin lebih percaya diri untuk berbagi kebaikan kepada siapa saja dengan berlandaskan value cinta yang kutemukan melalui psikodrama. Aku menjadi tergerak untuk melihat kebaikan dari setiap ketidaksempurnaan yang ada pada diri sendiri dan orang lain.

Caraku memandang kehidupan, kini berbeda. Kumaknai dari sudut pandang yang baru. Yang kutahu, kelak akan tiba saatnya bagi manusia untuk berkelana, mencari sesuatu yang tidak fana. Menelusuri sekumpulan makna. Lalu mendalaminya dengan sepenuh cinta.

Dari seorang perempuan yang namanya sedang tidak ingin disebut,


14 Desember 2020

Psikodrama Dapat Sangat Berbeda Pada Setiap Kali Praktek, Sebuah Testimoni dari Bandung


Sebuah tanggapan dari teman Psikodrama di Bandung, Iip Fariha, dari tulisan hari ini tentang Sosiometri untuk Membangun Sinergi. Awalnya aku share tulisan ini ke WA nya, dan kami berdialog sebagai berikut:

I : Kamu baik sekali menjelaskan proses dan definisinya. Bagi pemula menjadi lebih terbayang apa yang harus dilakukan.

A: Syukurlah…dapat jelas dimengerti🙏🙏🙏
Lanjutkan membaca “Psikodrama Dapat Sangat Berbeda Pada Setiap Kali Praktek, Sebuah Testimoni dari Bandung”

Testimoni Pengalaman Mengikuti Psikodrama di Medan Maret 2019


Psikodrama sebagai  terapi kelompok, Psikodrama yang saya ketahui salah satu bagian dari teknik terapi yang melibatkan orang lain . Cukup  sampai disitu yang saya ketahui.

Bagaimana menerapkan dalam sesi konseling?

Apakah sulit ?

Apa saja yang dipersiapkan?

Itu membuat saya menjadi penasaran….
Maka saya merealisasikan rasa ingin tahu ini …
Dan semuanya terjawab dalam sesi-sesi pelatihan yang sangat Apik dan menyenangkan.

Dalam Psikodrama bukan hanya “protagonis” yang mendapat manfaat tapi peran pengganti yang lain juga terpapar manfaatnya…

Semoga dapat saya  praktekkan dalam kelompok relawan LLHPB Aisyiyah.

Terimakasih Mas Retmono Adi untuk pengalaman terindah, memberi ruang dan peluang untuk menjadi apa yang kita mau, tanpa kukungan nilai….

        Tubuh lihai meliuk suka-suka
         Rentang jari riang dalam rasa
          Aku menjadi… Aku adalah Aku

#Psikodrama

Medan, 21 Maret 2019

Sri Ngayomi

Testimoni Workshop Psikodrama di Medan : PSYCHODRAMA = EMOTION RELEASE


29 Oktober 2017….

Satu hari setelah saya mengikuti WORKSHOP PSIKODRAMA.

Ada perasaan yang membekas begitu dalam pada diri saya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Awal ketertarikan saya mengikuti workshop ini karena tokoh idola saya (seorang Psikolog bergelar Doktor yang memiliki Biro di Lampung) sudah mengikuti workshop ini lebih dahulu. Dan berdasarkan testimoni beliau bahwa melalui teknik ini kita bisa menjadi “menerima diri” dan “out of the box”.

Oke..sampai pada titik itu saya tahu saya sangat butuh pelatihan ini. Meski ada sedikit kekhawatiran, akankah saya merasa nyaman mengikuti workshop ini karena tidak ada satu teman sejawat yang saya kenal mengikuti workshop tersebut. Yang membulatkan tekad saya untuk ikut karena ada Sekjen HIMPSI SUMUT yang sebelum workshop sudah intens komunikasi via WA dengan saya. Lanjutkan membaca “Testimoni Workshop Psikodrama di Medan : PSYCHODRAMA = EMOTION RELEASE”