Meski Pandemi Covid 19, Selalu Ada Peluang dari Situasi yang Terjadi bagi Seorang Aktor


Dunia adalah Panggung sandiwara, menggunakan drama sebagai alat bantu bukanlah hal baru. Para filsuf Yunani dan Romawi kuno sampai dramawan kontemporer,  telah menggunakan  sebagai cara yang menarik untuk bercermin dan mengeksplorasi kondisi manusia.

Pandemi menjadikan Kondisi Tidak Pasti

Lanjutkan membaca “Meski Pandemi Covid 19, Selalu Ada Peluang dari Situasi yang Terjadi bagi Seorang Aktor”

Penerapan Psikodrama untuk Membawa Spiritualitas ke dalam Lingkungan Kerja


Setiap orang memiliki definisi spiritualitas mereka sendiri, tidak ada peraturan, tidak ada dogma yang harus diikuti. Sebagian besar berhubungan dengan hubungan pribadi dengan apa yang dirasakan setiap orang pada Sang Sumber atau Penciptanya. Ini adalah ruang batin dimana mereka terhubung dengan bimbingan mereka dan aspek tertinggi dan terbaik dari keberadaan mereka. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Membawa Spiritualitas ke dalam Lingkungan Kerja”

WAKTU TERBUANG, WAKTU TERBILANG #Goresanku 146


Hari demi hari berlalu, hampir tidak ada diantara kita yg bisa mengklaim kelebihan waktu. Kita semua terburu-buru di ruang kelas, tempat bermain atau di meja makan keluarga. Bahkan bagi anak sekalipun, hilang kemewahan yg kita rasakan dulu … diajak berbincang dari hati ke hati, dan sekarang  harus dibiarkan melamun menabung mimpi. Lanjutkan membaca “WAKTU TERBUANG, WAKTU TERBILANG #Goresanku 146”

Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online


Pada semesta aku bicara. Pada ruang-ruang sepi, terperangkap dalam ketidakberdayaan diri. Sebetulnya banyak yang bisa dinikmati. Bila saja kita semua diberi kesempatan untuk memahami.

“Akhiri dulu saja pertanyaanmu. Kalau kau terus banyak bertanya, nggak akan ada habisnya. Nggak setiap pertanyaan harus terjawab sekarang,” ujar Pak Didik ditelepon saat sesi belajar psikodrama seminggu yang lalu. Lanjutkan membaca “Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)


Bukankah makna cinta itu luas dan dalam? Tidakkah kau ingat, wahai diriku. Kau sudah mengatakannya di dalam video yang kau buat sendiri. Kau sampaikan disitu bahwa cinta bisa berasal dari siapa saja. Bukankah juga kau sampaikan bahwa cinta adalah tentang belajar mengikhlaskan? Lanjutkan membaca “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Satu)


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Awalnya, rasanya agak canggung.

Aku pribadi memiliki mistrust issue ketika berbicara dengan orang yang usianya jauh di atasku. Aku cenderung skeptis karena pengalaman komunikasiku dengan orang tuaku sendiri tidak cukup baik, seringnya berakhir dengan kesalahpahaman.

Saat aku mulai bercerita, sekelebat munculah perasaan-perasaan di masa lalu seperti diabaikan, disepelekan, disalahkan, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak penting, serta takut bila pada akhirnya apa yang kuceritakan justru mengakibatkan kesalahpahaman tak berujung. Sebab sepanjang aku bercerita, Pak Didik lebih banyak diam. Mungkin karena beliau sedang mencoba mendengarkan, agar dapat memahami akar permasalahanku.

Rasanya juga seperti berbicara dengan orang asing. Meski begitu, aku tetap mencoba percaya. Kepercayaan yang muncul didasari oleh beberapa pertimbangan dan perenungan yang mungkin tidak bisa kuceritakan kepada siapa-siapa bahkan kepada Pak Didik.

Meskipun masih ada sisi-sisi lain dari diriku yang tidak kusampaikan.

Selesai aku bercerita, Pak Didik langsung menuju ke inti. “Jadi permasalahanmu apa?”

Aku menjawab dengan berbelit-belit.

Pak Didik bertanya lagi, “Tadi pertanyaanku apa?”

Aku seperti sedang disidang dosen. Aku bingung.

Pak Didik berkata, “Coba sebutkan satu teori psikologi yang sudah kamu pelajari.”

Aku belum makan siang. Aku gugup. Aku sedang tidak bisa mengingat teori-teori apapun karena rasanya aku baru saja menenggelamkan diri dalam palung kerapuhanku sendiri tapi aku diminta untuk kembali lagi ke daratan. Untungnya ada satu yang paling kuingat, teori kebutuhan Abraham Maslow. Permasalahanku berada di kebutuhan kasih sayang. Kebutuhan yang menurutku masih belum terpenuhi secara maksimal.

Kalau aku masih menuntut orang lain untuk memberikan kasih sayang padaku itu tandanya masih menjadi masalah, tapi kalau aku bisa memberikannya kepada orang lain itu tandanya sudah menjadi value dalam diri. Begitu penjelasan Pak Didik.

“Maukah kau menjadi aktor protagonis yang mencoba memberikan kasih sayangmu kepada orang lain? Ataukah menjadi aktor antagonis yang ingin terus menuntut orang lain untuk memenuhi kebutuhanmu?” tanya Pak Didik.

“Aktor protagonis lah. Capek dan tidak akan ada habisnya kalau hanya berharap kepada orang lain,” pikirku. Tapi apakah aku bisa? Lalu bagaimana caranya jika aku saja tidak pernah merasa betul-betul dicintai oleh siapa-siapa. Bagaimana bisa jika kehadiranku saja sering tidak diharapkan orang lain bahkan mungkin oleh orang tuaku sendiri?

Apakah betul aku tidak pernah dicintai? Ataukah selama ini ada cinta-cinta yang telah kuperoleh tapi tidak kusadari? Tapi mengapa aku sering merasa tidak dicintai?

Bersambung…

Kartasura, 09 Oktober 2020

Qanifara

Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03


Bagaimana cara memperoleh kebahagiaan yang kuingini? Aku belum siap menikah. Aku belum bisa bekerja lagi karena masih perlu menyelesaikan studi. Aku belum siap menghadapi tuntutan, beban, dan tanggung jawab yang besar. Mengurusi diriku saja aku belum becus. Bahkan untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang saja, sepertinya aku belum siap. Belum siap menanggung perihnya tersakiti oleh ekspektasiku sendiri. Lagi dan lagi. Lanjutkan membaca “Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03”

Apakah dengan Menikah ( tidak ) Bisa Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 02


Aku terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang cukup rumit dan bergejolak. Sebagai seorang anak yang sudah cukup hafal dengan segala jenis konflik keluarga dan pernikahan, sejak remaja aku telah terbiasa memandang kehidupan pernikahan sebagai suatu hal yang rumit, berat, dan tentunya tidak mudah. Khususnya sejak ibuku meninggal dunia, kemudian ayahku menikah lagi untuk ketiga kalinya. Lanjutkan membaca “Apakah dengan Menikah ( tidak ) Bisa Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 02”

Sejenak Merenungkan Hidup di Dunia Saat Ini, Demi Kesehatan Mental Kita


Terinspirasi setelah kemarin tanggal 2 Oktober 2020, mengikuti Seminar online SERUM (Seminar Umum) CIRCLES Indonesia.

Topik: “ETIKA POLITIK: MENILIK HAK ASASI MANUSIA”
Pembicara: Rm. Dr. C. B. Kusmarayanto, SCJ (Rohaniwan/Pengajar Etika dan Teologi di Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta. Pokok pesannya adalah menekankan pentingnya Harkat dan Martabat Manusia.

Hari ini aku mendapatkan sebuah link dari group WhatApps, tentang mengapa dunia menuju kehancuran (Why is The World Going to Hell ), aku tertarik dan kuterjemahkan sebagian untuk bahan perenungan demi menjaga kesehatan mental kita. Ya mumpung kita akan memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia.

Mari kita renungkan kutipan di bawah ini.

“Kita hidup di dunia di mana pohon lebih berharga, secara finansial, ketika mati daripada hidup. Dunia tempat dimana ikan paus lebih berharga mati daripada hidup. Selama ekonomi kita bekerja dengan cara itu, dan perusahaan tidak diatur, mereka akan terus menghancurkan pohon, membunuh ikan paus, menambang bumi, dan terus mengeluarkan minyak dari tanah, meskipun kita tahu itu menghancurkan planet dan kita tahu itu akan meninggalkan dunia yang lebih buruk untuk generasi mendatang.

“Ini adalah pemikiran jangka pendek yang didasarkan pada keyakinan untuk mendapatkan keuntungan dengan segala cara. Seolah-olah, secara ajaib, setiap perusahaan yang bertindak demi kepentingannya sendiri akan memberikan hasil terbaik. … Apa yang menakutkan – dan yang mudah-mudahan menjadi sedotan terakhir dan akan membuat kita bangun sebagai manusia beradab tentang betapa cacatnya teori ini sejak semula – adalah melihat bahwa sekarang kita adalah pohonnya, kita adalah ikan paus. Perhatian kita bisa ditambang. Kita lebih menguntungkan bagi perusahaan jika kita menghabiskan waktu menatap layar, melihat iklan, daripada jika kita menghabiskan waktu untuk menjalani hidup dengan cara menikmatinya . ”

Ditambah dengan kutipan ini :

Hal itu terlihat dalam kisah sedih pria yang membantu menciptakan tombol “Suka” untuk Facebook. Dia pikir kreasinya akan membanjiri dunia dengan kehangatan persaudaraan, menyebarkan cinta seperti iklan Coca Cola. Faktanya, hal itu akhirnya memperburuk rasa tidak aman dan kebutuhan kita akan persetujuan sosial, dan secara dramatis meningkatkan angka bunuh diri di kalangan gadis remaja.

GUSTI NYUWUN KAWELASAN

Yogyakarta, 3 Oktober 2020

Retmono Adi

Sumber dari : Why is the World Going to Hell? BY JONATHAN COOK

Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01


“Apakah bahagia itu, apakah ia kebulatan dari segala kecukupan perasaan, ketika memiliki segala-galanya lebih dari orang lain, atau ketika kita tak rela memiliki apa-apa bahkan memberikan kemenangan kepada orang lain, atau di tengah-tengah dalam keseimbangan?” – Uap (hal. 94), Putu Wijaya.

Kutipan itu pertama kali kubaca dalam buku yang kutemukan di perpustakaan, di sela-sela pencarian jati diriku. Hampir sekitar lima tahun yang lalu, tapi aku masih mengingatnya sampai hari ini. Lanjutkan membaca “Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01”