Coretan Lama 40; Agar Aku Lebih Berbahagia


Segala yang ada dalam benak

maupun segala rasa yang tersimpan,

terkadang bagi orang sepertiku

rasanya tidak cukup

bila hanya tersampaikan

secara tertulis saja.

Sebab pada akhirnya,

seperti yang sudah-sudah,

aku hanya butuh bicara.

Pada yang sanggup

menerima baik dan burukku.

Agar tidak salah terima.

Agar aku lebih berbahagia.

 

Kartasura, 1 Juni 2017

Qanifara

Coretan Lama 37; Dialog Fiksi #4 Apa yang Kau Takutkan Lagi ?


Dialog Fiksi #4

A : Apa yang kau takutkan lagi?

B : Aku takut jika aku tidak lagi mempunyai hasrat untuk menjalani hidup. Takut jika aku tidak mau melakukan apa-apa. Kemudian tidak bisa menjadi apa-apa.

A : Setidaknya kau masih diberi kesempatan untuk memilih. Untuk dapat meraih sesuatu yang berarti, selalu dibutuhkan pengorbanan dalam bentuk apapun. Kau boleh menangis sesukamu. Tapi setelah itu kau harus bangkit dan ingat bahwa kau masih punya harapan terhadap dirimu sendiri.

B : Kau benar, tetapi tetap saja aku…

A : Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Upayakan apa yang bisa kau upayakan. Lepaskan segala hal yang menyiksa batinmu. Jangan lupa beri makan jiwamu dengan hal-hal baik. Atau bila kau tidak sanggup lagi, kau bisa datang kepadaku. Tapi ingat, bukan berarti aku benar-benar ada. Kuatkan doamu. Dan ya, segeralah pergi. Kelak kau akan bisa melihat segalanya dengan lebih jernih, tanpa harus ada aku. Jangan tunggu aku. Jangan, sebab aku sendiri belum tahu kapan kira-kira Tuhan akan mengirimkanku di hidupmu. Aku tidak ingin melihatmu kecewa pada penantian yang melelahkan dan serba tak pasti. Entah, akankah aku ada dalam hidupmu atau tidak ada sama sekali. Kini pada saat-saat tertentu, aku hanya sebatas bayanganmu saja. Belum saatnya aku ada. Aku hanyalah aku yang sebatas semu, untukmu, dalam imajimu.

 

Kartasura, 8 Maret 2019 

Qanifara

Selamat, Hari Teater Sedunia


…SELAMAT “ HARI TEATER SEDUNIA“…
Viva La Teater !!!
Salam Budaya!

Pesan untuk Hari Teater Sedunia 27 Maret
ditulis oleh Carlos Celdran, dari Kuba
(digagas oleh International Theatre Institute – UNESCO) Lanjutkan membaca “Selamat, Hari Teater Sedunia”

3 Makna Cinta yang Kita Harapkan sebagai Manusia


Cinta bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Seluruh keberadaan manusia tidak lepas dari cinta. Manusia ada (lahir) karena dan buah dari cinta. Ia menjadi besar dan belajar juga tak lepas dari cinta. Banyak atau sedikit cinta yang dialami oleh seseorang adalah persoalan lain. Yang jelas ialah hidup manusia tidak lepas dari cinta.

Pertanyaan ialah apa itu cinta? Lalu, cinta yang bagaimana yang diharapkan/didambakan oleh manusia?

Dalam bahasa Yunani, ada tiga kata yang digunakan untuk mengungkapkan cinta, yakni: erosphilia dan agapeEros adalah cinta seksual, yang didasarkan pada nafsu/birahi. Di sini, orang lain tidak dipandang sebagai person/subyek melainkan hanya sebagai obyek. Penghargaan terhadap orang lain sebagai pribadi tidak ada. Satu-satunya yang ada ialah nafsu “ego”. Eros merupakan cinta yang terarah kepada orang lain tetapi ditujukan demi kepuasan pribadi orang yang mencintai. Dengan kata lain, cinta ini terarah kepada diri sendiri. Orang lain dilihat bukan karena pribadi melainkan didasarkan pada jenis kelamin semata.

Philia adalah cinta persahabatan. Di sini, cinta bersifat relasional. Orang lain telah dipandang sebagai pribadi yang mempunyai kekhasan/keunikan dan kualitas tersendiri: cantik, lembut, pengertian, dan seterusnya. Cinta philia tidak dibatasi oleh jenis kelamin tetapi terbuka kepada semua, baik pria maupun wanita.

Agape merupakan cinta yang tertinggi. Cinta ini tidak lagi tergantung pada bakat, kualitas-kualitas yang ada di dalam pribadi orang lain (cantik,lembut, ramah, pengertian, dsb); tidak memandang orang lain terbatas sebagai “pribadi yang lain” melainkan melihat orang lain sebagai bagian dari diri sendiri. Gabriel Marcel (seorang filsuf Perancis) membahasakannya dengan ungkapan: “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. Dalam konteks ini, “Aku” melihat diriku di dalam “dirimu” dan “Aku” menemukan “Engkau” di dalam “diriku”. Di sini, cinta agape merupakan cinta yang sanggup menderita dan berkorban (sebab “engkau” adalah bagian dari “aku” atau ”diriku” dan demikian juga sebaliknya). Ia keluar dari “ego” dan terarah serta terbuka kepada yang dicintai. Cinta agape melampaui jenis kelamin, cantik-jelek, kaya-miskin, pintar-bodoh; dan mengatasi segala tembok-tembok pemisah seperti perbedaan agama, suku, budaya, dsb.

Ketiga jenis cinta di atas ada di dalam diri setiap manusia, kendatipun kadarnya berbeda dalam diri masing-masing orang. Ada orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta eros daripada philia dan agape. Ada juga orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta philia atau agape daripada cinta eros.

Tentunya kita tidak mau hanya tinggal pada level eros saja. Manusia memiliki keinginan dan kemampuan untuk meraih sesuatu yang lebih. Usaha untuk melatih diri sangat dibutuhkan untuk sampai pada kedalaman jiwa/hidup. Pemikiran-pemikiran positif tentang orang lain (tidak hanya sekedar cantik, ganteng, jelek, lawan jenis, dll) akan membantu dalam usaha memurnikan eros dan philia sehingga menjadi agape.

Refleksi mendalam tentang nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan pasti sangat membantu untuk melihat orang lain (secara khusus orang yang kita cintai) sebagai bagian dari diri kita sendiri; bukan sebagai obyek pelampiasan nafsu (dalam arti luas). Hal itu akan menjadi kenyataan bila di dalam diri mulai dibangun penghargaan terhadap nilai dan kemurnian diri sendiri; tidak menjadikan diri sendiri sebagai obyek eros (baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri).

Salam penuh cinta buat anda semua….!!!!

Tulisan diatas aku copas dari Cinta: Eros, Philia, dan Agape tulisan Oleh: Frans R. Zai agar tersimpan di sini.

Ada dua peristiwa yang menjadikan aku mencarinya di google mengenai makna cinta ini.

Pertama tadi malam ada teman curhat perihal keinginannya untuk menikah dan sudah ada seorang perempuan yang menanyakan kapan ia akan melamarnya. Namun ia masih belum yakin akan dirinya sendiri.

Kedua, Kotbah Romo saat Misa hari ini tadi, menyebut tentang 3 makna Kasih dalam bahasa Yunani.

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.

Coretan Lama 36; Dialog Fiksi #3 Mengapa Kau Tiba-tiba Menghilang Tanpa Kabar?


Dialog Fiksi #3

“Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar?”

“Karena aku telah menyadari sesuatu.”

“Menyadari apa?”

“Aku tidak akan pernah cukup untukmu.”

“Apa maksudmu?

Aku tidak mengerti.”

“Belum saatnya

kau mengerti dan sangat kumaklumi.

Aku harus pergi sekarang.”

“Apa maksudmu?

Kau akan pergi ke mana?”

“Pergi ke suatu tempat di mana aku bisa merasa diterima sepenuhnya.

Mungkin bagimu aku ini membosankan.

Tidak semua orang bisa menerima kebaikanku, apalagi keburukanku.

Penderitaanku selama ini mungkin akan kau anggap sebagai suatu

hal yang biasa-biasa saja

atau malah kedengarannya bagimu terlalu dramatis

karena kita saat ini berada di fase kehidupan yang berbeda.

Pengalaman emosi kita tak sama.”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksud…”

“Semuanya sudah terlihat jelas dari caramu memandanginya dan memperlakukannya.

Betapa kilaunya cangkang yang ia kenakan.

Tidak seperti cangkangku

yang telah retak

karena terlalu sering terhempas ombak kehidupan

Cangkangku yang kurang memikat

dan membutuhkan banyak perbaikan.”

 

Kartasura, 7 Februari 2019

Qanifara

Coretan Lama 35; Dialog Fiksi #2 Apakah Kau Tahu Hal yang Membuatku Tenang?


Dialog Fiksi #2

“Apakah kau tahu salah satu hal yang membuatku tenang?”

“Apa?”

“Ketika aku sedang tidak jatuh cinta kepada siapa-siapa.”

“Mengapa begitu?”

“Karena bagi orang ringkih sepertiku,

rasanya seperti membawa beban

di pundak dan pikiran.

Sudah terlalu sering aku melebih-lebihkan ekspektasi itu sendiri.

Selebihnya, aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri untuk kesekian kali.”

“Lalu bagaimana jika ada seseorang yang jatuh cinta kepadamu?”

“Aku rasa tidak ada.”

“Kalau ada, bagaimana?”

“Belum.

Belum saatnya.”

 

Kartasura, 6 Februari 2019

Qanifara

Coretan Lama 34; Dialog Fiksi #1 “Aku Tidak Ingin Pulang,”


“Aku tidak ingin pulang,” teriakmu

di kebun binatang

seperti anak kecil

yang sedang kegirangan

berada di toko mainan.

“Kenapa?” tanyaku seolah bingung

padahal aku paham maksudnya.

“Karena saat aku kembali ke tempat tidur,

aku kembali merasa

bahwa ada harapan-harapan

yang tidak bisa terawat dengan baik

khususnya ketika aku memandangi

punggungnya atau menerima pelukannya.

Kami sebetulnya

tak lebih dari sepasang manusia

yang tidak bahagia

tetapi terlalu memaksakan diri

agar terlihat bahagia.

Sering kali

ini membuatku tersiksa.

Katanya dia baik-baik saja.

Aku tidak percaya.

Barangkali dia hanya sibuk

menyangkal perasaannya.

Dia laki-laki

yang cukup baik sebetulnya,

tetapi kini

aku tidak lagi nyaman

bila bersamanya.”

 

Kartasura, 21 Januari 2019

Qanifara

Coretan Lama 33; Fase Kehampaan dan Kepahitan


Fase

Kehampaan dan kepahitan

yang kupelajari

baik dari kehidupan orang lain atau kehidupanku sendiri

sering membuatku merasa

seperti lima belas tahun lebih tua

daripada usiaku

yang sebenarnya.

Pemikiranku

sudah sampai ke mana-mana.

Tapi langkahku

masih jauh.

Masih banyak fase

yang harus kujalani dan lalui.

Yang kutahu,

ada lubang dalam hatiku

yang perlu ditambal,

ada sisi kanak-kanak dalam diriku

yang perlu kubasuh dan kurawat

lukanya.

Agar aku bisa lebih tangguh

menjalani lika-liku kehidupan.

 

Kartasura, 6 Oktober 2018

Qanifara

Coretan Lama 32; Ketenteraman Hati dan Pikiran


Ketenteraman

Setiap orang

mempunyai masing-masing cara

untuk menenteramkan

hati dan pikiran.

Lakukanlah apapun

yang dapat membuat

hati dan pikiranmu

tenteram.

Kalau kau

masih belum mengetahui caranya,

carilah cara itu

terus menerus.

Bila kau

memiliki niat

yang baik dan kuat,

kelak Tuhan

akan memberimu jalan

untuk menemukannya.

 

Kartasura, 29 Agustus 2016

Qanifara